berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Doa yang Terjawab

wisuda mukti 01

September 1997. Akhirnya lulus juga S1, setelah kurleb tiga bulan sebelumnya kok tahu-tahu teman seangkatan ada yang lulus. Si mental petarung panas hati, padahal saat itu lagi KKN di kuliah tempat satunya lagi. Pulang KKN, ngebutlah bikin skripsi. Dan, lulus, A pulak nilainya. Alahmdullillah. Gak sia-sia begadang nulis 3 bulan. Kalau nyicilnya mah dah setahun, tapi ya gitu, gak dirampung-rampungin. Kuliah dengan biaya sendiri di belantara Jakarta, ya begitulah. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Lebay ding. Masih di tempatnya semua kok 

Jamaknya mau lulus, tentu ada upacara wisudaan. Tapi ya gitu dah, memang dari dulu gak terlalu suka sama yang seremonial-seremonial begitu. Niatnya sih nggak pengin datang. Yang penting kan ijasahnya toh, he. Tapi, pas telpon ibu di kampung untuk mengabarkan kelulusan, beliau nanya, “Terus wisudanya kapan?”
“Penginnya sih nggak mau datang ah. Seremonial thok kan Bu, ribet kudu kebaya-an”.
“Kenapa nggak mau ikut? Apa ikut wisuda haram hukumnya?” tanya ibu balik.
Duengg! Waduh kok gitu nanyanya.
“Lho apa Bapak sama Ibu pengin aku ikut wisuda, terus datang ke Jakarta ndampingi?”
“Ya iya lah, mosok ora pengin”.

Oalah. Yasudah akhirnya ndaftar wisuda. Mepet-mepet gitulah sudah mau tutup pendaftarannya. Preman emang 😛 Ini juga ikut wisuda karena penginnya bapak ibu saja, kataku dalam hati.

Tapi, barangkali memang feeling seorang ibu itu tajam ya? Saat H-1 ada gladi resik, kaget bukan kepalang aku karena namaku disebut khusus dan diminta berdiri terpisah. Ternyata, aku terpilih sebagai wisudawan terbaik sefakultas. Welha, untungnya datang. Kalau nggak datang apa nanti aku nggak dimarahi dekanat FKIP malah. Dianggap ngeremehin fakultas gitu. Hue, bisa mateng aku.

Saat itu, prosedur wisuda untuk pertama kalinya dirubah. Para wisudawan nggak maju satu-persatu untuk dipindahkan kuncirnya, tapi mindahin kuncirnya sendiri-sendiri dengan aba-aba dari rektor. Nggak seru sih. Kecuali yang para terbaik per fakultas dan yang cum laude dari S3 dan S2, secara simbolis maju untuk dipindahin kuncirnya.

Esok harinya, kami wisuda di JHCC. Bapak Ibu baru  kuberitahu kalau aku duduk terpisah karena mewakili fakultas. Mereka terkejut dan terlihat bahagia. Alhamdulillah, nggak sia-sia aku mendaftar wisuda. Setidaknya bisa bikin Bapak Ibu cukup berbangga, ihik.

Nah, karena dudukku dikumpulkan terpisah dengan para lulusan S3 & S2 yang cum laude itu, aku merasa termelongo pada mereka. Kagum lah pokoknya. Pada doktor yang cum laude dengan IPK tertinggi, bapak siapa lupa namanya, iseng aku bertanya, “Pak. Gimana caranya bisa doktor dengan cum laude sih?”
Disambut tertawa lebarnya dan teman-temannya, “Apa ya? Belajar aja yang rajin, selanjutnya berdoa. Saya doakan nanti adik juga bisa sampai S3 terus cum laude juga.”
Dengan cepat ucapannya kuaminkan. Memang sekarang baru lulus S1, tapi kan siapa tahu nanti bisa S3? Kata batinku.
Sayangnya, profil bapak itu juga tidak terabadikan. Itulah, gaya preman sih. Jadi juga nggak prepare kamera blas. Padahal kan bisa pinjam ya kalau belum mampu beli 😀

Maret 2004. Wisuda S2, yang diselesaikan dengan terengah-engah. Awal kuliah statusnya single, lulus S2 sudah punya anak dua. Perubahan status ini juga berdampak pada proses adaptasi yang bagiku tidak mudah. Antara idealisme pengin jadi istri dan ibu shalihah, tapi juga pingin segera rampung kuliah. Tapi ya begitulah. Disambi mabok hamil dan ngurus anak dua kali. Banyak istirahat di tempat. Ndilalah si perfeksio ini juga nggak mau bikin thesis yang asal-asalan. Jadilah makin lama, merguru dulu pada teman-teman S3 yang mengambil metodologi sama.

Butuh waktu lama untuk bisa lulus, melebihi waktuku untuk menyelesaikan S1, dengan IPK yang tiga koma alhamdulillah saja (jangan ditiru kalau yang ini). Itu juga terpacu menyelesaikan setelah tahu-tahu jatah beasiswa habis. Dan, yang aku jadi ilfil banget waktu itu, baru saat penyerahan ijasah dan transkrip itulah, aku tahu ternyata nilai thesisku cuma L. Gak ada grade A, B atau apalah. What? Padahal aku merasa sudah jungkir balik bikin thesis yang bagus, untuk mendongkrak nilaiku. Huhu, ternyata oh ternyata. Ya sudahlah. Lulus alhamdulillah kan.
Wisuda S2 ini ya tetep saja gaya preman, gak mau dandan. Yang ada cuma foto dari studio resmi. Kayaknya (tetap) nggak bawa kamera padahal seingatku saat itu sudah punya lah kalau kamera pocket doang mah.

Agustus 2017. Kebayang pusingnya pakai kebaya. Oalah mau sidang terbuka saja sudah kudu berkebaya rupanya. Beli aja di pasar mester, praktis toh. Sarungnya dijahit dulu jadi rok biasa. Kan bahaya kalau pas maju sidang malah ribet mbenerin sarung takut melorot 😛 Terus satu lagi, gak bisa dandan, dan memang nggak punya alat dandan blas kecuali bedak sama lipen 😀 Hingga akhirnya sebelum maju aku diseret oleh salah satu teman kantor, dipantes-pantesin dikit, kata dia. Pasrah dah.
Setelah presentasi disertasiku di hadapan dewan penguji, tiba saatnya pengumuman kelulusan. Alhamdulillah, lulus. Dan alhamdulillah lagi, cum laude, dengan nilai yang cukup membahagiakan.

Jika dikilas balik, ternyata butuh waktu 20 tahun untuk ijabahnya doa dari si bapak doktor cum laude, yang aku ajak bincang-bincang dulu. Terima kasih pak, untuk doamu itu (sayang lupa namanya dan dari mana beliau).

Dari kejadian ini aku belajar: Jangan pernah berhenti bermimpi. Setelah itu, wujudkan mimpi dengan upaya optimal, dan tidak lupakan doa. Bagaimanapun, doa yang tulus bagi pencari ilmu akan diaminkan semesta, dari malaikat hingga makhluk-makhluk kecil di kedalaman lautan.

Mari, wujudkan mimpi, dengan doa dan upaya 🙂

 

Iklan

2 comments on “Doa yang Terjawab

  1. kunudhani
    Agustus 18, 2017

    Kerennya, selamat kak 😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 18, 2017 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: