berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Menyikapi Masalah

image

Cerita ini saya dapatkan dari Bapak alm, Farid, waktu beliau masih remaja. Rumah mbah di Magelang cukup besar dan panjang ke belakang dengan banyak kamar, seperti gerbong kereta api. Rumah khas peninggalan Belanda. Karena banyak kamar tersisa dan untuk menambah income, beberapa kamar dikoskan pada para pemuda. Salah satu pemuda, sebut saja Mas Slamet, cukup dekat dengan bapak. Mas Slamet ini orangnya anteng, banyak diem, sedang bapak saya waktu itu tipe anak yang banyak nanya πŸ˜€

Karena dekatnya, bapak sampai hapal beberapa benda pribadi milik mas Slamet, termasuk sepatu favorit yang sering dipakainya. Sepatu hitam khas bermerk, sebut saja Beta. Nah, beberapa lama kemudian, karena mas Slamet sudah selesai urusannya di Magelang, beliau gak ngekos lagi. Pamit pulang ke kota asalnya.

Setahun kemudian, Mas Slamet datang lagi ke rumah mbah untuk sekedar menyambung silaturrahim. Farid remaja tentu girang. Tak luput dia amati sepatu mas Slamet, yang tetap sepatu hitam merk Beta itu, tapi justru tampak lebih mengkilap.
“Lho Mas, sepatunya kok awet banget. Malah kinclong sekarang. Memang nggak tambah sesek?”, tanya bapak.
“Nggak kok dek, ini saya beli baru lagi. Merk dan jenisnya sama”
“Terus yang lama kemana?”
“Yang lama kebakar”
“Lho, kok bisa kebakar?”
“Iya, rumah di kampung kebakar. Semua isi rumah kebakar termasuk sepatu saya”, jawab mas Slamet dengan tenang.

Bapak cuma bisa melongo kaget. Untuk musibah sebesar itu, Mas Slamet bercerita dengan tenangnya, dan tidak tampak raut kesedihan di wajahnya. Mungkin kalau nggak ditanya, juga nggak akan cerita kalau rumahnya ludes terbakar.

Lessonnya, cuma mau bilang bahwa setiap orang punya masalah. Hanya, lalu kita yang memilih untuk menyimpan masalah tersebut dalam kantong dan menyelesaikannya dengan diam, atau membuat pengumuman kesana kemari dan menampakkan agar seluruh dunia tahu bahwa kita sedang ada masalah. Orang yang mampu berpikir tenang saat menghadapi masalah dengan tidak banyak mengeluh, tentu memiliki manajemen konflik yang tinggi. Meyakini bahwa setiap masalah bisa diatasi, sebisa mungkin oleh dirinya sendiri. Dalam terminologi Islam, ini yang saya rasa disebut IFFAH, menjaga diri dari meminta-minta, mengeluh, dan sebagainya.

Kita punya masalah dalam hidup, ya karena kita masih hidup (di dunia). Yang nggak punya masalah hidup, itu yang sudah meninggal πŸ™‚

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 31, 2015 by in Neguneg and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: