berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Sruput Saja Kopimu, Lalu Tertawakan Diri

EDISI MELAWAN RASA

Sebenarnya saya sedang sedih (halah, pengumuman). Tapi sedih saya mendadak berkurang saat saya cancut taliwanda membantu urusan orang lain. Merasa berguna menjadi lupa kalau tadi lagi sedih. Dan saya bisa tertawa lagi ๐Ÿ˜€
Ini salah satu cara saya melarung sedih. Tinggalkan urusanmu dan fokus bantu orang lain. Alhamdulillah, selama ini efektif. Tadinya sedih terus bisa ketawa lagi ๐Ÿ˜€

Duluuu, jaman sekulah, ya namanya usia remaja. Kadang ada juga rasa: Eh si A kok menarik sangat ya? Blablabla.
Jujur, perasaan semacam itu buat saya remaja malah mengganggu. Karena saya pengin fokus belajar (takut rangkingnya turun, halah) & berorganisasi. Jaman itu belum ‘ngaji’, gak mudeng kalau pacaran itu gak boleh dalam agama. Jadi saya lawan perasaan ‘pink’ itu dengan mengenal dan berkawan intens dengan si A. Pas udah kenal dekat, biasanya lalu ada kesimpulan, “Ah, jebule dia ya biasa aja. Memang ada kelebihannya, tapi kurangnya juga banyak” (Lha iyalaaah, tiap orang juga gitu kalik). Tapi justifikasi semacam itu saat itu perlu bagi saya, untuk mengurai perasaan pinky itu menjadi putih kembali. Lalu abis itu ngetawain diri sendiri ๐Ÿ˜€

Begitu pula saat merasa tak nyaman dengan seseorang. Padahal orangnya gak kenapa-kenapa juga, baik-baik aja dan gak bikin kesalahan apa-apa sama saya. Sayanya aja yang mbanyaki, terbetot-betotย perasaan gak jelas. Tapi saya harus lawan! Gimana cara? Saya perlu siapkan spesial gift buat orang tersebut, untuk melawan hati yang menghitam di saya itu. Terus dikasih deh ke orangnya. Setelah itu, ajaib! Saya merasa jauh lebih lega. Aneh tapi nyata. Lalu saya bisa kembali tertawa. “Kamu kok ya aneh, Ning”, begitu sisi lain saya meledek diri saya sendiri.

Pun saat saya merasa sedih ditinggalkan salah satu putri saya secara mendadak. Banyak teman yang menasehati: Berikan semua bajunya pada orang lain, simpan atau buang foto-fotonya, semoga jadi gak sedih lagi dan ingat terus pada ananda.
Weh, saya malah gak bisa begitu. Bakalan tambah lama sedihnya. Betul bajunya sebagian besar saya berikan, daripada numpuk tidak terpakai. Tapi ada beberapa bajunya yang masih saya simpan. Bahkan, fotonya malah saya kliping. Jadi obat buat saya, jika tiba-tiba kangen melanda. Lalu saya salurkan lewat nulis juga. Pas nulis sih kadang dleweran air mata, tapi begitu selesai nulis saya lega. Paling nanti gantian situ yang baca yang pada nangis, padahal sayanya sudah bisa ketawa ๐Ÿ˜€

Ohya satu hal. Di pelajaran bahasa dulu saya dapat ilmu, jangan menulis surat ketika kondisi jiwa sedang tak nyaman, terutama sedang marah. Mungkin ini bisa dianalogkan ke nulis status juga. Jangan sekali-kali nulis status dalam kondisi marah. Tulisan kita akan jadi jueleeek sekali, penuh kata caci maki. Kata caci maki tak harus kasar, kadang halus tapi nyelekit buat orang lain.
Nah, gimana kalau nulis status/surat/note kalau lagi sedih? Bisa saja ditulis, asal tetap fokus pada ‘looking from within’. Untuk melihat ke dalam diri lebih jernih, tanpa menyalahkan atau menyudutkan pihak manapun. Dan itu, sulit. Tapi ya kudu dilatih.
Jadi, maafkan kalau dalam tulisan-tulisan sedih saya, ada pihak yang merasa tersudutkan ya. Jika ada, berarti saya belum berhasil ‘looking from within’. Kudu banyak berlatih lagi. Hiks.

MENJAGA KEWARASAN

Saya nggak tahu ini teori apa kalau di dunia konseling. Tapi bahwa berbagai macam rasa negatif itu tak perlu dibiarkan berlama-lama, memang iya. Kudu dilawan, dengan tindakan lain yang positif. Paling tidak, itu salah satu upaya untuk menjaga kewarasan kita, agar tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Bukan berarti salah dong punya rasa sedih, cinta, kecewa, dan sebagainya. Tapi kalau tidak pada tempatnya, memang akan cukup mengganggu. Tak cukup melawannya dengan berpikir positif, tapi perlu juga diikuti dengan tindakan positif. Ini teori apa, mbuh saya ora ngerti. Setelah itu, cara melawan rasa yang paling mudah adalah dengan menertawakan diri sendiri. Yep. Mari tertawakan diri kita sendiri. Itu halal dan boleh. Tapi tidak menertawakan orang lain. Kalau itu, melukai.

Sekian. Terima kasih pada seseorang yang pada malam ini membuat saya nggak sedih lagi dan saya bisa tertawa lagi ๐Ÿ˜€

Perasaan kita kadang seperti secangkir kopi.
Tak akan tahu nikmatnya kalau kita tak tahu cara meminumnya.

@Erkaka, menjelang rehat malam

img_20160924_151213-copy

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 18, 2016 by in Curahan Hati and tagged , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: