berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Untukmu, Mujahidah

Saudariku sayang,
Tumbuhkanlah keberanian
seperti keberanian Ummu Sulaim
menjadi pembina bagi suami
dan mengantarkannya menjadi sahabat setia Nabi

Peliharalah kesabaran
seperti sabarnya Siti Hajar
melahirkan dan mendidik anak
di negeri gersang, tandus, tak berpenghuni
tujuh tahun tanpa suami di sisi
hingga Ismail kecil tumbuh dalam kemuliaan
menjadi penerus risalah kenabian

Milikilah kelembutan
Seperti lembutnya Muthi’ah
wanita pertama penghuni surga
setia menyambut kedatangan suaminya
dengan masakan kesukaan dan kipas pengusir keringat
juga sebuah cemeti
dan ia siapkan dirinya menerima cambukan
jika suaminya tak ridha dengan layanan

Binalah ketsiqohan
seperti tsiqohnya Khaulah binti Tsa’labah
pada murabbi teladan Rasulullah mulia
tak ragu ia ceritakan badai di rumah tangganya
demi penyelesaian terbaik dari murabbi
Aus bin Shomit sang suami telah mendziharnya
tak putus asa ia mesti berulang kali datang ke rumah Nabi
hingga turun wahyu Allah memberikan solusi

Semaikanlah keteguhan
seperti teguhnya Romlah binti Abu Sufyan
saat harus berpisah dari suami belahan jiwa
yang selama ini mengayominya di perantauan
sang suami murtad dari Islam
dia jalani hidupnya sendirian
hingga Allah memberikan anugerah
pengganti suami yang jauh lebih mulia
Rasulullah tercinta

Pupuklah keistiqomahan
seperti istiqomahnya Asiah istri Fir’aun
saat sang suami hendak menghukum mati karena keislamannya
dengan tegar ia lantunkan sebait doa:
”Ya Rabbku, bangunkan untukku
sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga
dan selamatkanlah aku dari orang yang dzalim”

Tanamkanlah ketsabatan
Seperti tsabatnya Zainab al-Ghazali
saat suaminya tercinta sangat iba
melihat penderitaannya di penjara
namun dengan sangat lembutnya, Zainab berkata:
”Wahai suamiku, saat engkau hendak meminangku dulu,
sudah kukatakan padamu
bahwa hidupku tak akan berpisah dari dakwah.
Jika suatu saat nanti,
kepentingan keluarga harus berbenturan
dengan kepentingan dakwah,
maka aku memilih dakwah ini”

Dengan itu semua:
berani
sabar
lembut
tsiqoh
teguh
istiqomah
tsabat
Apabila kau senantiasa bersamanya
dan tak hendak meninggalkannya
menjadikannya hiasan yang menyatu
dengan hati, lisan dan sikapmu
Apa lagi yang mesti kau ragukan
untuk masuk surgaNya yang indah
dari pintu manapun yang kau inginkan?

≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅≅
*ditulis ulang, untuk saudari2ku tercinta di pamulang
raga mungkin tak lagi bersama, tapi jiwa kita selalu bertemu dalam doa

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 17, 2016 by in dakwah and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: