berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Rautan dan Kita

Rautan mekanik yang dibeli anak-anak kadang mendadak tidak bisa digunakan. Terus akhirnya digudangkan. Awalnya saya berpikir rautan-rautan itu sudah aus. Tapi kalau melihat tampilannya, juga tampilan pisaunya, masih tampak baru tuh. Tak ada karat samsek. Lalu kenapa tak berfungsi ya? Tiap pensil dimasukkan berasa loss aja, pisaunya gak bekerja.

Iseng, lalu saya tepuk-tepuk rautan itu. Keluarlah kawulnya (sampah rautan). Segera saya buang. Saya pikir kawulnya sebatas yang ada di tempatnya itu, di bagian paling bawah. Saya tepuk-tepuk lagi, lah keluar kawul lagi, banyak. Lama-lama saya mikir, jangan-jangan ini yang bikin pisau rautan macet. Terlalu banyak sampah di kumparannya, sehingga dia tidak berputar semestinya. Akhirnya gak cuma saya tepuk-tepuk. Saya congkel-congkel, putar-putar, terus begitu hingga bersih. Teenyata… Banyak banget sampahnya! Padahal tadinya saya pikir sudah bersih karena penadah kawulnya juga kosong.

Setelah yakin gak ada kawul yang tersisa, saya coba ngeraut pensil. Eh, bisa lagi sodara-sodara! 

Semangat deh saya, ngebersihin rautan satunya lagi. Ngecongkel-congkel sampah lagi. Benar, setelah itu pisau rautannya bisa berfungsi lagi dengan baik. 

Sambil manggut-manggut dan girang sudah berhasil jadi tukang servis rautan (eh), saya mikir. Seperti hidup kita juga, barangkali. Kalau dalam diri kita banyak ‘sampah’ dari ucapan maupun perilaku, nasehat sebagus apapun akan sulit untuk diterima dengan lapang. Hati kita menjadi tidak tajam, tidak peka lagi. Sama seperti pisau rautan yang mendadak tumpul karena digumuli sampah kawul. Jadi, benar bahwa ucapan dan perilaku itu akan nyambung dengan hati. 

Tak bisa kita bilang juga, “Oh si A gaya bicaranya memang songong begitu. Tapi dia perilakunya baik. Apalagi hatinya”. Ya nggak lah. Namanya attitude dan moral itu ya paket lengkap. Ya ucapannya, perilakunya, juga hatinya. Kalau dalam Islam, malah ada 3 jenis munafik kan. Yang selama ini kita kenal, mungkin munafik amal. Tapi ada juga munafik lisan, juga munafik hati. Sesuai dengan kriteria keimanan seseorang: diyakini dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam perbuatan. Kudu lengkap, jika gak lengkap jatuhnya ya ke salah satu munafik tadi.

Melihat lagi dua rautan yang kini berdiri gagah, seolah mengingatkan penggal ayat surat muthofifin. “Kalla bal roona ‘ala quluubihim maa kaanu yaksibun”

Ibarat karat, setiap kita melakukan satu maksiat, ada satu titik karat di hati. Itulah ‘ron’. Semakin banyak bermaksiat, semakin tebal karat. Jika sudah berkarat, mungkin bisa diamplas, mungkin tidak. Kadang justru amplasnya yang kalah. Jika karat makin parah, lama-lama patah. Persis seperti rak piring di rumah saya yang salah satu tiang penopangnya patah karena karatan.

Jadi, jangan jadi orang yang suka membuang sampah, di tempat terindah dalam diri kita sendiri: hati. Semoga kita semua dimudahkan.

Iklan

4 comments on “Rautan dan Kita

  1. ismarti
    Februari 8, 2017

    Ayatnya ada yg keliru bu.

  2. tettyhermawati
    Februari 16, 2017

    Inspiring mbak, makasih ya tulisannya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 7, 2017 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: