berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Fear of Success

kambing

Seorang bapak tercetus rasa khawatirnya, melihat salah seorang putrinya yang keukeuh akan mengambil studi S2. Sedang anak gadisnya itu belum menikah. Waktu itu, mahasiswa pasca memang reratanya adalah kaum bapak ibu yang sudah berpengalaman di dunia kerja. Tuwek tuwek.

“Nduk, apa sudah mantep mau S2? Belum nikah lho. Apa nggak kuatir nanti temanmu yang laki jadi pada keder mau nembung?”
Putrinya tergelak. “Wah kalau gara2 saya kuliah S2 terus mundur sih itu namanya laki2 gak berjiwa besar Pak. Gak cocok jadi suami juga lah yang model begitu”.
Dan Bapaknya terdiam, antara bingung dan paham 😀
Belum berjalan satu semester perkuliahan S2, ternyata ada lelaki berjiwa besar datang ingin meminang. Nggak pakai kuda sih, karena dia (cuma) berjiwa besar bukan panglima besar Diponegoro. Pakainya motor dinas suzuki yang suaranya sembreng itu 😀
Sebelum pinangan, dimantapkanlah niat melalui kenalan. Bahasa kerennya ta’arufan. Si gadis teringat juga soal kekhawatiran bapaknya dulu itu, sehingga mengajukan pertanyaan, “Begini. Saya kan sedang kuliah S2, malah baru awal kuliah. Dan saya tetap ingin menyelesaikan kuliah ini meski nanti menikah. Kira-kira bagaimana pendapatnya, kalau saya tetap kuliah? Jika keberatan, mungkin proses ini dicukupkan sampai sekian saja” *saklek-e metu*

Lelaki di seberang sana menjawab lugas, “Perempuan itu kan pada akhirnya akan menjadi istri dan ibu. Dan menjadi istri serta ibu itu butuh ilmu. Jadi, perempuan yang memiliki ilmu tentunya nanti akan menjadi ibu yang baik, mampu mendidik anak-anaknya dengan baik. Apalagi ilmu kuliahnya pendidikan anak”.
Horrrotoh konoo, malah diskakmat. Sampe speechless 😀
Sedikit penggal peristiwa yang lucu-lucu mengharukan itu, gambaran saja dari kombinasi unik konsep diri pada perempuan, karena bentukan lingkungan. Sampai saat ini, masih banyak yang takut sekolah tinggi-tinggi atau berkarir dan/atau berpenghasilan jauh lebih tinggi dari laki-laki. Takut cibiran sosial, takut susah jodoh, takut rumah tangga jadi nggak harmonis (bagi yang sudah menikah), dan seterusnya. Meminjam teori jadul milik Horner (1972), fenomena ini disebut Fear of Success. Teorinya menyatakan bahwa pada perempuan terdapat kecenderungan takut akan kesuksesan (fear of success). Pada perempuan terdapat kekhawatiran bahwa dirinya akan ditolak oleh masyarakat apabila dirinya memperoleh kesuksesan. Memang sedih saya pas baca berita bahwa angka tuntutan cerai naik tajam saat para guru perempuan banyak yang mendapatkan tunjangan sertifikasi. Bukan langsung straight gara2 penghasilan istri lebih tinggi sih. Tentu ada faktor2 penyebab lain. Dimana faktor kebuntuan komunikasinya? Itu yang perlu ditelisik lebih jauh.

Hmm, semoga tidak begitu ya. Fastabiqul khairat saja yuk. Selama dibungkus akhlak karimah dan pandai menempatkan diri, semuanya akan baik-baik saja. Tuh buktinya, si lelaki berjiwa besar sekarang sudah beranak-pinak dan bahagia. Happy ending. Ya kan, ya kan? 😀 *nanya apa maksa*

~pojok kamar, 11.08.2016
*nulis buat represing di sela2 tumpukan data diser*

Iklan

3 comments on “Fear of Success

  1. jampang
    Agustus 18, 2016

    uhuyyyyyyy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 16, 2016 by in agama, Curahan Hati, inspirasi and tagged , , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: