berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Ada Apa dengan Nikah Dini?

ayah ibu3

sumber: kawanimut

Pas kemarin ada berita ada anak laki-laki umur 17-an menikah, jagat netizen ramai bin heboh. Apalagi anak seorang ulama kondang. Ada yang pro, banyak pula yang kontra.
Saya jadi pingin curcol eh nulis sedikit.

Standar rata-rata di negara kita anak umur belasan itu ya masih begitu. Lagi seneng2nya dolan, kumpul2, dsb. Nikah? Halah gak kebayang blas.
Tapi ada beberapa anak yang mengalami percepatan, dengan bentukan dan stimulasi intens dari keluarga dan lingkungan. Standar rata-rata jadi gak berlaku lagi. Kedewasaan mereka secara psikis dan mental melesat jauh dibanding anak-anak seusianya yang juga sama-sama beranjak dewasa (tapi lebih ke dewasa secara biologis). Nah, untuk anak-anak yang begini, pilihan menikah dini ya wajar aja. Memang sudah mature kok. Bapak ibunya dan keluarga besarnya juga yakin. Yang bingung kan keluarga lainnya, karena dibandingkan dengan anaknya sendiri atau anak di lingkungan sekitarnya.

Jadi standar kematangan tak berbanding lurus dengan umur biologis. Gak usah urusan nikah. Kalau minjam teorinya Kohlberg, yang disebut dengan principle conscience pada tahap pasca konvensional. Harusnya kan makin tua umur seseorang akan makin bijak, menjadikan hati nurani sebagai panglima. Tapi kenyataannya banyak tuh yang makin tua tetap aja prinsipnya kayak balita, ‘asal mamah (bisa juga bapak) senang’.Ada juga yang di belakang korupsi besar-besaran tapi di publik berusaha tampil alim sealim-alimnya, biar dibilang ‘anak manis’.

Nah, anak-anak  yang mature dengan cepat, itu ada, cukup banyak. Lompatan langkahnya memang beda. Jadi yo monggo saja toh, kalau memang siap lahir batin untuk menikah. Saya sebelumnya juga sudah melihat kok beberapa laki-laki yang menikah muda sebelum usia 20 tahun. Mereka tetap mampu menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab.
Terus ada gak yang gagal dengan menikah dini? Ya ada saja kalau mau dicari. Tapi itu pertanyaan yang bisa kita ajukan untuk yang nikahnya telat, ada gak yang gagal? Ya ada juga kan?

Terus tentang salah satu alasan nikah dini yang mengemuka; agar tak mendekati zina. Weelha, ternyata poin ini diserang juga. Kalau yang nyerang orang Islam, hayuk monggo dibaca lagi yuuk Qurannya. Kalau yang nyerang agama lain, bisa saya jelaskan sedikit bahwa di Quran memang ada larangan mendekati zina (bukan hanya melakukan lho yaa, tapi mendekati aja nggak boleh). Salah satu solusinya ya menikah bagi yang sudah berkemampuan. Kriteria mampu seperti apa, ya kembali seperti di atas. Nggak bisa digebyah uyah kalau usia layak nikah itu 25 tahun misalnya. Yang 17 tahun tapi siap, why not? Anak kita belum siap, itu lain cerita 😀

Saya sendiri pernah bincang-bincang dengan bapaknya anak-anak, menjajagi wacana. Bagaimana jika begitu anak-anak lulus SMA kalau memang siap menikah ya hayuk aja. Yang penting kesiapan datang dari mereka, dan kami orangtua membantu menuju kesana. Terus gimana kuliahnya? Lha emang ada larangan kuliah setelah nikah? Ada ding untuk kampus-kampus tertentu seperti kampus saya dulu. Suru tanda tangan bermaterai gak akan menikah selama pendidikan. Kasihan… Kasihan… 😀

Terus gimana biaya kuliahnya kalau anak kita menikah cepat? Lha emang ada larangan orangtua tetap membiayai kuliah anaknya meski dia sudah menikah? Betul (jika anak kita perempuan) bahwa walinya sudah beralih nanti dari bapak ke suaminya (hiks, sedih kalau bayangin yang fragmen inih). Tapi segala sesuatu yang bisa dikomunikasikan, kenapa dibikin njlimet?
Itu cuma bincang-bincang ringan saya dan suami. Upaya dari kami agar anak-anak tetap terjaga fitrah sucinya. Mungkin keluarga lain punya pandangan dan cara yang berbeda, ya monggo. Selama tak menerobos area haram, mungkin masih banyak cara yang bisa dijadikan pilihan.

Saya sangat terkesan dengan mbah kakung, KHM. Asyhoeri Soeyoethi, wallahu yarham, yang sangat preventif dalam soal pergaulan muda-mudi, terutama bagi anak cucunya sendiri. Kalau mbah menerima lamaran (sebagai keluarga pihak calon pengantin putri), pasti mbah akan langsung menanyakan calon pengantin prianya yang mana. Jika orangnya hadir, bakalan langsung diminta nikah saat itu juga, secara agama. Perkara KUA, “Iku, mung administrasi, biso sesuk“. Maklum mbah sendiri pernah jadi kepala KUA 😀
Atau, kalau melihat ada teman baik laki-laki atau perempuan yang bolak-balik datang ke rumah, Mbah akan lugas berkata, (misalnya pada teman perempuan),” Omahmu ngendi nduk? Bapak Ibumu sopo? Yen perlu sesuk aku tak rono tak nembung Bapak Ibumu nggo anakku”. Kebayang kan kagetnya sang teman 😀

Itu juga cuma contoh. Artinya saya melihat contoh yang baik dari moyang saya tentang bagaimana menjaga anak turunnya dari ancaman (tak sekedar) zina, tapi juga menjaga fitrah sucinya sejak awal. Melalui  hubungan dengan lain jenis yang sangat terjaga. Semoga saya pun mampu seperti Mbah. Allahummahgfirlahu warhamhu wa’afihi wafuanhu.

Iklan

17 comments on “Ada Apa dengan Nikah Dini?

  1. tia putri
    Agustus 12, 2016

    Suka sekali dg penjelasan mba mukti ini…
    Sy jg heran knp penjelasan meghindari zina malah banyak ‘diperbincangkan’ oleh sesama muslim sendiri.

    • muktiberbagi
      Agustus 12, 2016

      Hooh. Saya juga heran mbak. Bisa begitu kenapa ya

      • tia putri
        Agustus 12, 2016

        tapi sy gak bisa berargumen balik sebaik mba mukti 🙂

        btw, sy lihat di profil mba mukti, mba ini MG juga ya? MG brapa mba? Salam kenal dari MG 2003 😀

      • muktiberbagi
        Agustus 12, 2016

        Eh iyakah? Salam MG kalau begitu. Saya MG 90 mbak

      • tia putri
        Agustus 12, 2016

        iyaa mba 🙂

      • muktiberbagi
        Agustus 12, 2016

        2003 ya brarti masih muda banget. He.

  2. enci harmoni
    Agustus 12, 2016

    sepikiran mbak, saya juga pengennya nanti anak cepet nikah, kalo sma2 mash kuliah ya yang membiayai kedua belah pihak orang tua, yang penting gak boleh pacaran…

  3. Dewi Mariyana
    Agustus 12, 2016

    Syuka dengan bahasannya, Mba.

  4. enci harmoni
    Agustus 12, 2016

    sepakat mbak, saya dan suamipun sepakat gitu, ntar kalo pas kuliah ada jodoh, nikahkan saja, biaya hidup ya kita semua orang tuanya…

  5. Ibu Asiah
    Agustus 12, 2016

    Salam kenal Mak.. tulisannya seperti menyuarakan isi hatiku 😍

  6. novaviolita
    Agustus 12, 2016

    ga tau deh..apa yang dihebohkan… mak bapaknya setuju dari kedua belah pihak..kok.. diributin..

    banyak anak smp yg nikah karena mba malah..dirahasiakan…

    • muktiberbagi
      Agustus 12, 2016

      Yaa begitulah dunia mbak… Makin asing dgn agama

  7. April Hamsa
    Agustus 12, 2016

    Tapi jaman dulu mbah2 kita nikah usia 13, 14, 15 jg biasa aja hehe.
    Cuma emang utk reproduksi usia belasan tu blm terlalu siap sih…

    • muktiberbagi
      Agustus 13, 2016

      He iya. Utk reproduksi patokannya kan baligh. Sudah haid ng prempuan & sdh mimpi basah bg laki2. Masalahnya kadang tdk dibarengi dg mature itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 12, 2016 by in agama, Curahan Hati and tagged , , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: