berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Mementahkan Sejuta Alasan

akhwat tangguh

Seorang ibu yang tak muda lagi, sebut saja Rani, beberapa hari ini kondisi fisiknya menurun. Batuk pilek berkepanjangan hingga nyaris tak bisa tidur. Sore itu, adalah jadwalnya mengaji pekanan.
Sakit, kadang mampu menjadi ujian. Juga godaan. Godaan untuk menjadikan sakit sebagai alasan agar tidak usah datang ke kajian pekanan. “Kan memang sakit, tidak bohong”, begitu suara jahat berbisik. Rani sempat galau. “Datang – nggak -datang – nggak?”

Lalu dia teringat, dua hari sebelumnya dia pergi menjenguk putranya yang menuntut ilmu di luar kota. Dia juga teringat beberapa hari ini, pekerjaan kantornya terbengkalai karena dia lebih banyak berbaring saja selama di rumah. Mulai dia berusaha berdialog dengan hatinya.
“Jika dalam kondisi sakit persis seperti ini, anakku minta aku datang menjenguknya, kira-kira aku datang nggak?”
“Jika dalam kondisi seperti ini, atasanku meminta untuk bertemu karena ada hal penting yang harus dibicarakan, apakah aku akan berusaha tetap memenuhi panggilannya?”

Ah, ternyata hati kecilnya menjawab dua pertanyaan itu dengan: “Ya, aku akan datang. Dengan berbagai cara yang aman supaya sakit tidak berkelanjutan”.
Lalu, mengapa untuk ngaji yang cuma sepekan sekali justru mudah sekali mengungapkan sakit sebagai alasan? “Tidak, tidak, aku tidak boleh kalah. Aku HARUS datang”.

Lega hatinya saat dia mulai meniatkan itu. Seolah-olah ada beban di dadanya yang kini terangkat sudah. Mulailah dia mempersiapkan diri, termasuk membungkus tubuhnya dengan jaket tebal dan masker penutup wajah, menembus debu-debu jalanan yang makin gersang sepanjang musim kemarau ini.

Sepulang dari pekanan, Rani merasakan kondisi fisiknya jauh lebih segar. Memang batuk-batuknya agak kambuh lagi, tapi itu bukan karena dia bepergian. Itu karena Rani tak tahan untuk tidak mencolek goreng pisang yang dihidangkan 🙂

akhwat tangguh 01

Rani tersenyum sendiri. Teringat saat masih menjadi ibu muda, sedang hamil anak kedua. Saat itu, kondisi ibukota ‘panas’. Terjadi krisis ekonomi yang berimbas pada krisis politik. Lalu, ada seruan kepadanya, agar siang itu ikut berkumpul, long march turun ke jalan menyampaikan hak-hak sebagai warga negara. Dalam kondisi hamil tua, dia mulai galau, “Berangkat nggak ya, kalau lagi hamil begini? Lagian aku nggak ada pembantu. Kalaupun pergi harus menitipkan anak pertamaku. Tak mungkin kubawa ke jalan raya yang panasnya menyengat seperti itu”. Ah, itu alasan yang sangat pas, rasanya.

Melalui telpon, pagi itu dia berdiskusi dengan suaminya yang sudah ada di kantor. Kira-kira perlu berangkat atau tidak? Suaminya, dengan nada khawatir, memintanya untuk tetap di rumah saja. Tentu saja karena ia tahu istrinya sedang hamil tua. “Nah, satu alasan lagi yang memperkuat. Dilarang suami. Bukankah istri harus taat pada suami?”, bisikan itu terdengar sayup-sayup muncul, entah dari mana.

Rani terduduk, diam membisu. Pandangannya menerawang ke lemari buku, dan matanya seketika menangkap buku sirah nabawiyah jilid pertama. Entah kenapa, tanpa membuka lemari buku itu, saat itu pula dia teringat perjuangan para pendahulu. Mereka yang berjuang demi tegaknya Islam, meskipun harus dibayar dengan nyawa. Ingatannya lalu melayang pada Sumayyah, syahidah pertama yang meninggal karena disiksa kaum kafir Quraisy. Terpana Rani menyadari, bahwa Sumayyah saat itu juga sedang hamil, seperti dirinya! “Astaghfirullah, Sumayyah yang hamil bersedia mati demi Islam. Masak aku yang sekarang juga hamil cuma diminta turun ke jalan masih ragu mau berangkat. Mana janjiku yang katanya mau ikut menegakkan agama ini di bumi?”

Dengan sigap dia bangkit dari duduknya, menelpon suaminya lagi. Menceritakan apa yang ia renungkan, hingga akhirnya suara di seberang sana berkata, “Ya sudah nggak papa kalau mau berangkat. Tapi hati-hati yaa”

Alhamdulillah, paling tidak ridha suami telah ia miliki. Segera ia mempersiapkan diri, juga mempersiapkan anak sulungnya untuk dititip sementara ke tetangga yang selama ini telah ia percayai.
Siang selepas dzuhur itu mantap ia berangkat, berganti bis dua kali untuk sampai lokasi.

Hingga senja itu, seusai aksi, telponnya berdering. Dari suaminya. Meminta agar ia tetap ada di situ, tidak pulang ke rumah dengan naik bis lagi. Dia akan mampir sebentar ke lokasi sepulang dari kantor. Tentu dengan motor, satu-satunya kendaraan yang waktu itu mereka miliki. Rani tersenyum. Tentu sesiang ini suaminya sangat khawatir. Karena saat aksi tak jarang harus berlari. Manalah tega kalau harus ditambah berdesakan naik bis lagi, dalam kondisi macet orang pulang kerja.

Sedikit Rani merasakan ada kontraksi di perutnya. Tapi dia lega. Ah, mungkin itu kontraksi sebagai ekspresi gembira dari dedek dalam perut, karena barusan telah diajak ikut aksi ke jalanan bersama ibunya 😀

~akan sangat banyak alasan yang datang menggoda mengurungkan jalan menuju kebaikan. tapi akan lebih banyak alasan untuk tetap berada di jalan kebaikan~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 9, 2015 by in agama, inspirasi and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: