berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Sensi Tapi Nggak ‘Sensi’

image

Ada pengamatan sekilas di sekitar. Hal ini juga diaminkan beberapa teman yang saya ajak diskusi soal ini. Tentang orang yang sensi. Dalam hal ini sensi yang dimaksud adalah ‘gampang tersinggung’, karena sensi atau sensitif sejatinya bisa bermakna positif bisa negatif. Nah pengamatan saya begini: Kenapa ya, orang yang sensi seringkali justru tidak cepat tanggap saat ucapan/perilakunya menyakiti hati orang lain? Tentu yang saya amati kaum perempuan. Karena yang suka ‘main perasaan’ utamanya adalah perempuan.

Dengan kondisi begitu, akhirnya yang kasihan adalah orang-orang di sekitarnya. Kudu sangat hati-hati kalau bicara supaya Miss Sensi ini tak lantas ngambeg atau nangis. Di lain pihak, teman-temannya siap-siap menelan pil pahit jika ada ucapan/perilaku dari Miss Sensi ada yang menohok, tapi terpaksa diam saja takut jadi prahara.

Beberapa teman mengiyakan fenomena serupa. Bahkan ada yang bercerita, saking tak tahannya harus menahan diri pada saudara jauhnya yang super sensi, akhirnya dia bicara blak-blakan,”Lha kok enak amat ya. Kamu minta aku hati-hati bicara karena kamu ngaku gampang tersinggung. Etapi giliran kamu bicara yang bikin aku mangkel sampai kudu nahan emosi, kamu gak ngeh juga. Masak aku suruh nahan emoai terus. Aku kan juga manusiaaa!”.

Saya gak tahu ini fenomena apa. Tapi kalau dilihat dari gagasannya Gardner, tipe seperti ini masuk yang kecerdasan interpersonal nya rendah. Sulit menangkap sinyal-sinyal emosi orang lain, baik dari bahasa tubuh maupun bahasa verbal mereka.
Atau bisa juga termasuk yang egois. Maunya dipahamin, tapi nggak mau mahamin orang lain.

Jadi kudu gimana? Kalau kata orang psikologi, asertif saja. Saya oke, kamu juga oke. Bukan saya oke, tapi kamu gak pernah oke.

Saat tak nyaman cukup bilang,”Maaf saya tak nyaman”. Kata maaf menunjukkan bahwa masalahny di kita, bukan lawan bicara. Meski secara esensi kadang ada juga sih ucapan dari lawan bicara yang perlu dikritisi. Nah kalau nemu yang begitu, bisa dilanjutkan,” Sebab tadi ada ucapan bla bla bla. Menurut saya, sebaiknya bli bli bli. Tapi maaf kalau saya salah”.

Buat yang muslim, ada baiknya sering-sering berdoa: Rabbana laa tuzigh quluubana ba’da idz hadaitana wahablana min ladunka rohmah. Ya Rabb, jangan jadikan hati kami condong pada kesesatan, sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami. Dan karuniakanlah rahmat dari sisiMu, karena sesungguhnya Engkau Maha Memberi.

Semoga kita dijauhkan dari sensi yang tak sensi, deh! 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 28, 2016 by in perempuan and tagged , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: