berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Mengapa Pilih As-Syifa Boarding School

Tulisan ini saya buat karena banyak yang minta, Daripada bulak balik inbox, ya sudahlah dibuat tulisan aja ya. Saya menulis di sini cuma semacam testi. Bukan untuk membanding-bandingkan dengan sekolah atau boarding lain. Ini murni apa yang saya alami dan rasakan saja, setelah hampir 6 tahun ini menjadi wali murid 2 gadis kami yang menuntut ilmu di as-syifa.Begini testi saya:

1. Asbos dari sisi sarpras sangat oke, nggak match dibandingkan dengan biaya masuk & SPP tiap bulannya. Mungkin karena untuk sarprasnya ditanggung para donatur, salah satunya yang terhimpun di qatar charity. Jadi SPP anak-anak untuk biaya operasional saja. Bayangkan cuma 1 juta sekian sudah semuanya, ya belajar, tahfidz, catering, laundry, nginap. Lebih murah dari ngekos kan 😀

2. Guru-gurunya banyak berasal dari lulusan LPTK (kebanyakan dari UPI, mungkin karena dekat lokasinya). Buat saya yang berkecimpung di dunia pendidikan, ini penting. Karena mendidik itu bukan hanya transfer ilmu, tapi juga perlu metode yang pas. Nah mereka yang sudah membekali dirinya dengan ilmu mendidik tentu beda approach nya dengan yang tidak. Implikasinya, saya lihat reward & punishment yang diterapkan di as-syifa sangat humanis dan kreatif. Reward nya sering banget, karena itu lebih utama. Macam-macam lah yang direwardkan yang untuk kalanngan internal. Terrajin bangun pagi, kamar terbersih, terbanyak hafalan, terkompak, mutarabbi terbaik, teraktif, terbanyak puasa sunah, terbanyak tilawah, terramah, terpeduli, …. Banyak dah. Belum reward karena prestasi ikut lomba di luar. Sedang punishment benar-benar dipilih yang memang pantas dihukum. Itupun dengan bentuk hukuman yang mendidik (teori ganti rugi), bukan hukuman fisik. Jadi gak ada itu hukuman digunduli, dijemur, dsb yang saya lihat masih ada diterapkan di boarding lain. Hukuman di asbos misalnya: bersihin kulkas, jadi petugas pemungut sampah (dengan diberi seragam orange), peningkatan ibadah (misal puasa sunah atau QL), infaq keterlambatan (bagi orangtua), berbuat kebaikan pada guru, dan sebagainya.

3. Komunikasi antara pihak asbos dan orangtua cukup intens. Sejak belum ada whats app orangtua dimudahkan dengan adanya mailing list. Sekarang ada WA lebih mudah lagi. Ada grup asrama, ada grup kelas, ada juga grup umum. Semua yang berkepentingan hingga kepsek dan kepala asrama ada dalam grup tersebut jadi kita bisa saling berbagi informasi. Komunikasi dengan anak2 juga mudah. Setiap kamar (isi max 12 anak) mendapatkan jatah 1 hape kamar (tapi disimpan di bunda) dan sepekan sekali ada jatah menelpon ke orangtua. Itu yang untuk secara umum, jadwal resminya. Tapi dalam kondisi mendesak misal ada anggota keluarga meninggal atau anak sakit dll, orangtua mudah menghubungi wali asramanya untuk langsung berkomunikasi dengan anak. Darurat lah. Jadi tidak saklek.

Ohya hape kamar yang digunakan sengaja dipilih hape jaduldul yang hanya bisa sms dan telpon. Ini untuk meminimalisir penyalahgunaan oleh anak2 di jaman IT ini. Tapi kalau hape walas (wali asrama, bunda/ayah yang ditugaskan menjadi PJ kamar), biasanya minimal ada WA nya. Jadi bisa saja saling berkirim gambar. Di grup umum, para walas akan rajin mengirimkan gambar kegiatan anak2. Kadang para ibu juga pada heboh mencari gambar anaknya masing2 dan akan request kalau anaknya belum kelihatan 😀 Tentu ini juga bukan kewajiban pokok para walas, hanya obat kangen buat ortunya saja.

4. Sebulan sekali ada jatah ‘pesiar’, yaitu sejak sabtu siang pulang sekolah hingga ahad sore anak boleh diambil keluar oleh orangtua atau walinya. Kebijakan ini bagus menurut saya, agar bonding ortu-anak tetap terjaga. Akan beda nuansanya kalau sekedar ditengok di asrama. Untuk jadwal nengok, anytime. Mau sepekan sekali juga boleh, asal tidak mengganggu kegiatan anak2 di akhir pekan jika ada. Menengok di hari biasa pun tak apa, tapi padatnya jadwal anak2 membuat pertemuan jadi sangat singkat. Kalau buat saya jadi kurang match gitu sama waktu dan jarak tempuh jika menengok di hari kerja.

5. Disediakan travel dari asbos untuk area jabodetabek bandung jika pas jadwal pesiar orangtuanya tidak bisa mengantar jemput. Travel ini ditemani langsung dengan para walas hingga serah terima anak pada ortu di beberapa meeting point yang telah ditetapkan. Ini sangat memudahkan ortu yang pada jadwal pesiar justru ada acara lain.

6. Walas dipilih dari muslim/ah shalih/ah yang menyukai pendidikan. Setiap kamar diasuh 1 walas dan walas untuk putri diutamakan belum menikah. Pertimbangannya supaya mereka bisa all out ngurus anak2. Kalau sudah menikah tentu malam hari akan rempong ngurus keluarganya. Nah para walas ini benar2 menjadi pengganti ibu, termasuk yang akan menemani jika anak2 butuh belanja di mall, ke dokter khusus (poliklinik sudah ada di asbos), dll. Biasanya tiap walas akan kreatif membuat acara bagi anak2 kamarnya di akhir pekan atau malam supaya anak2 nggak bete. Kadang diajak fun cooking malam2 sekedar bikin seblak atau nasgor, atau diajak berenang bareng, hiking, atau mabit ke DT Bandung. Macam2 lah dan saya respek dengan kreativitas mereka.

Ohya untuk walas ini sebagian besar juga adalah para hafidz/hafidzah lulusan LTQ As-Syifa yang masa pendidikannya dibiayai full oleh yayasan as-syifa. Nah setelah lulus mereka ada kewajiban mengabdi di yayasan dengan menjadi walas ini. Kalau nggak salah untuk 2 tahun. Cmiiw. Yang jelas karena walasnya juga adalah bunda/ayah tahfidznya, memotivasi anak2 dalam hal adab & hafalan menjadi lebih mudah.

6. Guru dan walas fokus pada mendidik dan mengajar, karena rumah dinas sudah disediakan. Bahkan dari yayasan pun sudah menyiapkan rumah SHM sebagai bentuk reward jika mereka pensiun nanti, melalui program guru emas, bekerjasama dengan orangtua melalui komitmen dana sejak awal anak kita masuk asipa. Ini membuat guru juga diharapkan akan lebih nyaman dan tidak was-was. Saya sendiri sangat mendukung program ini. Ibaratnya kalau untuk guru kita perlu berikam apresiasi lah untuk pengabdian mereka. Biar ilmu yang didapat anak2 juga berkah 🙂

7. Aspek hafalan gimana? Untuk hafalan target secara umum hingga lulus SMA memang tidak sampai 30 juz. Saya lupa pastinya. Kalau tidak salah untuk SMP target 5 juz, SMA 10 juz. Tapi bagi yang memenuhi syarat, ada program takhasus, kelompok yang memang ditargetkan hafal 30 juz saat lulus SMA nanti. Yang jelas, jadwal hafalan ada setiap hari. Ada yang pagi sebelum sekolah, ada juga yang sore atau malam. Selama ini sudah banyak santri hafidzah 30 juz dan diterima nontes di beberapa PTN dengan hafalannya tersebut. Antara lain di FK UNS.

8. Aspek akademis dan agamanya saya rasa cukup berimbang. Anak2 disediakan berbagai wadah kegiatan excul sesuai minat, hingga dilombakan di berbagai even. Anak saya sendiri berbeda minatnya. Hurin, si sulung, di SMA ini ikut olimpiade geografi hingga menang sekabupaten, saman dance, serta sekum BEM karena dia suka berorganisasi. Adnin adiknya lebih suka math, belum lama menjadi juara 5 besar nasional olimpiade math, dan basket. Banyak lagi sih exculnya silakan lihat di web nya. Semuanya dibina di asbos dan ada PJ nya masing2 dari pihak guru.

Nah aspek agamanya juga insya Allah memadai. Yang jelas, terbentuk karakternya untuk tahu batasan mana yang boleh dan tidak boleh dalam Islam. Ada nggak yang bandel? Ya ada aja sih. Yang sampai dikeluarkan juga ada jika terjadi pelanggaran berat. Salah satu pelanggaran berat adalah ketahuan pacaran antar santri 😀

Untuk masalah ini memang ortu juga kudu kompak dengan aturan yg ada di asbos. Kalau nggak kompak nanti kasihan anaknya yang bingung.

9. Ada pilihan untuk kegiatan libur panjang, yaitu karantina Quran dan english camp di Pare atau Malang. Ini untuk mengantisipasi supaya anak tidak banyak bengong jika liburnya kelamaan. Namun kegiatan ini juga tidak wajib karena dananya juga cukup besar.

10. Sebelum memutuskan, lebih baik anak diajak survey dulu di beberapa ‘kandidat’ boarding. Asbos bagi anak2 saya itu adalah hasil survey kami ke beberapa tempat. Waktu itu kami selain as-syifa juga jalan2 ke al-kahfi, NF anyer, NF lembang, DQM, dan azhari. Nah pilihan anak2 jatuh ke as-syifa. Ini bukan soal baik buruk ya, semata pilihan anak aja. Saya mencoba memberikan pilihan juga supaya mereka merasa dilibatkan, bukan ‘keputusan’ orangtua. Nah, untungnya sih keterima dua2nya. Karena persaingan untuk bisa diterima di asbos memang cukup ketat. Kalau tidak salah 1:6. Tapi semoga dengan bertambahnya lokal, yang diterima makin banyak. Waktu  saya masukin anak2 ke SMP hanya terima 4 kelas, SMA hanya 2 kelas. Artinya yang lulusan SMP asbos pun tetap harua berjuang agar dterima di SMA nya, nggak otomatis nyambung. Dan waktu itu banyak yang nggak keterima di SMA nya karena dari 4 kelas menjadi 2 kelas. Dududu.

Ohya kenapa kok kami nggak survey ke yang lain misal di jateng atau jatim? Simpel saja, kami merasa kejauhan waktu itu 😀  Takutnya tiba2 kangen atau anak sakit, repot  jenguk atau ngambilnya. Sesimpel itu sih. Sama ya itu tadi, pola didaktiknya kalau yang terlalu ketat, tampaknya nggak cocok buat anak2 saya yang maunya rada2 nyantai. Sekali lagi bukan berarti buruk lho ya. Ini masalah ‘selera’. Anak2 tidak mau yang nuansa ‘pesantren’ nya terlalu kental. Mereka lebih memilih yang milieu nya masih seperti sekolah biasa tapi berasrama. Kira-kira begitu.

11. Di asbos juga tersedia kantin yang cukup beragam makanannya. Anak-anak diberikan jatah uang saku 100k tiap pekan yang bisa diambil setiap Senin. Jika ada kebutuhan lain yang mendesak, biasanya anak akan sms meminta orangtua untuk konfirmasi pengambilan uang (jumlah dan keperluan) ke bag. Keuangan. Selain itu juga ada syifa mart, untuk kebutuhan sehari-hari. Mesin ATM bank muamalat ada, tapi anak2 dilarang bawa kartu atm. Bisa bobol nanti tak terkendali jajannya 😀

Sementara segini dulu ya semoga bermanfaat buat bapak ibu yang lagi cari2 sekolah (SMP/SMA) buat putra putrinya.

Iklan

2 comments on “Mengapa Pilih As-Syifa Boarding School

  1. Aprilina Prastari
    November 22, 2016

    Iya Buuu. Hal2 itu juga yg bikin saya jatuh cinta dan bersyukur ananda sekolah di Asbosch. Alhamdulillah 😃

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 22, 2016 by in parenting, pendidikan anak and tagged , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: