berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Pilih Sekolah Buat Anak: di Rumah apa di Sekolah?

IMG-20160119-WA0021

Suasana kelas 1 di SD nya Hibban

Jaman sekarang, segala sesuatu banyak pilihan. Termasuk urusan sekolah. Mau cari sekolah yang kayak apa, banyak versinya. Mau milih sekolah di rumah aja, juga bisa. Lagi buming tuh sekolah rumah aka home schooling.

Lebih baik mana, home schooling atau sekolah beneran? Ini pertanyaan yang jawabannya tidak akan pernah bisa tepat. Dua-duanya baik, sesuai kondisinya masing-masing. Yang tidak baik jika saling mengklaim bahwa sistem yang dianutnya lah yang terbaik, yang lain salah kabeh. Bahkan dibilang bullshit. Ealah.
Yang orangtua pelaku HS alhamdulillah, punya lebih banyak waktu bersama anak. Tapi yang orangtua bukan pelaku HS juga tak perlu berkecil hati, Anda tak lantas cuma menjadi ‘setengah orangtua’ ketika memercayakan pendidikan anak ke sekolah formal.

Saya bukan tipe yang hitam putih melihat sesuatu. Meski hingga saat ini saya bukan pelaku HS untuk anak-anak saya, tapi saya mengikuti beberapa grup HS, sering berdiskusi dengan para pelaku HS. Lah cari ilmu boleh dong kemana saja, asal bukan ilmu sihir.

Bagi saya, memasukkan anak ke sekolah formal atau memilih mendidiknya sendiri di rumah (HS) adalah pilihan yang sama-sama mungkin, bahkan bisa juga dilakukan oleh sepasang orang tua untuk anak yang berbeda, atau untuk tempat yang berbeda, atau untuk waktu yang berbeda. Jadi ada konteks kekinian, kedisinian, dan keunikan anak. Kedisinian misalnya begini. Jika saat ini saya ditakdirkan hidup di negeri orang, dimana sistem pendidikan di situ saya sendiri masih ragu, mungkin saya akan memilih home schooling daripada sekolah formal. Ini pernah dialami langsung oleh teman yang ke Jepang. Selama beberapa tahun di sana, dia memilih pola HS. Di Indonesia dia sendiri adalah guru SD. Teman ini melakukan HS tapi masih didukung bahan-bahan pelajaran dari SD nya di tanah air, dan ada perjanjian pada waktu menjelang ujian SD, si anak perlu pulang ke tanah air untuk ikut ujian. Ternyata bisa kok sekolah formal dan HS bekerja sama, bukan untuk dihadap-hadapkan.

Nah, sekarang dalam konteks kekinian. Saya memilih anak-anak di sekolah formal sekarang ini. Kenapa? Karena saat ini iklim di sekolah anak-anak juga mendukung. Pihak sekolah terbuka untuk menerima masukan-masukan dari orangtua. Bahkan guru-gurunya yang perempuan ngaji nya sama saya. Lalu, bagaimana saya tidak akan memercayai mereka?
Perkara ada kurangnya, ya wajarlah. Makanya perlu komunikasi timbal balik. Lah emangnya kita sebagai orangtua bersih tanpa cacat cela? Banyak lah kekurangan kita, kalau mau di’petani’.

Jadi, menyalahkan pihak sekolah karena begini dan begitu, sama sekali bukan tindakan yang bijak. Jika kita masih menyekolahkan anak disana, guru-guru juga perlu dijaga ‘gezagh‘ (wibawa)nya agar anak tetap percaya dan hormat. Tidak mengumbar aib guru di depan anak, kecuali kita siap mendidik anak itu sendiri. Tetapi melakukan HS karena patah arang dengan sistem di sekolah, juga tidak bijak. Jika mau HS, ya lakukan dengan energi positif, bukan energi kekecewaan. Akan beda nanti dampaknya buat hasil pendidikan anak.

Kadang, kita milih sekolah juga karena nawaitu ‘menghidupkan’,  semangat perjuangan. Gak cuma soal melihat mutu sekolah yang d’best. Itu yang saya contoh dari alm bapak. Nyekolahin anak-anaknya di SD Muhammadiyah Purworejo, yang kondisinya prihatin pangkat tiga (persis seperti gambaran SD Muhammadiyah nya laskar pelangi). Saya yang dianggap kakak-kakak ada kans prestasi juara se-kabupaten tapi (dianggap) selalu terjegal oleh kandidat dari SD-SD yang bonafit, sampai ada ide kakak-kakak agar saya pindah saja ke SD tersebut biar ‘moncer‘ prestasinya. Tapi apa kata bapak saya waktu itu? Kata bapak ringkas aja, “Pindah? Ya boleh. Nanti tapi kalau SD Muhammadiyah-nya sudah ambruk”.
🙈 pengurus Muhammadiyahnya, dilawan 😀

Sekarang kasusnya miriplah dengan SDIT & TKIT dekat rumah tempat saya nyekolahin anak-anak. Dari sisi mutu, mungkin masih kalah dengan beberapa SDIT dekat-dekat sini. Apalagi dengan SD swasta islam yang berduit. Maklum SD yang ini masih merintis. Sarana masih terbatas. Tapi, tiap ada yang nanya saya, kenapa anak-anak sekolah di situ, akan saya jawab, “Saya nggak cuma cari mutu, tapi ini sekolah kita. Kita yang memperjuangkan sama-sama supaya sekolah ini maju nantinya. Kalau kita aja gak percaya, terus bagaimana kita bisa mengharap orang lain percaya?”
Alhamdulillah, saat ini SDIT tersebut pelan-pelan naik prestasinya.

Demikian curcol siang ini 😀
#eh

Iklan

One comment on “Pilih Sekolah Buat Anak: di Rumah apa di Sekolah?

  1. edwinhayadi
    Februari 4, 2016

    suka dengan kata2 terakhirnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 27, 2016 by in inspirasi, Neguneg, pendidikan anak and tagged , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: