berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Sembunyi Atau Terang-terangan?

Sumber gambar: Fp videoworld (dengan adaptasi)

Sudah lama ingin menulis tentang ini. Ketemu momennya sekarang pas Ramadhan.

Ada beberapa postingan yang mewanti2 supaya kita menyembunyikan amal ibadah yang kita lakukan. Takutnya jadi riya atau pamer, hilang deh pahalanya.

Betul bahwa jika riya niatnya, maka hilang pahalanya. Jadi dosa malah. Tapi, apakah amal ibadah harus disembunyikan? Ini yang ingin saya bahas.

Ternyata, Allah justru tidak melarang lho. Kita mau beramal secara sembunyi2 atau terang2an, keduanya mendapatkan apresiasi dari Allah. Mendapatkan pahala. Itu jelas dasarnya, di Quran. Allah katakan, ‘sirron au alaa niyyatan’ sembunyi atau terang-terangan. Tetap akan mendapatkan ‘ajrun ‘inda robbihim’ pahala dari sisi Rabbmu. Bahkan mendapat penghiburan dari Allah, ‘laa khoufun alaihim, walaa hum yahzanuun’ jangan takut, jangan sedih. Itu semua ada di ayat 274 Al-Baqarah. Nah, kalau Allah yang bicara (lewat Quran), masak kita masih mau mrekeyel?

“Tapi nanti kalau diumumin, entar dikira pamer dong!” Nah kalau urusannya ‘dikira pamer’ itu masalahnya bukan di kita tapi di orang yang mengira pamer. Apa punya kesaktian linuwih sehingga mampu dengan tepat menebak isi hati orang lain? Jika tidak terbukti, maka jatuhnya adalah su’udzon, berprasangka buruk. Jadi malah kena dosa gara2 mengira orang lain pamer padahal belum tentu niatnya seperti itu. Rasulullah saja menegur salah seorang sahabatnya yang membunuh seorang kafir tapi di detik2 terakhirnya mengucapkan kalimah tauhid, “Dia kan cari selamat saja. Jadi tetap aku bunuh”. Rasul menyanggah, ” Apakah kau telah membelah dadanya? Apakah kau yakin tahu isi hatinya?” Nah. Hati-hati berprasangka.

“Ah. Tapi saya milih menghindari posting yang begitu. Bukan takut dikira pamer sih, tapi saya takut jadi riya” Nah, bicara tentang riya, itu adalah amalan hati. Bukan amalan fisik. Jadi yang perlu diperbaiki adalah niatnya, bukan membatalkan amal baiknya. Karena jika dibatalkan, kita melakukan sesuatu karena takut penilaian orang lain, bisa jadi malah kita terjatuh pada perbuatan syirik. Dari tidak mau riya malah kepleset jadi syirik. Naudzubillah. Seperti kata Fudhail Bin Iyadh: “meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya, dan beramal karena manusia termasuk syirik” (Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 23: 174).

Rasulullah sendiri dalam beberapa kasus sering secara jelas menyebutkan amalannya. Lha kalau nggak jelas ada contoh, cilaka tigabelas kita jadi umatnya. Terus mau nyontoh siapa dalam menegakkan sunnah? Kalau gak ada sunnah Nabi, cuma pakai Quran doang, memangnya kita cukup cerdas untuk memahami? Misalnya perintah sholat. Di Quran jelas ‘aqimis sholaah’, tapi tatacaranya suru lihat Nabi , “shollu kamaa roaitumunii usolli” sholatlah kalian sebagaimana aku sholat. 

“Ah, itu kan Nabi. Kita levelnya beda atuh jauh di bawahnya” Ya memang 😀 Tapi beramal secara terang-terangan tetap ada kalanya perlu. Untuk sharing, mendapatkan masukan, atau jadi penyemangat teman yang lain. Yang penting bagi kita, jangan pula semua amalan habis diceritakan sampai tak ada yang tersisa untuk disimpan sendiri. Lebih banyak yang disembunyikan, tapi sekali-kali tak apa menceritakan. Bukan aib kok. Lha kan motivator2 kondang itu, juga cerita-cerita yang langkah2 praktis toh bukan hal yang normatif? Kalau yang normatif, baca buku doang sudah cukup nggak perlu mengundang motivator yang kadang bayarannya sakhohah 😀

Ada juga kok contoh amal ibadah yang memang perlu diumumkan. Apa itu? Antara lain: menikah. Kalau diam-diam saja gak diumumkan, ntar bisa digrebeg hansip lho dikira kumpul kebo 😛 Maka Rasul menganjurkan aqad nikah perlu dilanjutkan dengan walimatul ury meski sederhana. Untuk berbagi kebahagiaan. Dan esensinya adalah untuk pengumuman.

Jangan sampai deh karena ingin menyembunyikan amalan, ntar kayak joke yang itu tuuh. Sudah nikah lagi sekian puluh tahun gak ketahuan sama istri pertamanya. Pas kepergok, lalu buru2 kasih alasan, “Lho aku kan takut riya, jadi ga berani bilang2”. Beuu gak lucu ah 😛

*menulis sambil nungguin dokter gigi lita ngoprek kawat gigi kakak sulung 😀



Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 28, 2017 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.599 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: