berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Semeja Sekeluarga 

“Tiap orang itu pasti punya kesan tentang orang lain. Dan sebisa mungkin, kita dikenali oleh orang lain karena kita telah membuat hatinya tenang dan nyaman. Kita mencoba cari tahu apa yang membuat dia senang, dan kita lakukan asal tidak menabrak yang haram,” nasehat seorang pria paruh baya pada anggota keluarganya saat makan bersama. 

Buat seorang koleris melankolis, itu nasehat yang sara makna. Berat ngejalaninnya. Entahlah jika untuk para plegmatis.
“Tapi sebagai orangtua, ya tentu tidak bisa bikin senang anak2nya terus. Namanya orangtua, jika lihat ada sesuatu yg perlu diluruskan ya mestinya pingin nasehatin. Wong nggak ada apa2 juga keinginan utk nasehati anak itu selalu ada. Karena kepikiran tentang tanggung jawabnya sebagai orangtua. Nah kalau paa dinasehati, ya terima aja. Memang begitu tugas orangtua. Insya Allah untuk kebaikan anaknya, ” urainya lebih rinci, kali ini tampaknya untuk putra-putrinya.
“Saudara itu sampai kapan pun akan tetap berhubungan, sampai mati. Tidak seperti dengan teman, ada yang datang dan pergi. Jadi sebisa mungkin jangan sampai ada rasa tak nyaman, takut, iri dan sebagainya yg mengganggu. Sesekali beradu pendapat tak apa, tetapi prinsipnya harus saling melapangkan. Nanti kalau tua, jika ada apa2 itu yg akan bantu ya saudara2 kita, ” bersambung lagi wejangannya.
Lalu lelaki itu mengingat masa kecilnya. Kebersamaan yang terjadi hampir tiap malam di sekeliling meja besar. Seluruh anggota keluarga duduk mengeliliginya. Dengan lampu petromax di tengahnya. Ada yang mengerjakan PR. Ada yang baca majalah. Ada juga yg sibuk menyiapkan tugas karena profesinya guru, sang kepala keluarga. Kegiatan tak harus sama, tapi jelas keakraban terbaca. Kadang juga saling bercanda. 
Perempuan paruh baya di sampingnya, juga mengingat hal yang sama. Meja besar persegi yang menjadi saksi 5-6 anak duduk bersama. Kadang  belajar, kadang mengaji. Yang besar kadang mengajari yang kecil. Di ujung meja, sang bapak sering mengisahkan cerita. Kadang sirah nabi, kadang kisah sendiri jaman penjajahan. Ingat betul ia, sang bapak seorang penutur ulung. Kain serbet bisa menjelma menjadi macam2 binatang atau benda. Pun dengan gerakan jari dan permainan bayangan dari lampu teplok, menjadi semacam wayang kulit binatang yang memesona. Kadang bapak sekedar main tebak2an saja, yang serinh diawali dengan kalimat, “Sopo menga-mengo weruh…..”. Sedang ibu, mondar mandir antara dapur dan meja. Beliau jadi seksi logistik yg sangat sibuk.
Semeja, bersama merajut kebersamaan nan bahagia. Tak terganggu benda kotak, baik tivi, radio, atau hand phone. Semeja, mari mengambil jeda. Gerakan 18-21 itu sejatinya kearifan lokal dari para leluhur kita. Janganlah ia hilang begitu saja, saat hantu teknologi kini begitu banyak mengganggu kita. 
Lelaki paruh baya kini diam. Dia memang tak biasa banyak bicara. Tapi khusus malam itu, dia mempersiapkan diri. Demi keluarga yg dia cintai. Ya, lelaki bulan juli. Yang mendapatkan  amanah 4 orang jadi makmumnya tiap hari. 
*makanmalam 12072017, tanggal khusus untuk lelaki itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 17, 2017 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: