berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Doa Perempuan Desa nan Miskin Papa

Siang itu, hapeku berdering pelan. Kuterima sms yang cukup panjang, dengan bahasa jawa krama inggil. Ternyata dari salah seorang mantan ART-ku, yang kini tinggal di kampung dan mengurusi beberapa kambing, hasil perbincangan denganku bertahun-tahun yang lalu tentang ‘nggaduhke kambing’. Sedikit upaya pemberdayaan ekonomi di pedesaan yang masih mungkin kulakukan. Baru sebatas itu. Lebaran lalu ia datang ke rumah, tapi kebetulan aku sedang pergi dan hanya menitipkan uang pada mbah. Smsnya sederhana, namun membuatku terhenyak seketika.

“Bu, uang yang saya titipkan ke mbah untuk bayar utang itu, sebenarnya saya pinjam tetangga dulu,. karena saya malu kalau minta waktu lagi ke ibu. Itu juga belum lunas semua, masih kurang. Nyuwun ngapunten”

Astaghfirullah, trenyuh hatiku. Terbayang kembali, malam itu aku terima segepok uang dari mbah (ibu mertua), titipan dari mantan ART-ku itu. Kumpulan uang yang lusuh, terdiri dari pecahan lima ribu, sepuluh ribu dan dua puluh ribu, tak ada uang merah bergambar bung karno dan bung hatta, meski jumlah keseluruhan uang tersebut nyaris sejuta. Ya, mbak ART-ku itu menyempatkan diri dari desa untuk sowan berlebaran ke rumah mertua.

Subhanallah, orang desa, memang biasanya jauh lebih jujur. Untuk membayar hutang saja, dia sampai meminjam lagi ke orang lain. Bahkan mungkin untuk makan sehari-hari pun, dia masih harus berpikir dari mana. Allahu, andai waktu itu aku bisa menemuinya, tentu aku akan tahu cerita ini sejak awal. Sekaligus bisa menolak secara halus uang yang dia bawa itu. Tapi sayangnya aku baru tahu setelah kami balik ke Jakarta.

Kubalas smsnya, menanyakan jadi kurang berapa lagi hutangnya. Dia jawab, sekian. Kubalas lagi, “Ya sudah bude, sisanya nggak usah dibayarkan. Siapa tahu budhe perlu”

Dia, memang biasa kupanggil bude, karena usianya memang sedikit lebih tua dariku, dan aku mencoba membahasakan anak-anak supaya memanggil dengan sebutan itu. Waktu itu, dia mulai ikut denganku saat Adnin, anak keduaku masih bayi baru lahir. Hingga suatu saat dia memutuskan untuk pulang kampung saja, karena suami memanggilnya dan anak-anaknya makin besar. Tentu, aku tak bisa melarangnya, karena aku juga seorang istri dan ibu. Sangat bisa memahami perasaannya.

Smsku itu dibalasnya lagi, “Kulo matur suwun sanget ibu tasih tresno kaleh kulo, mugo-mugo keluarga ibu paringi waras slamet panjang umur murah rejeki” (Saya berterima kasih sekali, ibu masih sayang sama saya. Semoga keluarga ibu diberikan kesehatan, panjang umur dan murah rejeki-red).

Membaca smsnya, kontan mataku merebak, mrebes mili. Sungguh doa yang tulus, dari orang yang pernah dekat dan insya Allah selalu dekat dengan keluarga ini. Amiin Allahumma Amiiin. Semoga pertautan hati ini abadi, ya Rabb…

duit-lusuh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 22, 2016 by in inspirasi and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: