berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Memudahkan Orang yang Berhutang

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Ada hadits yang sangat menarik tentang memberikan kemudahan bagi orang yang berhutang.

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَلَقَّتْ الْمَلَائِكَةُ رُوحَ رَجُلٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُم،ْ فَقَالُوا أَعَمِلْتَ مِنْ الْخَيْرِ شَيْئًا؟ قَالَ لَا، قَالُوا تَذَكَّر،ْ قَالَ كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاس،َ فَآمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُعْسِرَ وَيَتَجَوَّزُوا عَنْ الْمُوسِرِ، قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ تَجَوَّزُوا عَنْهُ (رواه مسلم)

Artinya:
Dari Hudzaifah telah menceritakan kepada mereka, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Ada Malaikat yang bertemu dengan ruh seseorang sebelum kalian, lalu mereka bertanya, ‘Apakah kamu pernah berbuat baik? ‘ Dia menjawab, ‘Tidak.’ Mereka berkata, ‘Cobalah kamu ingat-ingat! ‘ dia menjawab, ‘Memang dulunya saya pernah memberikan piutang kepada orang-orang, lantas saya perintahkan kepada pelayan-pelayan saya agar memberikan tangguh kepada orang yang kesusahan, serta memberikan kelonggaran kepada berkecukupan’. Beliau melanjutkan: “Maka Allah Azza wa jalla berfirman: ‘Berilah kelapangan kepadanya. (HR. Muslim, hadits no. 2917).

Nabi Saw juga bersabda bahwa “Allah Swt juga akan memberikan rahmat kepada seseorang yang memudahkan orang lain ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih hutang”. (HR. Muslim).

Bagaimana cara memudahkan orang dalam berhutang? Ada beberapa cara yang pernah saya tempuh:

  1. Mereskedul jatuh tempo pembayaran hutang, dengan surat perjanjian baru. Tentu dengan komunikasi lebih dulu kira-kira kapan akan sanggup dibayarkan.
  2. Memberikan cara cicilan secara periodik pada yang berhutang, agar memudahkan dia dalam membayar. Cicilan periodik ini bisa bulanan, mingguan dst dengan nilai nominal yang kira-kira pasti mampu. Saya pernah memberikan tawaran cicilan hanya 100k/bulan untuk hutang yang berpuluh juta. Lah, lama dong lunasnya? Tidak mengapa. Iktikad baik untuk mau membayar meski dengan mencicil dalam nominal yang sangat kecil lebih saya hargai daripada ngemplang utang atau ngilang begitu saja orangnya. Bagi yang berhutang, rasa2nya ini juga lebih nyaman di perasaan, karena goodwillnya tetap kelihatan meski lama lunasnya. Menjaga izzah dia, begitulah kira-kira.
  3. Memutihkan sisa hutang yang belum dibayarkan. Ini terutama berlaku bagi mereka yang selama ini sudah kelihatan komitmennya untuk membayar hutang (pernah hingga nyaris 100jeti). Tapi karena tahu kondisi orang tersebut juga sangat sulit, ya sudah ikhlaskan saja sisanya. Ada lho yang sampai jual propertinya untuk bisa bayar hutang. Nah bagi orang2 yang seperti ini, tentu kita respek lah. Segera diomongkan ke dia jika diputihkan biar sama-sama lega. Pernah juga ada teman yang sampai minta didoakan agar segera bisa melunasi sisa hutangnya pada kami, waktu kami mau haji. Huaa jadi meleleh lah hati saya. Ya udah saat itu sepakat sama suami, kalau gitu sisanya putihkan saja.
    Insya Allah, bagi yang punya piutang, dana yang diputihkan akan diganti dengan yang lebih baik. Allah tidak pernah salah hitung kan?

Sedang bagi penghutang, perlu ditegaskan bahwa hutang wajib dibayarkan dan ditunaikan, yang apabila terlalaikan dapat berakibat menjadi penghalang bagi dirinya kelak di yaumil akhir.

Rasulullah Saw bersabda, “Akan diampuni segala dosa-dosa orang yang mati syahid, kecuali hutang2nya.” (HR. Muslim, hadits no. 3498).

Jadi bagi yang berhutang juga harus diingat bahwa ini kewajiban yang bisa tetap terus ditagih meskipun sudah mati. Jika merasa kesulitan, hubungi si pemberi piutang, bicarakan baik-baik untuk meminta tangguh waktu atau dengan sistem cicilan. Kalau berharap diputihkan ya boleh saja, tapi kalau diomongkan ke yang ngutangin itu kayaknya rada kurang ajar juga 😀

Jangan menghindar dan berkelit terus dari si pemberi piutang. Jangan sampai tercetus kalimat dari yang berpiutang, “Susah banget yaa saya tagih di dunia. Kalau gitu saya tagih saja nanti di akherat!”.

Sungguh mulia ajaran agama Islam khususnya terkait dengan aspek muamalah, karena di satu sisi memberikan penghargaan yg mulia terhadap orang yang memberikan kelonggaran terhadap orang yang berhutang, namun di sisi lainnya menganjurkan agar penghutang selalu menunaikan kewajibannya.

*diadaptasi dari kajian majelis manis

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

hutang bayar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 6, 2017 by in agama, keuangan and tagged , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: