berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Antara Pemimpin dan Pelayan

ngepelKeluarga Maksum punya seorang PRT. Usianya tak terlalu tua, juga tak terlalu muda. Gajinya lumayan, standar UMR lah, yang rutin diberikan oleh Pak Maksum tiap awal bulan. Tugasnya ya biasa: nyapu, ngepel. nyuci baju, dan bersih-bersih. Sesekali, Pak Maksum memberi bonus pada PRT nya itu ketika ada esktra kerjaaan. Tapi, entah kenapa, suatu hari, si mbak PRT mengata-ngatai anak bungsu Pak Maksum. Si bungsu memang lincah. Dan umpatan itu dilakukan di depan Pak dan Bu Maksum. Kira-kira apa yang dilakukan Pak Maksum?

PRT, atau pelayan. Jika kita nggak cocok apalagi ada pelanggaran asusila misalnya suka mencuri, suka berkata kasar pada anak, ya kita bisa segera ganti yang lain. Pecat, gampangnya. Kan kita juga yang menggaji. Manusiawi? Iya, ini hubungan ‘bisnis’ biasa. Jika cocok, kita juga bisa memberikan daftar tugas apa yang harus dikerjakan di rumah kita. Tiap rumah mungkin beda aturan. Ada PRT yang spesialis nyuci setrika, ada yang plus masak dan nyapu ngepel, macam-macam. Itu memang tugas pelayan. Statusnya pelayan. Lalu siapa pemimpin di rumah itu? Tentu saja kepala keluarga, biasanya sang bapak. Orang yang memiliki otoritas untuk menggaji, mempertimbangkan kecocokan, hingga mengganti dengan pelayan yang lain jika tidak cocok.

Menjadi pemimpin, lingkup kerjaannya tentu beda dengan pelayan. Tetapi menjadi pemimpin, dia juga harus memiliki spirit melayani. Dalam keluarga, meskipun seorang bapak (pada umumnya) yang mengendalikan kepempimpinan, idealnya adalah jika dia tetap melayani kebutuhan anak dan istrinya, semampunya.

Memilih suami, itu seperti memilih pemimpin. Memilih orang yang kira-kira mampu membawa biduk rumah tangga ini kepada kebaikan. Adakah seorang perempuan yang memilih suami dengan niat agar nanti suaminya itu nanti jadi pelayan yang bertugas nyapu, ngepel, masak, setrika, dll? Jika ada, beneran saya akan takjub seketika!

Jadi, seorang pemimpin seharusnya memang memiliki spirit sebagai seorang pelayan. Melayani orang-orang yang ada di bawah naungannya dengan bijak.
Tetapi, seseorang yang memiliki hak memilih seorang pemimpin semestinya tidak murni melihat yang terpilih sebagai pelayan. Justru lebih terlihat sebagai wakil, yang mewakili urusan kita. Yang secara hukum juga berhak memutuskan urusan kita, meskipun kita awalnya tidak setuju. Misalnya begini. Kita memilih bupati, lalu dia dengan taqdirul-Lah menjadi bupati. Jika spirit yang memilih adalah dia sebagai ‘pelayan’, bisa dong kapan saja kita suruh-suruh pak bupati untuk melakukan ini itu. Termasuk misalnya minta bantuin dia untuk nyapu ngepel. Kan pelayan. Tapi jika itu kita lakukan, paling-paling kita yang akan berhadapan dengan aparat dan diusir karena dianggap gila.

Sebaliknya, pak bupati itu berhak menerbitkan perda ini itu yang mungkin bagi kita terasa berat, tapi sebagai warga akhirnya harus tunduk. Misalnya saja pak Bupati iseng menaikkan biaya PBB jadi tiga kali lipat sebelumnya. Terus pas kita mau bayar, kita ngeyel gak mau bayar karena merasa kenaikannya nggak wajar. Tapi tetap saja kita akan tercatat sebagai warga yang belum bayar PBB. Artinya, aturan itu memaksa kita juga yang sudah memilihnya, untuk ikuti aturan tersebut. Lah, padahal itu yang bikin aturan kan ‘pelayan’ kita. Kok malah kita yang sengsara? Karena ya itulah tadi, dengan kita memilih, kita menyetujui bagi dia untuk mewakili urusan kita. Sebagai wakil. Nggak setuju karena dia kok jadi belagu begitu? Bisa pecat dong. Ya bisa saja, tapi ada mekanismenya. Karena sudah jadi wakil resmi, tentu ada prosedurnya. Nggak bisa main pecat seperti pelayan atau PRT di rumah kita.

Tapi, jika ada pemimpin yang spiritnya seperti pelayan, itu jempolan. Semoga masih ingat kisah Umar bin Khattab yang sebagai khalifah saat itu nekad memanggul karung gandum sendiri untuk diserahkan pada ibu anak beranak yang memasak batu, saking tidak ada makanan yang bisa dimasak. Tapi kita yang memilih pemimpin, spiritnya adalah memilih wakil, bukan pelayan. Lagi pula secara bahasa, memang bukan ‘matching’ nya. Pemimpin lawannya yang dipimpin, atau anak buah. Pelayan lawannya majikan.

Ini kurang lebih sama dengan prinsip persaudaraan. Ukhuwah, bahasa arabnya. Jika hubungannya sudah sangat dekat, maka akan timbul perasaan pada masing-masing, “Uangku, uangmu juga”. Tapi berbahaya kalau prinsip ini dibalik, “Uangmu, uangku juga”. Eh, nyambung gak ya 😀

Pokoknya gitu lah. Ini cuma unek-unek ibu rumah tangga yang pagi-pagi nyari cabe rawit belum dapet-dapet. Jadi kalau logikanya rada acakadul bin semrawut, dimaklumin aja ye 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 28, 2017 by in inspirasi and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: