berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Menyulam Cinta Bersama Para Asisten RumahTangga

Ini kunjungan saya yang kedua ke Dusun Sudaraga. Dusun di pegunungan yang untuk mencapai lokasinya saya harus rela beberapa kali naik turun dari boncengan motor, karena tanjakannya yang terjal & berbatu. Naik mobil? Buat saya malah gak kebayang. Ngeri ah. Jalanannya ekstrem. Kalau gak biasa malah mobilnya bisa mundur.

Kenapa dengan dusun Sudaraga? Ia adalah dusun tempat tinggal beberapa mantan ART yang pernah membersamai keluarga kami.
Begitu tiba (dan pakai acara nyasar dulu), bude Lastri (jilbab pink baju batik coklat, kiri), memeluk saya & menangis. Saking terharunya bisa ketemu dengan saya lagi. Dia adalah ART yg sangat membantu saya di awal-awal kelahiran anak ke-2, Adnin. Itu ternyata 15 tahun yang lalu ya 😀

img_20160911_112036

Seperti apa sih rumah bude Lastri ini? Sangat sangat sederhana. Seperti ini penampakannnya.

img_20160911_105841

Ada juga mbak Is (jilbab coklat), pengganti bude Lastri, yang bisa dibilang keluar masuk di keluarga saya sejak jaman dia lulus SD sampai kini sudah menikah dan punya anak. Anaknya pun pernah ikut serta bersama kami dibawa ke Jakarta saat balita, Sofi namanya. Sofi (baju merah) ini sepantaran Fahrin, sekarang kelas 4 SD. Melihat Sofi saya jadi ingat almh Fahrin. Mamaknya mba Is (baju hijau) juga masih tampak sehat meski janda papa. Dia begitu senang kami berkunjung kembali.

Satu lagi ART yg siang tadi via telpon hampir nangis nggak bisa bertemu karena dia kini pindah desa yg lebih terpencil lagi, ngikuti suami. Dia berhalangan ikut datang ke Sudaraga. Sedang kami pun juga tak berani jalan ke desanya. Bude Muk, kami memanggilnya. Di samping berkabar tentang habis mantu putrinya yg ke-3, dia juga galau karena hutangnya pada kami belum mampu ia lunasi. Halah 😀

Mereka semua sudah seperti saudara. Penduduk desa dengan segala kebersahajaannya. Rumah berdinding bilik bambu berlantai tanah itu, begitu luas berlapang dada. Menjamu tamu sebisanya, meski kami puasa. Membawakan kami oleh2 khas desa; dari gula jawa, pisang, hingga lemet singkong. Untungnya sudah saya siapkan oleh-oleh juga dari Jakarta. Juga sedikit ‘tali kasih’ yg ndilalah lupa nyiapin amplopnya *tutupmuka*

Senang kembali dipertemukan dengan mereka semua, sambil melihat kambing-kambing hasil ‘gaduhan’ yg makin beranak pinak, dan menyerahkan kambing Qurban saya sendiri plus titipan teman-teman. Semoga berqurban di desa tandus seperti ini akan lebih terasa kebermanfaatannya. Satu kambing bisa dimakan untuk satu RW. Sedikit-sedikit yang penting rata.

Bicara tentang ‘nggaduhke’, tak terasa sudah 10 tahun per’gaduh’an ini. Gaduh adalah istilah jawa untuk sistem bagi hasil (mudhorobah) tapi khusus untuk membiakkan binatang ternak. Sekarang, kambing-kambing Hibban sudah meluas digaduhke ke beberapa keluarga di dusun itu karena anak kambingnya makin banyak. . Alhamdulillah, semoga kebermanfaatannya lebih menyebar. Hibban tampak exited karena selama ini cuma dapat cerita punya kambing di kampung tempat mbak Is, dan baru kali ini menyaksikan sendiri kambing-kambingnya. Saat ini ada lima miliknya, ada yang masih imut ada juga biangnya.

Nggaduhke ini salah satu cara saya & suami untuk terus menyambung silaturrahmi dengan mereka. Hanya cara sederhana untuk terus merawat cinta, bersama mereka.
Selalu ada cinta untukmu, mbak2 ART-ku ❤

Iklan

4 comments on “Menyulam Cinta Bersama Para Asisten RumahTangga

  1. anazkia
    September 19, 2016

    Seneng banget baca ini, Mbak. Serasa ada dalam lingkarannya. Saya jadi inget majikan-majikan saya yang dulu saya pernah bekerja 😉

    • muktiberbagi
      September 19, 2016

      Alhamdulillah. Mba anazkia maah penulis hebat. Saya kadang bingung mendefinisikan boar mereka ada kerjaan lain di kampung. Nah nggaduhke ini yg kepikiran. Masih perlu dievaluasi sihj

  2. Tita Kurniawan
    September 19, 2016

    Terharu mba 😭 jempol,,pasti akan sangat bermanfaat berkurban di desa yg masi desa bgt seperti itu, semoga sll mendapat keberkahan dr Allay ya mba,,

    • muktiberbagi
      September 19, 2016

      Aaamiin. Iya sdh 4 tahun ini saya jg mngajak qurban kr daerah situ & sekitarnya. Masih minus smua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 19, 2016 by in inspirasi and tagged , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: