berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Berbahagialah dengan Rizki Halalmu :)

Tempo hari waktu saya berdiri menunggu bus di halte gak jauh dari kampus, saya lihat dua orang driver moda onlen. Begitu mereka buka helm, salah satunya membuat saya terperengah. Dia masih memakai masker. Tapi saya merasa kenal. Dan saya pun juga masih memakai masker. Sakin penasaran, saya sampai lamaaa memperhatikan orang tersebut. Dia juga tampaknya begitu, berusaha mengenali saya. Dan mungkin juga merasa kenal siapa saya 😀

Tapi meskipun dia masih bermasker, dari gerak tubuhnya saya yakin. Dia, teman kuliah saya di PPS! Hebat euy, anak pasca nyambi ngojeg.

Tadinya saya bersemangat mau menyapa. Tapi melihat dia tak juga tampak merasa kenal, niat saya urungkan. Saya mikir. Mungkin perjumpaan tak sengaja ini justru tak dikehendakinya. Bukan di kampus. Tapi di jalanan. Dan lagi ngojeg. Saya tak ingin mengusiknya. Padahal saya salut luar biasa sebenarnya. Kemauan untuk terus melanjutkan pendidikan hingga level paling pol, sambil mencari biaya hidup apa saja dari rezeki yg halal. Itu luar biasa! Tapi kalau orangnya tak ingin ketemu dalam kondisi saat itu, saya juga memahami. 

Lalu saya ingat kisah berpuluh tahun lalu, saat mbak saya jadi mahasiswa. Saat dia naik bis AKAP di terminal Umbul Harjo Jogja, sambil menunggu penuhnya penumpang, biasa para pedagang berlalu lalang. Salah satunya menawarkan majalah dan tabloid mingguan. “Nova, mbak”, kata si mas menyebutkan nama tabloid perempuan. Suaranya tak asing bagi mbak saya. Sontak mendongakkan kepala, lalu sama-sama kaget. Dia adalah, sebut saja Mas Ali, yang menjadi sahabat salah satu kakak saya yang lain juga, kuliah di PTN Jogja. Sudah sering main ke rumah, sudah menjadi sahabat keluarga. 

Mas Ali kaget, dan tampak sangat kikuk campur malu. Meminta maaf lalu buru-buru turun dari bis. Tanpa sempat ngobrol panjang dengan mbak. Padahal mbak saya justru salut. Sambil kuliah, masih bisa nyambi dagang majalah. Lho apa salah, ya nggak to. Tapi soal rasa memang tak bisa dihakimi dengan benar salah. Mungkin Mas Ali lebih ingin dikenal sebagai sahabat, mahasiswa, sekaligus petinggi organisasi yg saya pun ikut di dalamnya. 

Saya juga ingat kisah salah seorang ulama salaf. Namanya siapa lupa. Suatu saat dia berbelanja ke pasar. Di salah satu toko, ada perempuan si pemilik toko yg melayani keperluannya. Tiba2 perempuan itu (maaf) kentut dengan keras. Tentu dia panik & malu bukan kepalang. Pasti ulama tersebut mendengar suara kentutnya. Tapi, demi menjaga perasaan perempuan tersebut, si ulama pura2 tuli. Ditanya kelihatan bingung, bolot. Seketika legalah pemilik toko, oh dia tuli. Berarti gak denger aku kentut tadi. 

NB: Gak dibahas soal baunya yaa di kisahnya. Jadi saya juga ga tahu ada bau apa gak 😀

Ulama ini pulang dengan lega. Menghindarkan rasa malu pada si ibu. Namun, dia berpikir lagi. Kalau tiba2 si ibu tahu bahwa dia ternyata tidak tuli & cuma pura2 tuli, tentu akan lebih malu. Sejak itu, ulama itu bertekad untuk pura2 tuli, sepanjang hidupnya hingga wafat! Demi menjaga perasaan 1 orang, si ibu pemilik toko. Masya Allah yaa, kisah yang indah dalam berempati.

Tentu, saya tak seujung kuku pun dengan sang ulama. Apalah saya. Cuma remah rengginang di kaleng khong guan #eh Tapi memori kisah ulama tadi yang mengingatkan saya untuk tidak nekad menyapa teman itu. Padahal sungguh ingin saya katakan, “Aku bangga padamu! Berbahagialah dengan rizki halalmu”.

Iklan

One comment on “Berbahagialah dengan Rizki Halalmu :)

  1. @nurulrahma
    Mei 20, 2017

    Hahahaha, iya mbaaaa ini bener bingits

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 20, 2017 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.599 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: