berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Kita Hanya Akan Dipertemukan dengan Apa yang Kita Cari

Saya fokus pada apa yang baik, yang mampu memupuk keimanan. Apakah ada yg tak baik? Mungkin ada. Meski segelintir. Tapi saya sendiri tak akan mewartakan apa yang saya sendiri tak melihatnya langsung di aksi 212. Saya tak tertarik untuk membahas apakah ada aksi lain yang mencoba menandingi, apakah ada sampah berceceran di sana, dst. Biar saja itu menjadi urusan yang memang datang ke acara tersebut. Saya datang di aksi 212, jadi saya memberikan kesaksian tentang itu.

Saya yakin, kebaikan itu juga akan menular. Menjadi kebaikan yang berantai, sehingga hidup kita juga jauh akan lebih tenang dan nyaman. Salah satu bentuk kebaikanyang saya temui dan lihat sendiri, adalah yang ada di gambar ini. Beberapa peserta aksi menunggu datangnya waktu sholat Jumat, bukan dengan ketawa-ketiwi, tetapi membuka mushaf Qurannya lalu mengaji. Tilawah, dengan target satu juz sehari, tetap berlaku di mana saja. Tidak boleh libur tilawah meskipun ikut aksi. Seharusnya malah bisa lebih banyak tilawah. Tilawah dengan duduk persis menghadap teman, sambil menyaksikan sendiri tak ada satu bunga pun yang rontok karena tangan orang iseng merusaknya. Semuanya saling mengingatkan. “Hati-hati, Pak jalannya. Banyak bunga di sini.”
Pemandangan ini saya temukan jauuuuh dari pusat aksi saat itu,yaitu Monas.Peserta yang sedang tilawah itu saya lihat ada di sekitar Masjid BI,di depan gedung Indosat. Mencukupkan diri untuk mengambil shaf sholat di situ karena sudah tidak memungkinkan maju lagi ke depan. Sudah penuh sesak manusia.

tilawah-aksi

Bagaimana yang tak mengaji saat itu? Tak ada yang berteriak kencang. Jika pun mengobrol, suaranya pelan. Malu kalau tiba-tiba bersuara keras, pasti mendadak banyak kepala yang menengok ke arah kita, dan memandang keheranan.

Saya fokus pada berita yang baik, karena ingin menjadi bagian dari orang baik. Seperti kata Buya Hamka, kita akan mendapatkan ‘teman’ atau kenyataan sesuai dengan apa yang dicari dari hati kita.

Inilah kisah indah dari Buya Hamka itu:
Suatu ketika seorang laki-laki datang menemui Buya Hamka, dengan tergesa-gesa dan menggebu-gebu ia kemudian bercerita.
“Subhanallah Buya,” ujar pria itu. “Sungguh saya tidak menyangka. Ternyata di Mekkah itu ada pelacur, Buya. Kok bisa ya Buya? Ih. Ngeri!”
“Oh ya?”, sahut Buya Hamka. “Saya baru saja dari Los Angeles dan New York, dan masyaAllah, ternyata di sana tidak ada pelacur!” tegas Hamka menimpali.
“Ah, mana mungkin Buya! Di Mekkah saja ada kok. Pasti di Amerika jauh lebih banyak lagi!” lanjut pria itu setengah tak percaya.
“Kita memang hanya akan dipertemukan, dengan apa-apa yang kita cari.” tukas Buya dengan senyum teduhnya.
~~~~~~~

Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaytanaa
Pic:
Menunggu saatnya masuk sholat jumat dengan tilawah Quran. Di sela taman, sambil memastikan tak ada satu pun tanaman atau bunga yang terinjak.
Tetap aksi bela islam untuk tangkap penista Quran
#penjarakanahok
#aksi212

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 5, 2016 by in dakwah, Neguneg and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: