berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Melatih Daya Juang Anak

Kadang, meskipun sebenarnya orangtua mampu memberikan fasilitas atau apa pun yang diminta oleh anak-anak, kita memang perlu menahannya untuk tidak mendapatkan dengan instan. 
Memberikan pembelajaran bahwa sesuatu kudu diperoleh dengan usaha dulu, bukan modal minta. “Jer Basuki Mawa Bea”, begitu pepatah jawa menyebutkannya. Supaya anak akan lebih menghargai yang lalu didapatkannya. Karena dia juga ikut merasakan susahnya mendapatkan hal tersebut.

Dalam skala kecil, saya dan suami melatihkan ini pada anak-anak sebisa mungkin. Waktu anak-anak masih SD dulu ingin sepeda, kami tanya berapa uang tabungan yang dia punya. Dan mereka baru bisa membelinya pasca lebaran untuk menggenapkan tabungannya, karena lebaran kan dapat angpaw lumayan ๐Ÿ˜€

Saat jam tangan atau kacamata mereka rusak atau hilang, saya minta kumpulin uang dulu dari jatah jajan sampai bisa beli sendiri. Cari yang sesuai kocek, kacamata cengdem pun silakan. Ayah ibu tak akan membelikan gantinya karena itu bagian dari resiko yang harus kamu tanggung.

Semoga ini bukan berarti kejam. Tapi dalam rangka melatih daya juang.

Ada satu cerita menarik dari putri sulung teman yang kini mengambil studi di Jepang. Kalau dari sisi finansial, keluarga pengusaha ini lebih dari mampu untuk membiayai kuliah anaknya di belahan bumi manapun, dengan biaya sendiri. Tapi sang ibu, yang sudah saya kenal sejak lama, memiliki cara pandang berbeda. Berikut ceritanya di laman sosmed.

๐Ÿƒ

Menapaktilasi kehidupan sehari-hari Athira di perantauan, kami sambangi juga tempat Athira baito (part time job).

Suginoi Hotel, hotel terbesar dengan fasilitas terlengkap di Oita perfecture adalah tempat Athira belajar bekerja paruh waktu sejak datang ke kota ini sampai sekarang. Berawal di bagian restoran cepat saji, loker handuk di bagian onsen, sampai life-rescue di bagian aqua park.

Anak ini tak pernah mengeluh apa pun kepada kami, sampai akhirnya ketika kami bertemu rekan-rekan kerjanya yang rata-rata usianya jauh di atasnya (seusia Eyangnya) barulah mereka bercerita bahwa Athira sungguh tangguh menghadapi berbagai cobaan di tempat kerja, baik itu mengatasi bullying & fitnah senior kerja yang membencinya, mengambil jam lembur pada saat teman-temannya libur, diminta menggantikan jam kerja temannya yang sedang absen, tetap kerja dengan tertatih-tatih ketika kakinya terkilir selama 2 pekan, pulang kerja sampai tengah malam yang kadang shuttle bus dari hotel juga selalu penuh sampai ke kota, belajar / baca buku di ruang istirahat yang hanya seluas kamar mandinya di Indonesia & kadang mengajari baca Qur’an rekan kerjanya yang baru menjadi muallaf di ruang tersebut.

Mendengar kesaksian rekan-rekan kerja Athira, ayahnya langsung menitikkan air mata. Justru saya yang menenangkan ayahnya bahwa insya Allah dia akan menjadi wanita perkasa seperti Eyang Utinya. Selama ini Ayahnya keberatan, selalu mengingatkan saya supaya dia tak usah baito, yang penting konsen kuliah. Tapi saya yang bersikeras bahwa dia harus belajar baito. 

Dan ternyata, ketekunan serta kejujuran & ketegasannya di tempat kerja selama ini membuatnya dipercaya menjadi supervisor di bagian onsen (pemandian air panas yang mewajibkan pengunjungnya bugil, tetapi strictly terpisah laki-laki & perempuan).

Dan sudah beberapa rekan kerjanya yang tertarik dengan ritual ibadah Athira serta tak pernah ada yang menghalanginya lagi ketika dia ingin sholat. 

Saya sempat berfoto dengan ibu berhijab yang adalah muallaf asli Jepang. Ketika berpisah saya mengucapkan “sayonara” beliau malah mengucapkan “ma’assalaamah”. Beliau sudah seperti ibu sendiri bagi Athira, malah sepertinya kelembutannya jauh melebihi ibu kandungnya, saya ๐Ÿ˜€

Saya juga berfoto dengan ibu-ibu jepang tanpa hijab. Dia adalah ibu manager yang kata Athira baiknya luar biasa & bijaksana menghadapi masalah Athira dengan rekan yang mem-bully-nya. Dia & suaminya sedang tertarik belajar Islam dengan Athira. 

Pesan Ayah-Bunda pada Athira di akhir pertemuan: “Tebarlah kebaikan di mana saja kakimu berpijak, Nak. Allah yang akan menilai. Kerasnya hidup yang kau lalui sekarang akan bermanfaat untuk hidupmu di masa sekarang & masa depan. Karena masih banyak manusia seusiamu yang jauh lebih sulit hidupnya…” (*)

Kisah yang menarik dan menggetarkan. Semoga anak-anak kita tumbuh dengan memiliki daya juang tinggi untuk meraih masa depan ๐Ÿ’œ

(*) dikisahkan oleh lulu basmah, seorang ibu muda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 22, 2017 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: