berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

#DearMantan, dan Foto Masa Lalu

Seorang teman saya yang jaman sebelum berhijab sangat sering tampil menari Jawa, usahanya luar biasa dalam menutup masa lalunya. Foto-foto saat dia sudah baligh dan tanpa hijab, khususnya saat dia menari (tahu kan kalau kostum tari Jawa kebanyakan hanya kembenan saja), dia singkirkan dan masukkan kardus. Begitupun foto-foto yang dia ingat masih ada di temannya, dia minta baik-baik sebisa mungkin untuk ditarik kembali. Saya memandangnya luar biasa, karena saya tak setelaten itu untuk menutupi masa lalu. Hebat!

Lalu kini, sejak beberapa hari yang lalu, ramai muncul hestek ‪#‎DearMantan‬. Dipadukan dengan foto kini dan foto sekarang. Muncul juga berseliweran di wall fesbuk saya, beberapa orang yang menyandingkan foto kininya berhijab, foto lamanya tak berhijab. Nggak apa-apa sih kalau foto tak berhijabnya saat belum baligh. Yang agak sesak di benak, saat foto lama yang terpampang tak berhijab adalah tampak foto saat sudah baligh, sementara kini kesehariannya sudah berhijab.

Lantas saya teringat akan satu hadits Nabi tentang orang mujaahir. Siapa itu mujaahir? Mari kita simak haditsnya: Setiap umatku dimaafkan kecuali orang2 mujaahir. Termasuk orang mujaahir adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai Fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu. -Padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas (aib) dirinya. (HR Buchari Muslim).

Mohon maaf, saya tak bermaksud menggugat. Sebenarnya saya sedang takut atas diri saya sendiri. Saat kita sudah mendapatkan hidayah untuk berhijab, semoga kita mampu hijrah sebenar-benarnya hijrah. Biarlah masa lalu menjadi kekayaan pengalaman bagi kita secara pribadi, untuk terus mensyukuri bahwa Allah telah bukakan pintu hidayah pada kita sebelum terlambat. Bukan untuk kita ceritakan pada orang lain. Karena saya juga takut, kadang setan begitu lihai menggoda, hingga masa lalu itu menjadi tampak sangat menarik untuk diungkap kembali, diceritakan, bahkan dibanggakan. Naudzubillah, semoga kita tak termasuk yang seperti ini.

Lalu saya teringat sebuah catatan kecil seorang senior di kampus. Masa lalunya juga adalah penari, tapi bukan penari Jawa. Di salah satu dinding kamarnya, saya melihat foto dirinya, lalu di bawahnya ada tulisan. Singkat tapi mak jleb banget buat saya saat itu yang baru awal berhijrah, sehingga sampai hari ini masih saya ingat meski sudah 25 tahun yang lalu.

Begini tulisannya:

atas jahiliyah

Sejatinya, saat kita tampak baik di hadapan teman-teman kita, bukankah karena Allah yang Maha Sayang telah berbaik hati menutupi aib kita? Hanya ‘masa lalu yang tampak heboh’ saja yang berani kita buka sendiri di depan orang lain. Masih adakah aib-aib yang lain yang kita sembunyikan, dan takut sekali jika orang lain tahu maka kita akan dikucilkan? Hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya.

Sehubungan dengan kasih sayang Allah yang telah menutupi aib kita, sangat menarik kisah masa lalu yang terjadi pada Nabi Musa dan kaumnya, saat Bani Israel pada waktu itu ditimpa musim kemarau panjang. Mereka meminta kepada Nabi Musa agar Allah segera turunkan hujan. Maka Musa dan 70 ribu pengikutnya berkumpul di padang pasir nan tandus, bermunajat meminta hujan. Tapi hujan tak kunjung datang, matahari pun tetap benderang. Hingga Allah berfirman pada Musa,”Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian”.
Lalu Musa pun berteriak lantang pada kaumnya,”Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah selama 40 tahun,  keluarlah ke hadapan kami! Karena engkaulah hujan tak kunjung turun!”
Namun tak ada seorang pun yang keluar dari kerumunan dan menghadap Musa. Termasuk seorang lelaki yang dengan gelisah melirik ke kanan dan ke kiri, dan mendadak sadar bahwa dirinyalah yang dimaksud Musa. Sungguh ia gundah, karena jika ia menghadap Musa, akan terbuka tabir masa lalunya. Tapi jika dia tak menghadap, hujan tak akan turun dan kaumnya akan makin tersiksa, termasuk diri dan keluarganya. Ia hanya mampu menyesali perbuatannya dengan lirih, bertaubat pada Allah dan berkata,”Ya Allah, aku telah bermaksiat kepadaMu selama 40 tahun, selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepadaMu, maka terimalah taubatku.”

Tak lama setelahnya, mendung menggelayut dan awan menghitam, lalu turunlah hujan dengan derasnya. Musa pun keheranan dan berkata, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, padahal tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.”
Allah berfirman,”Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”
Musa berkata dengan penasaran, “Ya Allah, tunjukkan padaku hamba yang taat itu.”
Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal ia bermaksiat kepadaKu, apakah Aku membuka aibnya sedangkan ia taat kepadaKu?”
(kitab ‘Fii Bathni al-Huut’, Dr. Muhammad Al Ariifi).

Semoga Allah senantiasa memelihara hati-hati kita, agar kita tak terbuai dan tertampakkan indah untuk masa lalu yang jahiliyah.

 

Iklan

6 comments on “#DearMantan, dan Foto Masa Lalu

  1. bukanbocahbiasa
    April 29, 2016

    JLEB banget dan sangat bergizi mbak.
    Thank you. Thank you

  2. jampang
    April 29, 2016

    nah…. saya sempet juga lihat tuh yang begitu.
    jadi pengen nulis juga tentang topic ini…. tp blm ada ide 😀

  3. Ida Nur Laila
    April 29, 2016

    Hmmm dalemm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 29, 2016 by in agama, Curahan Hati, inspirasi and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: