berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Kepantasan & Nafsu dalam Berpakaian

Indahnya agama Islam, dia mengajarkan yang pertengahan. Sesuai dengan kepantasan. Misalnya dalam urusan mahar (mas kawin) pun, uang 1-2 juta mungkin sudah cukup untuk muslimah biasa (macam saya). Tapi jadi kurang pantas untuk muslimah putri seorang pejabat negara, misalnya. 
Juga dalam hal tampilan. Perlu melihat kepantasan. Menyesuaikan ‘urf atau kebiasaan setempat, asal sesuai syariat. Kondangan misalnya, yo ra pantes pakai sendal jepit dan celana sedikit di bawah lutut, meski secara syar’i tidak haram. Sepantasnya lah. Tidak terlalu berlebihan juga atau menor, hingga perhiasannya seperti toko emas berjalan. 

Sepantasnya saja. Itulah wasathiyah, pertengahan. Tidak juga harus yang kelihatan baru, tapi cukup nyaman dilihat orang. Justru di satu sisi kita juga harus mampu mengerem annafsul libaas (nafsu pada sandang). Bawaannya lapar mata melulu kalau ada produk sandang yang cakep baik dari pajangan yang oflen maupun onlen. Padahal di rumah yang namanya baju sudah selemari lebih. Janganlah kalau begini.

Tapi jika tak mengindahkan kepantasan, bisa jadi kita akan jadi pusat perhatian dan pembicaraan (dalam arti kurang baik) atau mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan. Ada dua kisah menarik, yang dialami oleh seseorang, karena lupa soal kepantasan ini.

Kisah pertama. Seorang suami mengantarkan istrinya ke toko perabot rumah tangga. Karena merasa cuma mau nganter, dia pakai kaos oblong lumayan lawas dan celana panjang yang juga kelihatan sudah mbladus warnanya. Saat istrinya sedang asyik milih-milih barang, tiba-tiba ada seorang ibu paruh baya yang mencolek lelaki tersebut dan berkata sambil mengacungkan telunjuk ke deretan rak tinggi, “Mas, ambilkan oven yang itu dong! Saya pengin lihat dalamnya.”

Waduh. Kok malah dikira pelayan toko! Buru-buru istrinya  menggamit lengan lelaki itu dan berkata, “Maaf bu. Ini suami saya”.

Kisah kedua. Seorang gadis muslimah yang sedang berada di negeri jiran, ingin bepergian sebentar membeli sesuatu di toko terdekat. Untuk mempersingkat waktu, dia naik bis. Karena buru-buru, dia menggunakan jilbab instan (bergo) yang ada saja, yang ada di balik pintu. Yang penting menutup aurat, pikirnya. Di bis, dia duduk bersebelahan dengan seorang ibu yang dari tampilannya asli melayu. Tampak berdandan rapi. Si ibu tersenyum manis dan bertanya pada si gadis, “Majikannya orang mana?” @#&%$#@

Huaa dikira tekawe! Apes bener kan rasanya?

Iklan

6 comments on “Kepantasan & Nafsu dalam Berpakaian

  1. jampang
    Oktober 27, 2016

    sudah berpakaian rapi, masih aja ada yang salah sangka.
    misal, ada teman yang hari senin pergi ke toko buku mau beli buku. ternyata dianggap pegawai toko buku karena pakaiannya sama dengan seragam pegawai toko buku 😀

  2. rita dewi
    Oktober 27, 2016

    Bapak saya juga pernah. Waktu itu sedang berkebun di pekarangan rumah. Namanya mau berkebun ya cm pk oblong dan training sj. Eh ada sales atau apa gitu nanya ke bapak saya: pak… majikannya di rmh gak? Welhadalah…
    😁😂

  3. Qiqiqiqiqiq… Numpang ngikik ya mbaaaaa 🙂 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 27, 2016 by in Neguneg and tagged , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: