berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Menertawai Diri Sendiri

Ada banyak harapan dalam diri kita, tapi kadang tak berjumpa dengan kenyataan yang sama. Itulah kehidupan. Dari kesenjangan antara harapan dan kenyataan itu, justru berkembanglah peradaban, melalui serangkaian penelitian. Bahasa ndesonya, das sollen dan das seign, begitu katanya.

Saat menjumpai kenyataan yang tak sesuai harapan, butuh kiat sendiri untuk tetap menjaga kewarasan. Memilih tombol switch yang tepat, sesuai di mana kita berada. Ada masalah di kerjaan, tak berarti ada legitimasi untuk meluapkan emosi negatif pada anak dan pasangan. Itu sih jadi Freudian banget, katarsis emosi yg katanya disebut replacement. Butuh katarsis yang pas, agar tak merugikan orang-orang terdekat yang kita cintai. Meski katanya, mengelola emosi dalam keluarga justru paling susah. Karena kita merasa akan terus dimaklumi. Apalagi oleh pasangan atau anak sendiri. “Masak sih nggak maafin Ibu, kan tahu kalau Ibu lagi kesel ya begitu”. Padahal, justru tanggung jawab kita terbesar setelah kepada Tuhan adalah disitu, di keluarga kecil kita.

Saat ada masalah di rumah, tak berarti ada legitimasi untuk mengumbar aib orang dalam keluarga kita, pada teman tempat curhat. Tetap harus dijaga adab. Dan itulah susahnya. Mencari solusi agar hati kita menjadi lebih nyaman, tapi tanpa melukai hati orang-orang yang sebenarnya menyayangi kita.

Banyak kiat agar kita tetap waras. Mungkin salah satunya adalah dengan menertawakan diri sendiri. Diri sendiri lho ya, bukan orang lain.
“Bacanya udah 5 kali kok nggak ngerti-ngerti. Emang beda ya kalau usia sudah di km 40”.
“Tidur kena AC aja kok masuk angin. Pancen wong ndeso kluthukan tenan”.
“Baru diomelin dikit sama pembimbing aja udah pengin nangis. Cengeng banget aku ya”.
“Tiap ketemu orang kok ditanya kapan nikah? Lha kok nanya aku coba wong aku juga gak ngerti jawabnya”.
Dan seterusnya.

Butuh kelapangan hati dan keterampilan untuk mampu menertawakan diri sendiri. Agar mampu berdamai dengan aneka masalah. Ben tetep waras 🙂

#####
*tulisan iseng sambil nungguin cah lanang, dan memending beberapa agenda hari ini*
ttd: mbokne hibban aka mamarazi

image

Iklan

4 comments on “Menertawai Diri Sendiri

  1. Lidha Maul
    Maret 23, 2016

    saya sendiri sedang merenung tentang ini, dalam batasan tertentu menertawakan diri sendiri adalah menghargai diri sendiri apa adanya.

    • muktiberbagi
      Maret 23, 2016

      Iya betul mbak. Masuk kecerdasan intrapersonal kalau pake bahasanya gardner

  2. ipeh alena
    Maret 23, 2016

    Menertawakan diri sendiri, salah satu cara saya agar akrab dengan diri saya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 23, 2016 by in agama, samara and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: