berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Kenapa Pilih Sekolah Boarding?

Ini sebenarnya tulisan lama saya di fesbuk. Waktu itu pas miladnya Hurin, jaman dia masih SMP. Saya baca lagi saat muncul memori fesbuk tentang ini. Saya tuliskan ulang karena kayaknya bermanfaat 🙂

hurin-asipa

Setiap orang punya mimpi, tentang akan jadi apa anak-anaknya nanti. Aku dan suami pun memiliki mimpi, pada tiap anak yang dititipkan pada kami. Maka untuk mewujudkan mimpi itu, bukan hal yang mudah. Butuh kerja keras, doa, dan usaha. Maka, salah satu usaha yang bisa kami ikhtiarkan adalah memilih sekolah dengan lingkungan yang baik. yang kami harapkan bisa mengantarkannya menjadi manusia dewasa sesuai yang kami (dan dia) harapkan.

Mungkin tak semua orang tua sepakat, untuk menyekolahkan anaknya yang baru beranjak remaja di sebuah boarding school. Tak masalah, karena kondisi tiap orang tua berbeda. Latar belakang masalahnya juga berbeda.

Tapi bagi kami, untuk saat ini, menyekolahkan anak di boarding menjelang remaja justru menjadi hal yang urgent, mengingat berbagai ekses negatif dari pergaulan di ibukota yang kami tak ingin anak-anak teperangkap di dalamnya. Pergaulan yang seperti apa, setiap orang tua juga punya standar beragam. Kami sendiri masih tak mampu membayangkan, ada laki-laki perempuan yang saling suka, lalu main sama-sama kesana kemari, atau sembunyi-sembunyi ‘pacaran’ gaya anak sekolahan tanpa sepengetahuan orang tua.
Adapun jika standar yang kami gunakan dipandang kolot, tak mengapa. Semuanya kembali pada ‘mimpi’ tentang masa depan anak masing-masing.

Lalu, mengapa boarding? Bukan lagi soal akademis menjulang dan menang berbagai perlombaan (seperti yang aku alami dulu), tapi lebih pada pembentukan sikap dan kemandirian. Jika pun kemudian prestasi akademisnya membanggakan, itu kami anggap bonus saja, setelah soal kematangan karakter dan kepribadian. Maka, alangkah bahagianya kami, saat dia mulai bercerita, melalui ujung telepon di seberang sana.
“Sekarang aku rajin puasa senin kamis lho,” yang segera kusambut dengan ucapan hamdalah.
“Tolong doakan aku ya bu, biar hafalanku cepet nambah, temanku ada yang sudah sekian juz”, yang segera kusambung dengan doa penuh harap, bahwa kelak dia akan meneruskan cita2-ku untuk mampu menghafal 30 juz Quran. Cita-cita yang diam-diam juga tentunya masih tersimpan untuk diriku sendiri, tapi.. astaghfirullah, aku kurang gigih dalam berusaha.
“Ibu, tadi ngantuk deh. Bangunnya kan harus sebelum subuh, jadinya abis subuh ngantuk. Pengin tidur tapi kan harus setor hafalan. Jadinya di kelas ngantuk. Tapi gurunya maklum kok”, dan kusambut curhatnya dengan tertawa.

Atau saat dia mulai bicara jauh ke depan, “Bu, aku nanti kalau saatnya nikah, dicariin bapak ibu saja ya?” yang membuat kami tersenyum geli.
Atau untuk kabar tentang niali-nilai akademismya, ”Bu, maaf ya, matematikanya cuma dapet 81. Gak papa ya. Tapi sejarahnya 90,” dan segera kuhibur dia, tak masalah mau nilai berapa saja. Yang penting mau belajar.
Atau untuk keluhan tentang sandal yang kesekian kalinya hilang, juga untuk sariawannya yang sering kambuh. Berbagai berita tentang kesehatan dirinya, yang tentu membuatku khawatir, dan hanya bisa menyarankan supaya dia segera ke klinik di boardingnya, atau aku segera mengirim sms ke bundanya untuk ijin mengambil uang lebih, guna dibelikan beberapa suplemen kesehatan di mini market yang ada di As-Syifa sana.

Biarlah, ini sebuah proses, tentang merajut masa depan. Bukan tak ingin kami selalu ada di sisimu nak, tapi ada hal-hal yang jauh lebih bermanfaat saat kita berjauhan, dan engkau dikelilingi oleh orang2 yang juga sayang serta mengerti arti pendidikan. Toh intensitas kemesraan anak dan orang tua tak hilang. Memang, jika menuruti rasa, tentu rasanya tiap saat ingin selalu bersama, seperti halnya waktu engkau masih nyaman dalam buaian.

Begitu banyak harapan dariku sebagai bundamu, pada gadis kecilku yang kini bertumbuh remaja.
Semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya, meskipun tak setiap hari kita bersama. Semoga Allah mengabulkan doa kita semua, agar dapat kau capai cita-citamu menjadi muslimah sholihah yang hafidzah, qanitat, dan penyejuk mata bagi ayah bunda. Always love u, nduk sholihah 🙂

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyatinaa qurrota a’yunin waj’alnaa lil muttaqiina imaaman

*Erkaka, 10 Oktober 2016
tulisan aslinya tanggal 5 Oktober 2012 saat milad kak Hurin.

Iklan

4 comments on “Kenapa Pilih Sekolah Boarding?

  1. kunudhani
    Oktober 10, 2016

    aku dlu pernah nyantri mbak, alasanaya kurang lebih sama kaya ibuku 🙂

    • muktiberbagi
      Oktober 10, 2016

      Oh gitu ya? Dimana boardingnya?

      • kunudhani
        Oktober 10, 2016

        iya, di mojekerto

      • muktiberbagi
        Oktober 10, 2016

        Wah selamat. Sya malah belum pernah boarding. Gak cukup biaya dulu 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 10, 2016 by in Curahan Hati, pendidikan anak and tagged , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: