berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Memahami Tugas Asasi Pasutri

Tulisan ini sangat menarik. Mengembalikan tentang jalannya bahtera rumah tangga. Sebenarnya bahtera ini mau dibawa kemana?
Simak tulisan yang entah siapa penulisnya ini, karena saya mendapatkannya di whats app tanpa titel kredit lagi. Saya edit seperlunya supaya enak dibaca aja.

mukti

Dua Orang Baik Tapi Mengapa Perkawinan Tidak Bahagia?

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil saya melihatnya begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur untuk ayah karena lambung ayah kurang baik. Setelah itu, masih harus memasak nasi untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.Setiap sore, ibu selalu menyikat panci sampai tidak ada noda sedikitpun. Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan rumah sampai tak ada debu.

Ibu adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayah, ibu bukan pasangan yang baik. Tidak hanya sekali ayah menyatakan kesepian dalam perkawinan, tapi saya tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu dan saat libur ayah punya waktu untuk mengantar kami ke sekolah. Ia seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran. Ayah adalah seorang laki-laki yang baik di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.
Hanya saja, di mata ibu, ia bukan pasangan yg baik. Kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam.

Saya melihat dan mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka. Seharusnya mereka layak mendapat perkawinan yang baik. Saya bertanya pada diri sendiri, “Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yg bahagia?”

Pengorbanan yang Dianggap Benar

Setelah dewasa, akhirnya saya memasuki perkawinan dan perlahan-lahan saya mengetahui jawaban itu. Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, rajin bekerja dan mengatur rumah, dan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan saya sendiri.

Anehnya, saya tidak merasa bahagia dan suamiku sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin rumah kurang bersih, masakan tidak enak, lalu dengan giat saya membersihkan rumah dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun rasanya, kami berdua tetap tidak bahagia. Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan rumah, suami saya berkata, “Temani aku sejenak mendengar alunan musik ini!” Dengan mimik tidak senang saya menjawab, “Apa tidak melihat masih ada separuh lantai lagi yang belum dipel?”

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung. Kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan Ibu. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul pada diri saya, tiba-tiba.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah yang tidak mendapat apa yang dia butuhkan dalam perkawinannya. Waktu ibu habis untuk membersihkan rumah padahal yang dibutuhkan ayah adalah menemaninya. Sedang terus-menerus mengerjakan urusan rumah tangga adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan. Ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih namun ibu jarang menemani ayah. Ia berusaha mencintai ayah dengan caranya.

Kesadaran Membuat Keputusan yang Berbeda

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik. Dari kejauhan, saya memandangi kain pel di atas lantai seperti meratapi nasib ibu. Saya bertanya pada suami, “Apa yang kau butuhkan?”
“Aku membutuhkanmu unt menemaniku. Rumah kotor sedikit tidak apa-apa,” jawabnya.
Saya kira dia perlu rumah yg bersih, ada yang memasak, dan seterusnya. Ternyata tidak.
“Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku,” tegasnya.

Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan selama ini. Hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, karena kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun bukan cara yang diinginkan pasangan kita.

Sejak itu, saya membuat sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja. Begitu juga suamiku, dia membuat sebuah daftar kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang dan jelas, misalnya: waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk setiap pagi, memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat, dst.

Beberapa hal dari daftar tersebut cukup mudah saya laksanakan, tapi ada juga yang sulit, misalnya: dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang dirinya merasa tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki. Saya akhirnya meniru suami untuk tidak memberikan usul kecuali dia bertanya. Jika tidak ditanya, saya akan mendengarkan saja dengan serius. Bagi saya (dan mungkin perempuan pada umumnya), ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun jauh lebih bermakna dalam pernikahan kami.

Bertanya pada pasangan kita, “Apa yang kau inginkan?” ternyata dapat menghidupkan pernikahan.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, MEREKA TERLALU BERSIKERAS MENGGUNAKAN CARA SENDIRI DALAM MENCINTAI PASANGANNYA, BUKAN MENCINTAI PASANGANNYA DENGAN CARA YANG DIINGINKAN PASANGAN KITA.

Kita mungkin sangat lelah melayani pasangan kita, namun dia tidak menghargai.. akhirnya kita kecewa dan hancur.

Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, SETIAP ORANG PANTAS DAN LAYAK MEMILIKI SEBUAH PERKAWINAN YANG BAHAGIA, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan oleh pasangan kita.

Hmm, saya juga banyak belajar dari tulisan ini. Meskipun tampaknya settingnya bukan disini tapi di negara barat, tapi tetap relevan. Kalau dikembalikan pada pembagian tugas pasutri dalam Islam, memang ada benarnya. Bahwa tugas utama istri itu adalah melayani suami dan mendidik anak. Tugas lainnya tidak wajib, hanya ikutan saja. Ada baiknya pada saat-sata tertentu kudu ‘tega’ untuk mendelegasikan tugas-tuas rumah tangga semacam bersih-bersih atau masak. Daripada kita keukeuh mengerjakan tugas rumah tangga, lalu tugas ‘melayani suami’ yang terdelegasikan? Mau? Bisa-bisa nangis doang di pojokan.

Bersambung ke tulisan teknik membuat MoU untuk pasutri

Iklan

3 comments on “Memahami Tugas Asasi Pasutri

  1. Ping-balik: MoU Suami-Istri itu, Perlu Lho! | berbagi cinta & makna

  2. afia
    Agustus 23, 2016

    gali aja dalilnya, fiqihnya jg ada, islam lengkap kok sebagai aturan hidup

    • muktiberbagi
      Agustus 23, 2016

      Lho emang iya. Islam itu kaaffah. Masalahnya di tataran praktek ini mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 23, 2016 by in Curahan Hati, inspirasi, keluarga and tagged , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: