berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Kakimu Bersaksi dalam Aksi

Seorang bapak berhenti sebentar di pinggir jalan. Bersama teman-temanya yang lain. Berangkat dari Bogor pagi-pagi naik kereta commuter, mereka turun di stasiun Gondangdia. Lalu menyambung langkah dengan berjalan kaki beriringan menuju monas. Tak mungkin lagi naik kendaraan meski pun ojeg karena hampir semua ruas jalan dipadati manusia.

Saat dia sibakkan celana panjangnya, Masya Allah, ternyata kaki beliau….buntung! Tak hanya satu kaki, tapi kedua kakinya! Tiba-tiba terasa sesak dada ini. Allahu Rabbi, bagaimana bapak ini kuat berjalan cukup lama dari gondang dia, dengan kruk dan pen penyambung pada kedua kakinya? Namun si Bapak tampak tersenyum bersahaja. Tak mengeluh sedikitpun.

Mendadak jadi merasa belum apa-apanya dibandingkan beliau. Allah, hanya dengan satu ayat-Nya, telah mampu menggerakkan semua orang yang terusik hati nuraninya. Yang kaya dan yang miskin. Yang muda dan yang tua. Yang dari pelosok desa maupun tengah kota. Yang tubuhnya sempurna dan yang cacat. Yang direktur dan yang pedagang kaki lima. Semua membaur jadi satu, tanpa sekat.

Pak, sungguh aku malu. Tekadmu yang kuat menuju tempat aksi ini meski harus bersusah payah, mengingatkanku akan kisah Abu Thalhah di masa tuanya. Saat masa pemerintahan Utsman dan ada seruan untuk berjihad, beliau yang sudah sepuh tetap bersemangat. Hingga kedua putranya yang gagah melarang, khawatir dengan kesehatan ayahanda. Namun Abu Thalhah bersikukuh, “Bukankah Allah telah berfirman: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS At-Taubah: 41). Firman Allah itu memerintahkan kita semua, baik tua maupun muda. Allah tidak membatasi usia kita untuk berperang.”
Lalu dia pun berangkat, dan syahid di tengah lautan.

Pak, kisahmu juga mengingatkanku tentang perang tabuk melawan imperium Romawi. Saat awalnya ada rasa enggan dari para sahabat Nabi untuk ikut berjihad, karena jaraknya yang jauh, masa paceklik, dan cuaca sangat panas. Kondisi sangat sulit yang menyebabkan banyak kaum muslimin meminta izin kepada Nabi untuk tidak ikut berperang dengan berbagai alasan. Hingga pada masa itu pasukan yang berangkat disebut dengan jaisyul ‘usrah, pasukan dalam masa kesulitan.
Kini, di depanku duduk seorang bapak, dengan kondisi tubuh yang tak utuh lagi, namun dia tetap menguatkan dirinya untuk datang, bagaimanapun caranya. Engkau Pak, salah satu bukti tentang orang yang berhasil melewati kesulitan itu, kini.

Aku iri padamu. Dengan tubuh utuhku, sempurna tanpa cacat ini. Dengan kemudahanku, tak harus jauh-jauh datang ke tempat ini. Ternyata belum ada apa-apanya dibanding apa yang telah kau lakukan. Ternyata masih sering aku kalah dengan keraguanku dan kemalasanku sendiri.
Barakallahu lakum, Pak. Ijinkan aku belajar tentang kekuatan tekad darimu 😥

*seperti yang diceritakan teman saya, al-ukht Lusi*

#Aksi212

buntung

Iklan

4 comments on “Kakimu Bersaksi dalam Aksi

  1. Rokhis Khomarudin
    Desember 5, 2016

    Subhanallah,
    Mas Maskuri ada dalam tulisan ini. Beliau memang pejuang yang hebat. Insya Allah ada dibarisan surganya.

  2. Dewitya
    Desember 6, 2016

    ya ampuunn, sukses mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 4, 2016 by in dakwah, inspirasi and tagged , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: