berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

LDR & Daycare: Antara Idealita & Realita

img_20150921_120131

Betul bahwa pasutri yang baik itu sehari-harinya serumah dengan pasangannya. Itu kondisi ideal. Tapi ada juga yang (terpaksa) harus menjalani LDR. Dengan berbagai alasan, terutama masalah ‘penugasan kerja suami’, atau tugas belajar. Ada yang lalu jadi komunitas PJKA (pulang jumat kembali ahad), ada yang sebulan sekali, ada juga yang lebih dari itu. Itu realita. Apakah tak baik? Nggak juga. Sejak dulu, jaman Umar terutama, pasukan Islam meninggalkan istrinya untuk sekian lama di medan jihad. Empat bulan, jadwal perputaran pasukan tersebut. Jadwal yang ditentukan setelah Umar bertanya pada Hafshah putrinya. Apakah kita berani mengatakan kebijakan Umar itu tak baik? 

Ada pula kisah nabi kekasih Allah, Ibrahim AS yang berpisah beberapa tahun dengan istrinya Hajar, untuk berdakwah di negeri lain. Bahkan saat Hajar baru saja melahirkan bayi merahnya, di negeri tandus tak berpenghuni pula. Itu LDR juga kan ya namanya? Jadi ingat status teman tentang ini: “Kalau Ibrahim hidup di era medsos seperti saat ini, pasti sudah habis dibully. Laki-laki gila, ninggalin istri baru melahirkan di daerah gersang sendirian, gak ngasih bekal pula. Terus pas balik malah nyembelih anaknya” *tutup muka* Dalam riwayat yang pernah saya baca, memang Ibrahim lalu memiliki 4 istri di 4 negara berbeda. Jadi bukan hanya Sarah dan Hajar. Tapi saya lupa namanya siapa saja dan di negara mana saja.

Berkualitas atau tidak LDR yang dijalani, lalu tergantung pola. Komunikasi, terutama. Samara atau tidak, pasangan tersebut yang (mestinya) tahu harus bagaimana menyiasatinya. Karena juga tak ada jaminan, bahwa yang hidup serumah sekamar akan selalu ayem tentrem bersama pasangan hidupnya. Yang tak baik adalah justru merasa nyaman saat LDR, atau malah mencari-cari kesempatan untuk LDR.

Betul bahwa anak-anak kita, paling baik dididik oleh ibundanya sendiri. Itu idealita. Namun ada juga ibu bekerja. Itu realita. Apakah harus selalu membawa anaknya kemana pun dia berada? Lalu banyak ibu-ibu yang memilih cara lain. Ada yang menitipkan anaknya kepada asisten yang dipercaya. Ada yang menitipkan anaknya untuk sementara di daycare. Ada yang lalu memilih full day school atau boarding school, juga karena ada harapan-harapan lain selaku orangtua. Apakah itu tak baik? Sedang Imam Syafii kecil telah belajar di kuttab (sekolah) lalu belajar pada Imam Malik sejak dia belia. Imam Bukhari belajar baca tulis di kuttab sejak kurang dari 10 tahun.

Saya pun memiliki daycare, untuk memfasilitasi teman-teman muslimah yang galau jika harus bepergian tanpa bisa membawa anaknya. Apakah itu tak baik? Tentang ini sudah saya bahas cukup banyak di artikel ibu bekerja bukan vs ibu rumah tangga.
Semuanya kembali pada kita, ayah dan ibu anak-anak tersebut. Melalui sinergi dengam pihak-pihak lain yang terpercaya, ada beberapa hal yang masih bisa kita lakukan untuk mendidik anak-anak kita. Yang tidak baik adalah jika justru tak pernah rindu dengan anak, jika kita justru merasa nyaman saat tak dikerubutin anak-anak.

Dalam berkeluarga, banyak sekali realita yang harus dihadapi. Ingin yang ideal temtu saja boleh. Tapi marilah kita down to earth. Tak usah merasa sebagai pasutri atau orangtua yang kurang beruntung saat kondisi ideal tak kita temukan. Hadapi masalah yang memang ada di depan kita. Akan halnya ada orang lain yang bisa mendapatkan kondisi ideal, itu takdirnya. Kita bertanggung jawab menyelesaikan takdir yang kita hadapi, bukan menghadapi takdir orang lain 🙂

@Erkaka, menjelang rehat siang.
*Sedikit support untuk teman2 saya, khususnya yang di kementerian keuangan

Iklan

8 comments on “LDR & Daycare: Antara Idealita & Realita

  1. Ika Hardiyan Aksari
    Oktober 20, 2016

    Yeah, dan aku bersyukur Mbak diberi kesempatan sama Allah untuk tidak LDR sama suami. Aku selalu ikutam prihatin kalau ada yg LDR, tapi apa daya semua sudah jadi garis takdir dan pilihan yg menjalani.

  2. samrotullsami
    Oktober 20, 2016

    Saya menikah baru 1bln, dan kami LDR an kak. Memang untuk ke depannya kami ada rencana untuk menyelesaikan itu. Alhamdulillah sampai saat ini kami berdua menjalani LDR an dengan rasa ttp bersyukur. Kami hy kenal 3 bln an dan memutuskan untuk menikah. Dan setelah menikah. Rasanya suami tampak jauh lebih terlihat mencintai saya.

    • muktiberbagi
      Oktober 20, 2016

      Alhamdulillah, kok mirip sama saya nih. 1 bulan msih LDRan tp 1 kota. Karena rumahnya belum bisa dimasukin aja sih waktu itu 😀

  3. Hairi Yanti
    Oktober 20, 2016

    Saya juga pelaku LDR, Mbak. Kadang-kadang sih kalau suami lagi dinas di offshore 😀
    Jadiii… Saya pahaaam bagaimana beratnya LDR dan gemes kalau ada yang nyinyir sama pelaku LDR. Hehehe..

  4. Melya
    Oktober 21, 2016

    Salut untuk pelaku LDR dan bisa tetap menjaga pernikahannya dengan baik. Alhamdulillah bersyukur dikasih rezeki sama Allah ga pake LDR. Ditinggal 3-4 hari aja rasanya syepiii..

    • muktiberbagi
      Oktober 21, 2016

      Iya mbak. Makanya kita perlu empati pada LDR’ers

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 20, 2016 by in pendidikan anak, samara and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: