berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Nggaduh Kambing, Tampak Kecil Tapi Besar

img_20160911_122458

Saat kecil, saya suka sekali jika diajak Bapak ke desa kampung halamannya. Karena salah satunya saya akan ‘dikenalkan’ dengan kambing atau anak kambing yang baru lahir, lalu ditunjukkan mana kambing milik saya, mana milik kakak, dan seterusnya. Kambing-kambing itu adalah hasil nggaduh, yang Bapak percayakan pada orang di desanya.

Apa sih nggaduh itu? Nggaduh adalah sistem bagi hasil khusus untuk hewan ternak. Bahasa jermannya, mudhorobah 😀 Bisa kambing, sapi, kerbau dan semacamnya. Tapi yang paling umum adalah kambing dan sapi, yang secara ekonomis mudah dijual dan dibutuhkan tak mengenal musim. Apalagi ada masa puncak kejayaan seperti hari raya Idul Qurban.

Kenangan masa kecil inilah yang menyebabkan saya kepikiran. Saat beberapa ART mulai balik ke kampungnya karena memang tak mungkin bekerja lagi di Jakarta. Apa yang kira-kira bisa mereka lakukan di desa selain ngrepek (mencari kayu bakar ke hutan untuk dijual), sementara kondisi fisik makin menurun. Saat salah satu dari mereka mengusulkan,” Gimana kalau saya miara kambing saja, nanti Ibu nggaduhke ke saya?”.
Usul ini saya terima dengan gembira.

Maka, sejak sepuluh tahun yang lalu, saya titipkan uang padanya untuk membeli sepasang kambing ettawa murni tapi yang masih muda. Saya lupa nominal persisnya, kalau tak salah ingat sih dua setegah juta. Jenis kambing ettawa dipilih karena nilai jualnya sangat tinggi. Secara berkala mbak ART saya itu melaporkan hasilnya. Berapa kambing kami, atau berapa nilai rupiah kambing yang terjual. Selaang beberapa tahun kemudian, uang sejumlah investasi awal itu sudah dia kembalikan karena sudah mendapat keuntungan. Saya sendiri bersyukur, karena gara-gara nggaduhke itu komunikasi dan silaturrahmi terus dapat berjalan dengan para mantan ART kami. Minimal saat lebaran tiba, mereka akan datang ke rumah orangtua/mertua saya untuk halal bihalal sambil ‘laporan’. Mbak ART saya juga senang karena punya kerjaan memelihara kambing bersama suaminya. Saya juga senang karena melihat mereka senang 😀

Lantas saya berpikir, mungkin sistem nggaduh seperti ini perlu dimassifkan. Secara nominal investasi kita tampak kecil saja. Nggak akan sampai puluhan juta, masih dibawah lima juta. Tapi berkah dan manfaatnya luar biasa besarrrr, sodara. Apa saja sih?

  • Kambing yang beranak pinak itu bisa menjadi mata pencaharian orang desa. Apalagi banyak di antara mereka yang tidak memiliki sawah ladang, hanya petani penggarap. Saat lahan sawah makin sempit, jumlah petani penggarap yang dibutuhkan tak sebanyak dulu lagi. Nah, jangan sampai mereka nganggur. Apalagi yang laki-laki. Menjadi peternak kambing adalah salah satu alternatif yang sangat mungkin.
  • Kambing yang beranak pinak yang menjadi jatah kita sebagai investor, bisa digaduhke lagi ke keluarga lainnya, sehingga manfaatnya lebih menyebar. Biasanya peternak kambing di desa tidak serakah, dia tahu seberapa kemampuannya untuk merawat kambing hingga layak jual. Daripada kebanyakan yang harus dia urus, menyerahkan kambing muda kepada tetangga untuk digaduhke adalah pilihan bijaksana. Tentu saja dengan memilih tetangga yang dapat dipercaya. Seperti yang saya alami, saat ini sudah ada tiga keluarga lain yang juga memelihara kambing turunan dari nggaduh yang awal. Nah kalau semakin banyak keluarga lain yang memelihara, kan makin bagus. Berkahnya menyebar.
  • Menjadi alternatif pekerjaan buat para mbak ART jika kembali ke desa. Setiap ada ART di rumah, saya selalu kepikiran,”Nanti kalau balik kampung, dia mau cari duit gimana?”
    Makanya ada juga mbak ART yang sejak ikut saya lalu saya ikutkan kursus jahit sampai tamat tingkat mahir, karena saya memikirkan hal itu. Kebetulan kampungnya tidak terlalu desa, masih agak kota. Pilihan miara kambing tentu nggak cocok buat dia. Apalagi kursus komputer, ya susah dipakai ilmunya kalau di kampung 😀
    Prinsip saya, janganlah ART yang ikut saya menjadi ART selama hidupnya. Harus ada peningkatan ‘karir’.  Apalagi kalau nanti sudah berkeluarga, tentu mereka harus berpikir masak-masak mencari cara yang tepat untuk membantu suami.
  • Meningkatkan gizi penduduk desa melalui susu kambing dan (kadang) daging kambing. Susu kambing kita ketahui sebagai susu hewani terbaik selain susu onta. Tidak ada pro kontra seperti susu sapi. Nabi Saw pun biasa minum susu kambing. Nah jika rumah-rumah penduduk di desa ada kambing betina yang menyusui, pemiliknya akan ikut kebagian gizi juga 😀
    Tentang gizi dari daging, itu bisa mereka rasakan nikmatnya saat hari raya berqurban. Buat mereka yang di desa tentu nggak kepikiran makan daging kambing piarannya, karena orientasinya untuk dijual dan dapat duit untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi kambing yang menjadi jatah kita, salah satunya bisa kita aqadkan untuk berqurban di daerah tersebut jika kambingnya sudah layak. Jika belum layak, masih bisa tukar tambah dengan kambing dari peternak sekitar. Yang penting, mereka happy bisa makan daging kambing rame-rame, meski hanya setahun sekali (atau pada saat ada hajatan saja).
  • Memelihara silaturrahmi. Karena masih punya titipan kambing di kampung, mau tak mau si mbak ART akan terus berusaha menghubungi kita untuk ‘laporan’. Atau kadang dibalik, kita yang menyempatkan diri ke desa tersebut untuk bertemu. Minimal setahun sekali lah ketemu, pada saat lebaran. Sekaligus kita bisa semacam ‘stock opname’ tentang jumlah kambing yang ada.
    Bagaimana kita menjamin bahwa yang dilaporkan itu benar dan tidak ada rekayasa? Saya sendiri malah nggak terlalu memikirkan itu. Pokoknya saya percaya saja lah dia amanah. Lha investasi awalnya saja sudah balik. Saya sendiri malah tadinya nggak ngarep balik. Anggap saja itu idle cash, semacam dana bergulir atau apalah. Jumlahnya nggak seberapa tapi nyata manfaatnya untuk membangun perekonomian di desa. Bahkan saat kita sudah tidak memikirkan seperti apa kini perkembangan nggaduhke itu, ‘bekas’nya ternyata sudah banyak beranak pinak dan menyebar ke para tetangganya. Alhamdulillah. Jadi ingat kisah sabahat Nabi yang diberikan titipan 1 ekor kambing. Pas berpuluh tahun kemudian yang nitipin mau ambil kambingnya, sahabatnya yang ketitipan itu hanya mengajak ke padang rumput luas, dan berkata, “Semua kambing yang ada di padang rumput itu, semuanya milikmu”.
  • Mengasah sense berupaya mandiri pada anak-anak, dengan melihat susahnya cari duit di desa. Juga seperti saat saya kecil dulu, emejing banget lho pas tahu kalau saya punya kambing. Apalagi kalau masih kecil dan bisa digendong-gendong 😀

Nah, kira-kira itu beragam manfaat yang bisa saya rasakan. Mau ikut sistem nggaduh seperti ini di kampung halaman Anda sendiri? Monggo 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 22, 2016 by in agama, inspirasi, masa kecil, perempuan and tagged , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: