berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Menangkap Momen

Ramadhan akan datang sebentar lagi. Ada ibu-ibu yang mulai berkeluh kesah. Harga telur dan minyak telah merangkak naik, padahal puasa pun belum dimulai. Apalagi jika lebaran nanti?

Ada juga beberapa muslimah yang menjadikan momentum ini untuk berhijrah. Mulai menjalankan kewajiban menutupi auratnya dengan berhijab. Mulai mau serius belajar Quran. Ada juga yang jauh-jauh hari sudah menargetkan akan khatam berapa kali, dan sudah mulai ‘pemanasan’ dari bulan ini.

Momennya sama, ramadhan. Tapi kembali pada manusianya, ingin menyambutnya dengan keluh kesah, atau menjadi kesempatab untuk memperbanyak ibadah.

Bagi sebagian orang, angka 411 atau 212 mungkin paling enak untuk jadi bahan bullian atau pernyinyiran. Atau paling nggak buat lucu-lucuan. Angka 212 angkanya wiro sableng, bukan?

Ada juga yang menangkap momen seperti ini untuk jualan. Buka lapak dari minuman, makanan, jilbab dan segala macam yang laris diserbu orang. Keberkahan bagi para pedagang.

Bagi sebagian yang lain, angka itu juga bisa beragam. Ada yang karena baca berita di koran tentang 212, terus tumbuh semangatnya untuk mengkaji Islam lebih dalam, agama yang sebenarnya dianutnya sejak lahir, tapi seperti kata kanjeng nabi: agama ini akan dianggap asing bahkan oleh umatnya sendiri.

Ada pemuda yg setelah kejebak macet dan akhirnya nimbrung di aksi 212, mulai berpikir untuk segera menikah dengan cara yang baik. Meninggalkan pacaran, dan minta dikenalkan dengan gadis sesuai kriterianya. Selama ini dia hanya fokus untuk terus mengejar karirnya.

Ada pula yang karena 212, tiba-tiba temannya temannya teman (ring ke 3, saya gak kenal) japri saya mengirim bukti infaq, yang dia kumpulkan dari dia dan keluarganya. Angka akhir dari infaqnya khas, 212. Untuk mengingatkan pada satu hal. Tanpa nama, dan sampai hari ini pun saya tak tahu dia siapa.

Momen yang terjadi sama, 212. Tapi kembali pada manusianya, ingin menangkap momen itu untuk mengambil hikmah, atau justru menghamburkan sumpah serapah.

Momennya sama. Tapi soal sikap, kembali pada manusianya. Selamat menangkap momen yang terserak di sekitar kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 4, 2017 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.599 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: