berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Tembang Macapat dari Lelaki Hebat

bapak-farid

Sebenarnya ini tulisan lama. Dulu sekali saya posting sebagai note di laman fesbuk saya. Tapi ternyata susah untuk mencarinya lagi jika digugling. Malah nemu di blog orang lain yang memang ngopas dari note saya di fesbuk itu. Welha 😀 Ya gakpapa sih, masih pakai kredit titel juga kok meskipun nggak pakai beklink. Jadi ingin mengabadikannya di blog, supaya nggak susah nyari lagi.

Saat tiba-tiba kangen Bapak, membaca tulisan ini jadi mengharu-biru. Terbayang saat Bapak ‘ngudang‘ (menggendong sambil bersenandung) saya jaman kecil. Begini tulisan lengkapnya.

_______________*

Salah satu arsip yang kutemukan di kamar bapak, sepeninggal beliau wafat sabtu 23 April yang lalu, adalah buku notes kecil berjudul: TEMBANG MACAPAT Ki M. Farid. Di dalam buku tersebut, bapak tuliskan berbagai tembang macapat dalam berbagai jenis, yang isinya nasehat untuk kami, anak-anaknya. Tembang yang pertama ini sangat kuhapal, karena sering bapak senandungkan saat meninabobokanku. Kadang sambil menggendong, atau cukup mendampingiku sampai anaknya tidur

1. TEMBANG POCUNG 1
Lela ledung Anak wedok (lanang) arep bobo
Ora pareng nakal
Aja rewel aja nangis
Turu-turu bocah ayu/bagus
Wis merema

(Lela ledung,anak perempuanku (lelaki) mau tidur,
tak boleh nakal,
jangan rewel jangan menangis,
tidurah tidur anak cantik (bagus),
pejamkanlah matamu)

Tembang yang kedua, juga masih berirama Pocung, berisi tentang nasehat untuk kami, anak-anaknya untuk selalu patuh pada orang tua.

2.TEMBANG POCUNG 2
Putraningsun
Dha gatekna pituturku
Mituhu wong tuwa
Mring sedulure kang gemati
Sregep ngudi ilmu umum lan agama

(Anak-anakku
Mari simaklah nasehatku
Hormatlah pada orang tua
Sayang pada saudara
Rajin mencari ilmu umum & agama)

Tembang yang ketiga dan keempat adalah jenis kinanthi, yang pertama berisi nasehat untuk hormat pada ibu, dilanjutkan nasehat untuk hormat pada bapak Tembang yang berisi untuk hormat pada ibu.

3. TEMBANG KINANTHI 1
Pada bektia mring ibu
Kang ngandut lan nglairake
Angopeni kanti trisna
Wiwit isih jabang bayi
Nganti tumedeng diwasa
Amrih sira urip mukti

(Berbaktilah pada ibu,
yang mengandung & melahirkan,
merawat dengan kasih,
sejak kau masih bayi hingga dewasa,
agar kau hidup mulia)

Dilanjutkan dengan tembang yang berisi nasehat untuk hormat pada ayah

4. TEMBANG KINANTHI 2
Marang bapa sing mituhu
Tansah manut pranatane
Kabeh dawuh den estokna
Jo sembrono serta wani
Yen diutus jo semaya
Amrih sira den restoni

(Pada bapakmu, hormatilah
Selalu turuti aturannya
Semua perintah dilaksanakan
Jangan sembrono dan berani
Jika diutus, jangan mengelak
Agar engkau direstui)

Tembang ke-5, berjenis dhandang gula. Berisi nasehat bapak tentang kewajiban dan tugas sehari-hari.

5. TEMBANG DHANDHANG GULA
Duh para putra
Sing pada mangerti
Marang kuwajibanira
Apa ing saben dinane
Rerewang bapak lan ibu
Sregep sinau lan ngaji
Makarya kanti lega
Tan iren lan ngaso
Aja wegah tandangana
Sing nastiti lan ngati-ati
Dadekna pakulinan

(Wahai anak-anakku
Pahamilah
Seluruh kewajibanmu
Apa saja setiap hari
Membantu bapak ibu
Rajin belajar dan mengaji
Bekerja dengan riang
Tidak saling mengandalkan
Tidak lupa juga istirahat
Jangan malas segera lakukan
Dengan teliti dan hati2
Jadikanlah kebiasaan)

Tembang yang keenam ini aku tak tahu termasuk apa. Mijil, dhandang gula, atau kinanthi? Yang jelas bukan pucung. Isinya tentang nasehat akan pentingnya akal budi dan sikap santun.

6. TEMBANG KEENAM

Wong iku kajen ing liyan
Saking luhuring budi pekertine
Mring wong tuwa bekti lan gawe legane
Mring sedulur asih tresnane
Reksa-rumeksa tetanggan
Nora mung mikir pribadi

(Orang itu akan dihormati sesama
Dari tingginya budi pekerti
Pada orang tua taat dan menyenangkan hati mereka
Pada saudara selalu sayang dan cinta
Saling bahu membau dalam bertetangga
Tak hanya berpikir kepentingan pribadi)

Pada tembang ketujuh, Bapak menulis dengan jenis Mijil. Ini termasuk tembang yang sering beliau nyanyikan, saat bapak memandikanku. Ya, waktu anak-anak balita, bapaklah yang lebih sering memandikanku, karena ibu sibuk menyiapkan makanan di dapur agar anak2 dapat dipastikan sarapan dulu sebelum sekolah. Terhadap urusan sarapan ini, bapak cukup ketat. Wajib sarapan sebelum ke sekolah! Waktu balita, kadang malah bapak yang menyuapiku. Kalau dirasanya kami lambat mengunyah (diemut), bapak akan campuri makanan dengan sedikit sambal sehingga terpaksa aku makan dengan cepat karena kepedasan (aneh juga triknya).

Pernah, saat aku sudah SMA, males sarapan, mengendap-endap keluar rumah mau berangkat sekolah saat kupikir bapak sedang beradai di kebun belakang. Tapi, olala, ternyata bapak menunggu di halaman depan, dan demi membaca bahasa tubuhku, langsung bertanya, “Sudah sarapan belum?”Terpaksa mengaku kalau belum sarapan. Alhasil … disuruh masuk rumah lagi, sarapan dulu. Berikut syair tembang itu.

7. TEMBANG MIJIL
Yen mangsane sholat aja lali
Kudu diperlokna
Smono uga adus esuk sore
Sikat untu, awak dikosoki
Kuku dikethoki
Rambut sring dicukur

(Jika tiba waktunya sholat, janganlah lupa
Harus disempatkan
Demikian juga mandi pagi dan sore
Sikat gigi, badan digosok
Kuku dipotong
Rambut sering dicukur)

Tembang yang ke-8 ini aku juga tak tahu masuk jenis apa. Tapi isinya masih tentang kewajiban sehari-hari

8. TEMBANG KEDELAPAN
Tangi turu
Terus wudu
Sholat subuh
Nuli rerewang reresik
Sikatan nallika adus
Dandan lan nata piranti
Dhahar, budhal pamulangan
(Bangun tidur
Langsung wudhu
sholat subuh
Lalu bantu-bantu dan bersih-bersih
Sikat gigi saat mandi
Berdandan dan siapkan perlengkapan
Makan, lalu berangkat sekolah)

Hmm, jadi sangat rindu mendengar suara merdu bapak menembang untuk kami, anak-anaknya.. 😦

~mengenang lelaki hebatku (lagi)
yang kini pergi pada sang Khaliq dan entah kapan berkumpul lagi.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu

*pojok Pamulang, 26 april 2011
(3 hari kepergian Bapak)

Iklan

2 comments on “Tembang Macapat dari Lelaki Hebat

  1. Jejak Parmantos
    September 7, 2016

    Kangen macapatan 🙂 Catatan nan berharga ya… Apalagi berisi petuah2 yg penuh manfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 7, 2016 by in inspirasi, parenting, pendidikan anak and tagged , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: