berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

MoU Suami-Istri itu, Perlu Lho!

Kemarin saya mendapatkan artikel yang menarik. Entah siapa yang menuliskannya pertama kali. Tentang persepsi mencintai pada pasangan. Ternyata kadang tak seiring sejalan. Maunya suami begini, istri punya alasan begitu. Atau sebaliknya. Maunya sang istri mau ngasih kejutan ke suami, eh malah suaminya merasa itu annoying. Istri repot-repot belikan suaminya kemeja hijau, nggak tahunya suaminya suka warna putih. Atau suami sampai nyempetin belikan buket bunga yang mahal buat istri sebagai tanda cinta, eh sampai rumah dikomentarin istrinya, “Ayah ngapain buang-buang duit beliin buket bunga mahal kayak gini? Mending buat beli susu anak-anak”. Nah lo. Kan kacau kalau begini ceritanya.

Isi tulisan tersebut ada di laman ini. Agak panjang, tapi bagus kok.

 

Ada kisah nyata yang dialami teman saya. Dia rencana mau kasih kejutan ke suaminya nanti sepulang kerja. Beli parfum baru biar wangi, biar suaminya tambah cinta. Sore hari dia sudah bersiap bersih-bersih diri. Tak lupa ia menyemprotkan parfum wangi ke tubuhnya, yang ia harapkan akan disukai oleh suaminya. Begitu suaminya pulang, merasa membaui sesuatu yang beda, suaminya langsung komentar, “Bau apaan nih? Kok kayak bau minyak nyong-nyong?”

Alah, gubrak! Parfum mahal malah dikira minyak nyong-nyong. Tahu gak minyak nyong-nyong? Itu lhoo minyak wangi yang suka dipakai untuk pengharum mayat, yang baunya menyengat dan kadang malah bikin mual. Deu, ngenez abis judulnya kalau begini.

Nah, beberapa fragmen kesalahpahaman ini membuat saya yang waktu itu masih gadis belia (belum laku maksudnya), kepikiran. Mungkin harus ada semacam MoU antara suami istri. Semacam pegangan awal tentang apa yang disuka dan tidak disuka. Nah, pada tahun itulah saya iseng membuat MoU ini, yang lalu saya hadiahkan kepada teman sekelas di kampus yang sudah nikah duluan. Dia bilang MoU yang saya buat (Masih tulisan tangan sih, waktu itu), sangat bermanfaat bagi dia dan suami yang cenderung sama-sama intovert. Alhamdulillah. Akhirnya MoU itu pun saya pakai waktu saya menikah. Caranya gimana?  Ya MoU nya dibuat dua rangkap, masing-masing ngisi. Lalu tukar data aja, terus dibaca pasangannya dan diamalkan 😀 Memang masih data kasar banget. Tapi cukup membantu memperjelas who is he atau who is she. Apalagi untuk pasangan yang menikah karena perjodohan, dengan modal taaruf doang yang cuma 1-2 kali ketemu sebelum ke pelaminan.

Seperti apa penampakan MoU itu? Kira-kira seperti ini. Monggo aja kalau mau dimodifikasi sendiri ya.

WhatsApp Image 2016-08-23 at 09.43.42WhatsApp Image 2016-08-23 at 09.43.42 (1)

Iklan

2 comments on “MoU Suami-Istri itu, Perlu Lho!

  1. Ping-balik: Memahami Tugas Asasi Pasutri | berbagi cinta & makna

  2. seputarpesantren
    Januari 6, 2017

    MOU anti poligami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 23, 2016 by in Neguneg and tagged , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: