berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Impian Masa Depan & Saling Menyenangkan

Berbincang tentang rencana melanjutkan studi selepas SMA, bersama ibu2 sebaya. Beragam catatan. Beragam keinginan. Ada anak yang tak ingin kuliah, lebih senang mendalami secara otodidak. Ada yang memang tak mau jadi sarjana, cukup diploma. Ada yang langsung dapat meraih impian, di jurusan dan PT yang diinginkan. Ada yang ingin mengambil kursus bahasa dulu untuk lanjut keluar negeri. Ada juga yang ingin fokus menyelesaikan hafalannya. Sangat beragam.

Tiap anak memiliki impian berbeda. Sepanjang tak melanggar syariat, tak mengapa. Sesuatu yang dijalankan dengan senang dan sesuai keinginan, tentu akan lebih bermakna. Daripada melakukan sesuatu, karena pilihan apalagi paksaan orangtua. 

Orangtua yang mengerti, tentu akan melapangkan jalan bagi anak untuk menggapai citanya. Tak menuntut harus begini dan begitu, kecuali apa yang diperintahkan dan dilarang Tuhannya. Diam dan sedihnya orangtua, akan membuat sulit perjalanan hidup anaknya. Maka hampir tak pernah ada orangtua bisa dendam pada anaknya. Melapangkan dada, memaafkan, karena orangtua tahu, itulah kunci kebahagiaan buat sang permata.

Anak yang berbakti, tentu juga akan mendengar saran orangtuanya. Meskipun orangtuanya bukan produk jaman kini. Yang untuk membedakan istilah antara snmptn dan sbmptn saja lupa dan lupa lagi. Apalagi untuk memahami soal tes masuk perguruan tinggi, tentu cuma geleng kepala. Tapi bukan itu. Saran dan diskusi yang hangat, perbincangan yang tidak memaksakan pendapat. Tetaplah indah untuk dilakukan. Diniatkan untuk menggapai keridhaan Ilahi melalui ridha orangtua. 

Manusia diciptakan ingin menggapai kebahagiaan. Kebahagiaan bisa diraih dengan saling menyenangkan orang lain. Anak ingin menyenangkan hati orangtua. Pun orangtua ingin menyenangkan hati anaknya. Selama masih mendapatkan amanah di bumi berupa anak-anak tercinta, apa pun akan dilakukan orangtua demi kebahagiaan anaknya. Hingga suatu ketika, masa akan mengantarnya pada pertanyaan penutup. Layaknya Nabi Ya’qub bertanya pada anak-anaknya, di sela sakaratul maut, “Maa ta’buduuna min ba’di?” ‘Siapa yang akan kalian sembah, sepeninggalku nanti?’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 28, 2017 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: