berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Tak Hanya Anak Durhaka, Orangtua Pun Bisa Durhaka

Sore itu, saya dan suami pergi belanja mingguan ke mart dekat rumah. Di pintu masuk, kulihat seorang bocah 4 tahunan menangis keras, membuang sandalnya ke belakang, lalu berguling-guling. Entah minta apa dan belum dituruti sampai dia tantrum begitu. Sang kakak yang ada di dekatnya segera membujuknya untuk bangun, tapi gak mempan. Lalu dia panggil ibunya. Barulah saat si ibu yang membujuk, bocah itu mau bangun dan mengenakan sendalnya lagi.

Mulailah saya menyusuri rak demi rak belanjaan, sesuai list barang-barang yang kami butuhkan. Agak lama. Di salah satu rak, saya ketemu bocah kecil itu lagi, hanya dengan kakaknya. Mungkin ibunya sedang ada di rak lain. Entah, apakah bocah itu merasa keinginannya belum dituruti, dia tantrum lagi. Tapi kali ini cuma nyopot sendalnya, dan berdiri di dekat rak sambil menampakkan muka cemberut. Tiba-tiba datang seorang laki-laki dewasa mendekati bocah itu. Raut mukanya tampak marah. Dengan kasar diambilnya sepasang sandal kecil, lalu didekatkan pada bocah itu. “Pakai! Awas kalau dicopot lagi!”
Dengan segera saya paham, mestinya ini ayahnya. Si bocah bergeming, masih ingin protes. Tak sabar, laki-laki itu menampar si bocah sambil memakaikan sandal dengan paksa. Langsung pecahlah tangis anak kecil itu. Saya cuma bisa mengamati sambil terkaget-kaget, sampai lupa tadi ke rak situ mau beli apa. Ini ayah macam apa, anak sendiri main tampar aja? Batin saya berkecamuk antara ingin mengingatkan bapak itu, tapi juga gak nyaman takut mencampuri urusan orang. Di sela tangisnya, si anak berteriak,”Ibuuu…!”.

Lalu datanglah ibunya dengan tergopoh-gopoh. Segera meraih dan menggendong anak itu, membujuknya. Sambil masih menangis pelan, si bocah menurut saja saat dimasukkan ke tempat duduk khusus anak yang menyatu dengan troly.”Cup cup, diapain tadi?” tanya ibu pada anaknya. Mata saya langsung refleks mencari si bapak. Loh kemana kok tahu-tahu sudah nggak kelihatan? Celingukan sambil beranjak ke rak lain, saya melihat si bapak itu sedang asyik melihat-lihat rak sandal jepit dewasa. Sendirian. Tanpa direpotkan dua anaknya, juga istrinya. Hmmm.

Fenomena semacam ini mungkin akan/pernah sering kita lihat. Anak yang diperlakukan semena-mena oleh ayah atau ibunya. Seolah melupakan bahwa anak adalah anugerah terindah, amanah yang Allah titipkan pada kita. Mendadak saya teringat istilah ‘anak durhaka’, bagi anak yang tidak mau taat pada orangtuanya. Tapi bagaimana anak akan taat, jika orangtuanya sendiri tak mencontohkan untuk dekat dengan anaknya layaknya sahabat? Tidak suka bermain dengan anak-anak, apalagi nyebokin saat anak bab. Merasa terganggu privacy-nya saat anak-anak bergelayut atau merengek manja. Dan seterusnya. Apakah terlupa dari ingatan kita, bagaimana Baginda Nabi sengaja memperlama sujudnya hanya gegara dua cucunya yang masih bocah menaiki punggungnya? Bagaimana baginda Nabi mempercepat bacaan sholatnya saat didengarnya suara tangisan bocah dari jamaah wanita? Bagaimana beliau mengingatkan sahabatnya, Jabir, yang jarang sekali mencium dan memeluk anaknya, agar membiasakan untuk melakukannya sebagai tanda sayang selaku orangtua?

Ibu atau ayah, memiliki peluang yang sama. Peluang menjadi orangtua shalih, atau orangtua yang durhaka. Lalu perlakuan orangtua pada anak ini menjadi cetak biru yang tersimpan abadi dalam memori si anak. Menjadi dasar pijakan baginya saat ia dewasa, untuk memperlakukan orang-orang dekatnya. Anak keturunannya, juga orangtuanya. Jika ia dibesarkan dalam budaya penuh hardikan, bisa jadi dia menjadi seorang dewasa yang lebih galak dan gampang menghardik anak-anaknya, melebihi apa yang dilakukan orangtuanya dulu. Bahkan, bisa jadi pula anak akan memperlakukan orangtuanya yang sudah renta dengan kasar dan galak, sebagaimana dulu orangtua memperlakukannya saat ia kecil. Naudzubillah. Pilihan sepenuhnya kembali pada kita.

 

image

Iklan

2 comments on “Tak Hanya Anak Durhaka, Orangtua Pun Bisa Durhaka

  1. Herdi
    Maret 9, 2016

    Sayah juga suka bingung melihat tingkah laku orang tua seperti itu, padahal anak lahir ke dunia ini bukan karena keinginan dirinya tp atas seizin Alloh lah dia lahir melalui perantaraan kedua orang tuanya.

    Jadi mendapatkan anugerah dipercaya mengurus amanah Alloh seharunya menjadikan setiap orang tua ber akhlak yg baik dalam pelaksanaannya.

    • muktiberbagi
      Maret 9, 2016

      Iya. Semoga jadi bahan instropeksi kita ya om. Makasih dah mampir dimarih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 9, 2016 by in agama, keluarga, parenting, pendidikan anak and tagged , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: