berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Bahasa, Emosi, & Kebuntuan Komunikasi

Penggunaan bahasa tampaknya bisa memengaruhi sikap penuturnya. Bayangkan jika seseorang terbiasa menggunakan bahasa tertata rapi seperti jawa krama inggil. Lalu dia dalam kondisi sangat marah, apa kira-kira yang akan terlontar dari lisannya? Sumpah serapah? Caci maki? Nggak ada kosa katanya tuh di krama inggil. Paling-paling kepepetnya diam seribu bahasa. Atau malah nembang? 😀

Untuk itulah, jaman masih gadis saya pernah punya cita-cita. Kalau dapat suami orang jawa, saya ingin berkomunikasi dengan bahasa krama inggil saja. Bukan apa-apa. Ini kaitannya dengan pengendalian emosi. Saya menyadari saya tipe yang kadang tempernya tinggi. Nah, daripada ketrucut ngomong kasar ke suami, lebih aman direm dari awal dengan bahasa krama inggil untuk komunikasi sehari-hari. Kualat ah Saya merasa sangat tak elok berkata tinggi pada suami, hatta saat emosi marah menyapa diri.

Lalu takdir membawa saya menikah dengan lelaki jawa, ndilalahnya pernah sekelas lagi. Waduh, gawat ini kalau lagi ‘lupa’ bahwa sekarang beliau suami, bukan cuma teman sekelas lagi 😐

Tapi, saat proposal jenis bahasa ini saya ajukan, ternyata disambut dengan terbahak, “Ndak usah lah. Entar kita jadi kayak main kethoprak”. Welha, kok ditolak. Ya sudah mau bagaimana lagi 😀

Lalu apa cara supaya saya tetap tidak ketrucut lisannya? Paling banter ya nangis. Abis nangis dibelikan es krim. Eh salah. Abis nangis ngajak berbincang-bincang dan bilang, “Saya tak nyaman jika blablabla…”. Saling menyimak lalu berdamai lagi.

Alhamdulillah, saya rasa temper saya sudah jauh berkurang daripada jaman gadis dulu, karena sudah dielus-elus bertahun-tahun oleh orang plegma sejati itu 😀

Kendati begitu, ada saatnya juga saya ‘korslet’. Tipe dominannya kumat. Pengatur. Hingga kadang diprotes anak-anak. Apalagi saat mereka beranjak remaja, saat hatinya juga mulai makin peka, pun mampu mengungkapkan rasa dengan lebih nyata. Protes pada ibunya. Jika sudah begitu, rasa sebagai ‘bukan ibu yg baik’ pun kadang mengemuka. Sedih. Merasa gagal. Merasa tak terlalu jauh mampu beranjak dari saya yang dulu. Dalam kondisi begini, sang plegma itu yang akan meredamkan, menengahi. Bahwa ibu sudah banyak berupaya. Tapi karena dari kecil terbiasa dididik dengan pola keras, jangan salahkan ibumu jika tiba-tiba muncul kata kerasnya.

Dan dalam kondisi seperti itu, si ibu yang kole dominan memilih menepi. Takut salah lagi. Ah, mesti bagaimana lagi aku ini? Begitulah suara hati.

Namun, kebuntuan komunikasi dalam keluarga niscaya tak akan lama. Gadis-gadis remaja itu pun tahu bahwa ibunya telah berupaya. Hingga satu saat, si gadis perasa berkata, “Aku tak menyalahkan ibu. Aku juga tahu ibu sudah berupaya. Maafin aku kalau terasa terlalu keras menuntut ibu. Seharusnya aku paham, dulu ibu dididik mbah dengan keras. Sekarang tentu bingung ketika aku juga bersikap keras. Seperti ditekan dari sana-sini. Aku malah sedih kalau ibu jadi jarang bicara seperti ini”.

Si ibu mencoba kembali menata hari. Dia tahu bahwa ini tak mudah. Tapi dia percaya, keluarga adalah tempat terbaik untuk saling mengevaluasi. Dulu hanya suaminya yang dia jadikan panutan dan guru. Kini, anak-anak pun ternyata telah mampu menjadi guru. Sesekali. Ada yang menjadi guru dan lainnya jadi murid. Peran yang kadang berputar dinamis dalam keluarga. Sekali waktu sang ayah yang dikritik anak-anaknya. Dan si ibu diam-diam menjadi murid sunyi, belajar bagaimana ayah menanggapi kritik itu? Ilmu baru. Lagi-lagi kata dan sikap sang plegma sejati mampu memesona si kolewati. Oh, begitu seharusnya!

Beruntunglah kita memiliki bahasa dan emosi. Dengannya kehidupan menjadi indah dan dinamis. Tak terbayangkan jika dalam suatu keluarga hubungannya flat saja. Datar, tak ada emosi. Tak ada gembira. Tak ada kecewa. Tak ada sedih. Seperti papan organizer. Banyak bahasa, tapi kaku dan formal saja. Membosankan.

Keluarga, tempat kita belajar banyak hal. Tak mengapa kadang terlihat salah, karena masih ada pintu untuk memperbaiki diri. Mari 🙂

Alhamdulillah ala kulli hal.

Iklan

2 comments on “Bahasa, Emosi, & Kebuntuan Komunikasi

  1. rita dewi
    Oktober 19, 2016

    Dulu saya jg dididik secara keras oleh ortu. Rasa tertekan krn didikan keras itu membuat sy sekarang berusaha lbh lunak terhadap anak2. Meskipun kadang kelepasan jg hehe

    • muktiberbagi
      Oktober 19, 2016

      Iya sama mak mungkin yg kita rasakan. Kita ingin lunak tp kadang bawah sadar menekan, muncul kerasnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 19, 2016 by in keluarga, parenting, samara and tagged , , , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: