berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Kehilangan Duit itu Nyeseek, Kawan…

Sebenarnya antara ragu dan ingin untuk menuliskan ini. Tapi rasanya memang perlu supaya saya bisa self healing lebih cepat, dan bisa beraktivitas dengan normal senormal-normalnya seperti biasa.

Singkat cerita, saya beberapa hari kemarin sempat dheleg-dheleg, karena kehilangan duit. Halah lebay amat, kehilangan duit aja sampe segitunya. Soalnya, pertama,  jumlahnya cukup signifikan. Berapa? Banyak dah. Nggo munggah kaji isih turah.
Kedua,
caranya kehilangan itu yang bikin nyesek. Mosok karena ketipu orang. Kalau ilangnya karena misalnya rugi dalam bisnis (jangan juga sih kalau bisa), itu ilang yang diperhitungkan sejak awal. Rada elegan. Nah cara ilangnya itu yang bikin saya dheleg-dheleg agak lama, lhaaa… kok saya bisa seceroboh ini? Bagaimana detil kejadiannya, saya nggak akan bahas lebih jauh yaa mohon maaf. Bikin saya empet hati soalnya.

Saya hanya ingin mengambil pelajaran (bahasa kerennya ‘ibroh‘) dari kejadian tersebut. Kan kudu begitu. Mau nangis sampek mata bengkak juga duitnya sudah gak balik lagi. Jadi ya kudu sabar, mencoba mengikhlaskan, dan memperbanyak istighfar.

Pelajaran pertama, jangan tunda sholat! Waktu kejadian itu ba’da zuhur, dan saya belum sholat. Pikiran saya yang bercabang antara buru-buru pengin sholat dengan pengin cepat beres itu urusan, malah fatal akibatnya. Jika saya sudah sholat, mungkin saya cepat nyadar kalau itu bagian dari penipuan. Ditambah kondisi saya yang dari ba’da subuh grabag-grubug panik karena ada sahabat yang dikabarkan meninggal, beritanya mendadak dan bikin kaget. Posisi saya saat itu adalah sepulang dari takziah menemui suaminya (yang sudah saya anggap anak angkat) di bandara. Jadi pikiran saya memang bercabang-cabang gak keruan. Urusan tentang sholat ini mengingatkan saya tentang kisah Umar bin Khattab RA. Beliau spontan menyedekahkan ladang kurmanya begitu tahu bahwa beliau ketinggalan sholat jamaah dzuhur karena sedang asyik di ladang. Cuma, sekualitas Umar mampu menyerahkan ladangnya dengan sukarela untuk mu’aqobah (menghukum diri agar kapok tak melakukan lagi). Nah kalau sekualitas saya, ladangnya kudu dipaksa ambil, dengan cara yang tidak disangka. Hiks, astaghfirullah, tsumma astaghfirullah. Untung ‘cuma’ ladang, bukan nyawa. Mana belum sholat ๐Ÿ˜ฆ

Pelajaran kedua, al-ma’tsuratnya jangan bolong. Harus diwiridkan setiap pagi dan sore. Semoga mampu menjaga diri dari berbagai kejahatan. Nah, ini instropeksi banget karena saya merasa bolong-bolongnya itu. Astaghfirullah…:(

Pelajaran ketiga, mungkin ada kewajiban yang belum saya tunaikan. Mendadak saya ingat bahwa zakat dari profit daycare yang sudah setahun ini berjalan belum saya bukukan. Astaghfirullah, kok bisa lupa! Buru-buru saya menghitung berapa yang harus saya keluarkan. Alhamdulillah ada rekap tiap bulannya sehingga memudahkan.

Pelajaran keempat, dukungan dari pasangan dan anak-anak sangat berarti saat kita mendapatkan musibah seperti ini. Terutama pasangan, karena pasangan dalam mendidik anak (dan cari duit juga). Begitu nyadar bahwa saya ketipu, orang pertama yang saya telpon tentu suami. Nggak pakai nangis sih (sampai hari ini malah gak bisa nangis, yang nangis malah para ART saya). Beliau hanya berujar singkat, (lama kemudian baru saya tahu kalau beliau sedang mimpin rapat di kantor),”Astaghfirullah. Istighfar aja, Jeng. Terus pulang aja ke rumah. Sekarang posisi dimana?”

Lalu saya pun pulang dengan lunglai, menunggu suami pulang sambil mendengarkan murottal di kamar untuk menenangkan hati. Allah, saya nyaris tak percaya ini terjadi. Tak biasanya saya seceroboh ini. Rasanya saya tipe yang sangat hati-hati untuk urusan begini. Atau, saya banyak dosa, ya? ๐Ÿ˜ฆ
Saat ba’da maghrib beliau pulang, langsung memeluk saya dan menghibur, “Sabaaar. Kita ikhlaskan. Itu cuma dunia. Bisa dicari lagi. Yang penting Ajeng pulang dengan selamat, utuh gak kenapa-kenapa”. Allah, terima kasih kau datangkan suami yang mampu menghiburku.
“Ajeng kok langung nelpon Mas, kenapa? Takut Mas marah ya?”
“Nggak sih. Kalau soal itu percaya, Ayah mah baiiik. Tapi ya kudu telpon, nyesek Mas, kok rasanya gini amat yaaa”
Duh. Andai saya disalah-salahkan suami karena peristiwa ini, mungkin saya sudah pingsan. Alhamdulillah sikap suami sangat tenang, jauh dari marah dan menyalahkan, sehingga saya terbawa tenang.

Lalu beliau menceritakan kisah temannya, agar sedih saya berkurang. Ada temannya yang mengalami kecelakaan dan tulang kakinya retak sehingga harus digips cukup lama. Tentu itu repot buat bapak-bapak yang harus mobile keluar mencari nafkah. Eh nggak lama kemudian turun surat mutasi dipindah ke luar jawa di pedalaman. Tapi sikapnya luar biasa, “Saya mengalami kecelakaan terus harus digips begini saya ridho. Saya masih digips begini terus harus mutasi juga saya ridho”.
Ada juga yang temannya baruuu saja mendapatkan jatah mobil dinas (mana yang keluaran terbaru), eh hilang! Artinya bapak tersebut harus menggantinya karena itu barang milik negara. Sikapnya ya berusaha ikhlas saja. Ya sudahlah.
Satu lagi kisah yang dia nukil dari buku ‘Suatu Subuh di Sukamiskin’. Menyikapi posisinya yang dipenjara, Pak Lutfi berujar kurlebnya begini, “Saya tidak menyalahkan KPK, Saya juga tidak menyalahkan Fatonah, atau siapapun. Memang Allah sudah menaqdirkan saya untuk berada di penjara saat ini. Entah bagaimana caranya.”
Kisah-kisah itu membuat saya lebih tenang, tak lagi membodoh-bodohkan diri sendiri. Memang taqdir-Nya uang itu harus ‘pergi’, entah bagaimana caranya. Itu rahasia Allah. Dan kebetulan caranya dengan saya ketipu. Hegg! Banyak yang harus saya benahi ini karena caranya gak elit banget, hiks.

Suami lalu juga memberikan masukan, supaya kami lebih banyak bersedekah. Mungkin selama ini kurang banyak. Juga mengingatkan saya untuk instropeksi. Antara lain jangan tidur lagi kalau habis subuhan. Hiks, iya kadang suka begitu kalau malamnya lembur-lemburan. Astaghfirullah.

Sikap anak-anak pun membuat saya merasa tenang. Saya hanya bilang pada mereka kalau saya ketipu. Hibban spontan mendoakan, “Aku doakan uang di orang itu cepet habis karena uang haram. Terus Ibu dapat gantinya yang lebih banyak dan lebih baik”. Aaamiiin. Anak yang lebih besar, terutama Hurin ketika kami berkunjung ke boardingnya, jelas ingin tahu kejadian detilnya. Dia pun lalu memberikan masukan, “Mungkin niatnya ada yang salah. Kemarin-kemarin kan aku dengar ibu bilang mau cari duit buat lunasin biaya umroh. Harusnya buat mencari ridho Allah”. Duh, astaghfirullah, dia benar. Hurin juga menambahkan, sama seperti ayahnya agar kami lebih banyak lagi bersedekah. Adapun Adnin, dia banyak diam. Mungkin ikut bingung karena dari awal melihat saya bingung.
“Ibu hanya butuh waktu kok, Rin. Dulu waktu kita kehilangan Fahrin, ibu kan juga biasa saja, nggak berlarut-larut. Paling nanti banyak nulis, ” jelas ayahnya pada si sulung.

Sungguh, keluarga sejatinya adalah harta yang tak ternilai. Dalam kondisi terpuruk begitu, maka jauh terasa lebih ringan saat suami mau menyediakan bahunya untuk berbagi beban, dan anak-anak yang tulus mendoakan. Keluarga lah tempat yang paling nyaman untuk berbagi cerita terutama cerita duka, tanpa kita harus merasa malu dan terhina.

Beberapa sahabat karib yang saya kabari (tanpa saya ingin cerita detilnya) juga melantunkan doa yang sama, sehingga saya merasa lebih tenang dan terhibur. Mmm, mungkin kadang-kadang kita kepo yaa pingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, ternyata banyak juga orang yang tak nyaman untuk bercerita rinci. Termasuk saya saat ini. Persis sewaktu Fahrin gak ada. Saya tak nyaman ditanya-tanya, saya hanya ingin didoakan saja ๐Ÿ˜ฆ

Dialog yang hangat  dengan suami dan anak-anak itu juga menyadarkan kembali pada saya tentang konsep rezeki. Sudah masuk rekening kita pun bukan jaminan bahwa itu rezeki kita. Rezeki adalah yang benar-benar sudah kita nikmati, kita gunakan, atau justru kita tabung untuk masa depan akhirat. Disini fungsinya iman, memahamkan diri bahwa Allahlah yang mengatur rezeki tiap makhluk-Nya. Jika saya mengikhlaskan,semoga itu bernilai sedekah yang pahalanya minimal berlipat 10. Itu dari sisi saya. Dari sisi yang nipu ya jatuhnya tetap harta haram.
Disini fungsinya iman, ketika tertimpa musibah kita menjadi mampu banyak instropeksi diri, sekaligus menyerahkan padaNya sambil melantunkan doa:

ุงู„ู„ู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฃุฌูุฑู’ู†ููŠ ูููŠู’ ู…ูุตููŠู’ุจูŽุชููŠู’ ูˆูŽุงุฎู’ู„ููู’ู†ููŠู’ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง

Allahumma aajirni fii mushiibati wakhlufni khairan minha
“Ya Allah berilah ganjaran atas musibah yang menimpaku ini, dan gantilah dengan yang lebih baik daripada yang hilang..

Atau doa sesuai perkataan sahabat (hadits mauquf):

ูŠูŽุง ู‡ูŽุงุฏููŠูŽ ุงู„ุถู‘ูŽุงู„ุŒ ูˆูŽุฑูŽุงุฏู‘ูŽ ุงู„ุถู‘ูŽุงู„ูŽุฉ ุงุฑู’ุฏูุฏู’ ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ุถูŽุงู„ูŽุชููŠ ุจูุนูุฒู‘ูŽุชููƒูŽ ูˆูŽุณูู„ู’ุทูŽุงู†ููƒูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ุงูŽ ู…ูู†ู’ ุนูŽุทูŽุงุฆููƒูŽ ูˆูŽููŽุถู’ู„ููƒูŽ

Yaa Haadiyadh- Dhaal wa raaddadh-Dhaalah. Urdud ‘alayya dhaalati bi ‘izzatika wa sulthaanika. Fa innaha min ‘athaa-ika wa fadhlika.
“Ya Allah, Dzat yang melimpahkan hidayah bagi orang yang sesat, yang mengembalikan barang yang hilang. Kembalikanlah barangku yang hilang dengan kuasa dan kekuasaan-Mu. Sesungguhnya barang itu adalah bagian dari anugrah dan pemberian-Mu.โ€

Kejadian ini juga mengingatkan saya agar tak terbudakkan dengan harta. Sebagaimana doa indah yang dikirimkan seorang sahabat saya, dan kondisinya pass banget dengan peristiwa yang saya alami kemarin tanpa dia tahu.

doa

โ€œYa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang jahat; dari pasangan yang menjadikanku tua (beruban) sebelum waktunya; dari anak (keturunan) yang berkuasa kepadaku; dari harta yang menjadi siksa bagiku; dan dari kawan dekat yang berbuat makar kepadaku, matanya melihat dan hatinya terus mengawasi, namun kalau melihat kebaikanku, ia timbun dan kalau melihat kejelekanku, ia sebarkan.โ€
(HR. Thabrani dalam Ad-Duโ€™aโ€™ 3: 1425, no. 1339, juga dalam Az-Zuhud, no. 1038. Syaikh Al-Albani menyebutkan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 7: 377, no. 3137, โ€œSanad hadits ini jayyid [1].โ€)

Mungkin masih banyak lagi pelajaran lain yang bisa diambil. Tapi semoga 4 catatan ini semoga ada manfaatnya untuk kita belajar lagi. Bagi yang baca, mohon doanya agar saya tetap sabaaar, dan mendapatkan ganti yang lebih baik.

 

 

Iklan

13 comments on “Kehilangan Duit itu Nyeseek, Kawan…

  1. Lenny Oktaviana Dewi
    Agustus 2, 2016

    terima kasih catatannya bu Mining….saya juga pernah mengalaminya. insyaallah ganti dari Allah lebih baik

  2. herva
    Agustus 2, 2016

    InsyaAlloh tergantikan yang lebih y mba, makasih sharingnya. Point penting “Jangan tunda solat” godaan dunia memang berat ๐Ÿ™‚

  3. Anwarudin Anwar
    Agustus 2, 2016

    Matur Nuwun…..menjadi inspirasi buat saya dan keluarga untuk melangkah kedepan

    Tetap bersyukur yang akan menguatkan kesabaran, Insya Alloh

  4. titi esti
    Agustus 2, 2016

    Masya Allah Mbaaaa……
    Semoga Allah ganti dengan yang lebih baik.

  5. leylahana
    Agustus 3, 2016

    Pas banget baca ini saat sedang berusaha ikhlas juga kehilangan job. Makasih sharingnya Bu.

    • muktiberbagi
      Agustus 3, 2016

      Sama2 mba leyla. Alhamdulillah jika kita bisa saling menguatkan ๐Ÿ™‚

  6. Nunung Yuni Anggraeni
    Agustus 3, 2016

    Terimaa kasih sharingnya…Semoga mendapat ganti yang lebih yaa Bu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 2, 2016 by in agama, inspirasi and tagged , , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: