berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Bajuku Mengajari Tentang Cinta dan Setia

baju kotak

Ahad yang lalu. Sepulang dari silaturrahin ke sahabat-sahabat lama di jurangmangu, di mobil, baru aku menyadari sesuatu. Tentang baju kotak-kotak hijauku. Ini baju bersejarah, telah menemaniku jauh sebelum aku menikah. Jangan tanya kenapa kok masih muat aja sampai sekarang ya. Namanya juga gamis gombrang, BB mau berapa pun ya masuk aja dengan aman 😛
“Mas, tahu nggak? Ini baju dari jaman belum nikah lho. Jaman masih kuliah S1 belum lulus malah”, kataku sambil tertawa.

Ayahnya ikut tertawa geli,”Hmm, benar-benar tipe SETIA. Kan banyak tuh selain baju di rumah, yg Ajeng punya sebelum nikah. Meja belajar, tempat tidur lipat, apa lagi ya? Sampai sekarang masih dipakai juga. Heraan. Haha”.
“He. Waktu itu udah kusortir. Rasanya udah kukarungin semua tuh baju-baju lama. Tapi yang ini masih tersimpan satu rupanya. Mungkin karena suka potongannya yang model payung bawahnya”.
“Ya udah besok lagi njahitin baju, suruh model kayak gitu aja kalau suka”. Kali ini nasehat khas laki-laki. Simpel dan praktis.
” Iya juga yaa”.

Lalu aku penasaran jadinya, sejak kapan aku punya baju ini sebenarnya? Dan ternyata  saat membuka album foto lama, menemukan betapa baju ini telah menemaniku sejak lama, untuk menjalin silaturrahim dengan saudara. Ia pernah kupakai untuk ke borobudur saat dikunjungi ‘gerombolan’ pendekar jalan pemuda rawamangun yg tergabung di forum amal islami (AMMI). Mereka menginap di rumah (kampungku, Purworejo), beberapa hari, karena ada salah satu di antara pengurus AMMI yang menikah dan mendapatkan gadis Jogja. Waktu itu di AMMI yang menikah ya baru orang itu, pak Irwan namanya. Yang lain masih single semua. Kunjungan ke jawa tentu tak disia-siakan oleh mereka untuk halan-halan juga ke berbagai tempat wisata. Termasuk ke borobudur dan jogja.

Baju hijau ini pernah juga kuajak menemani adik-adik (yang waktu itu mereka juga masih single semua) untuk rihlah (wisata) ke TMII. Waktu itu aku tinggal di Utan Kayu, baru punya anak satu. Aku ingat sebenarnya Hurin, anak pertamaku, waktu itu sakit panas. Tapi karena acara ini sudah diagendakan jauh hari sebelumnya, melihat aku yang gundah justru suami yang legawa,”Sudah, Ajeng berangkat saja. Kasihan kan sudah janji sama adik-adik itu. Hurin gakpapa sama Mamas, nanti Mamas akan sering cek panasnya. Semoga cepat membaik”.
Ucapan yang sangat melegakan dari suami untuk seorang istri yang sedang galau.

Mungkin masih ada pazel-pazel peristiwa lain bersama baju ini, yang dibaliknya mengundang kisah sendiri. Tapi kebetulan tidak menemukan fotonya.

Pekan lalu, saat kupakai kembali baju ini. Seperti tiba-tiba tersadarkan. Memang hanya sehelai baju. Jadul pula. Tapi mampu mengajarkan padaku, tentang arti setia, juga cinta.

*Ditulis dengan penuh rindu untuk semua yg ada di foto itu, khususnya foto jadul karena kini jarang bersua. Uhibbukum fillah ❤

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 3, 2016 by in inspirasi and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: