berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Jika Ibadah Ramadhan Terjeda Karena ‘Tamu Istimewa’

puasa 11

sumber: google

Saat mengisi kajian Ramadhan di wilayah Bekasi kemarin, ada muslimah yang bertanya. Dia menjabarkan tentang keutamaan ibadah di bulan ramadhan, lalu dibandingkan dengan sejumlah hari yang hilang karena tamu bulanan sehingga tidak boleh sholat dan puasa. Pertanyaannya menggelitik, “Saat saya menganti puasa itu di luar bulan ramadhan, apakah akan tetap mendapatkan keutamaan yang sama seperti saat berpuasa ramadhan?”

Ramadhan bulan istimewa. Tentu keutamaannya tak bisa digeser-geser ke bulan-bulan yang lainnya. Namun, kita tak pernah tahu bagaimana cara Allah menghitung pahala. Bisa jadi dari ibadah yang bukan puasa dan sholat (yang dilakukan oleh muslimah yang sedang haid) memiliki pahala yang jauh lebih besar dari orang yang berpuasa.

Satu hal lagi. Kita diperintahkan untuk berpuasa di bulan Ramadhan, atas perintah Allah langsung dan itu ada di Quran. Kita (muslimah) saat haid diminta untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan (dan menggantinya di bulan lain) serta tidak sholat, pun atas perintah Allah langsung, dan itu ada di Quran. Apa artinya? Bahwa keduanya adalah ibadah utama, semuanya langsung bersumber dari kitab-Nya. Hanya dalam bentuk yang berbeda. Yang satu perintah, yang satu larangan. Jadi, ibadahnya muslimah yang sedang haid, ya justru dengan tidak melanggar larangan tersebut. Itu IBADAH, sama halnya dengan orang yang diperintahkan berpuasa jika dia memenuhi syaratnya. Bahkan, ini ibadah istimewa bagi muslimah, tidak untuk laki-laki muslim, sesalih apapun dia. Karena hanya muslimah yang mengalami haid dan nifas 🙂

Lalu saya teringat kejadian hampir serupa, menjelang puasa araofah beberapa tahun yang lalu. Saat menyimak hadist tentang keutamaan shaum arofah: puasa 1 hari tapi hilang dosa 2 tahun lamanya, semangat menggelora.Tiba harinya, ternyata jam 9 pagi sudah harus dibatalkan paksa, udzur syar’i khas kaum hawa. “Yaah, gak jadi puasa”, kata saya kecewa.
Suami menentramkan,” Disyukuri aja. Memang sudah kodratnya”

Terbayang juga berarti esok harinya saya gak bisa sholat ied. Agak kecewa, awalnya. Tapi lalu merenung sendiri. Betul bahwa ibadah shaum arofah dan sholat ied adalah ibadah sunnah utama. Namun saat ada udzur syar’i yg mengharuskan tidak boleh sholat/puasa, dan lalu kita mematuhi larangan tersebut, tak berarti hilang kesempatan ibadah, kan? Justru tak sholat dan puasanya adalah ibadah juga. Kenapa? Karena jika kita langgar, kita akan mendapatkan dosa. Artinya jika kita tak melanggar, kita mendapatkan pahala, semoga sama halnya dengan keutamaan pahala bagi mereka yang berpuasa arofah dan sholat ied.

Esok harinya, saat idul qurban tiba, saya tetap bersiap pagi hari, beramai-ramai ke lapangan masjid dekat rumah mertua. Adnin anak saya sempat bertanya, “Ibu kan lagi gak sholat, kenapa ke sini juga?”
“Karena memang begitu syariatnya. Muslimah yg sedang haid pun diminta keluar saat dua hari raya. Jadi meski gak sholat, beginilah cara Allah memberikan kesempatan pada perempuan yang haid untuk beribadah” jawab saya cukup panjang.
Jawaban yang sekaligus melegakan hati saya sendiri 🙂

Ini sama halnya dengan saat perempuan nifas, sekira 40 hari lamanya. Mungkin tak mudah untuk tetap menjaga kestabilan ruhiyah. Tapi Allah selalu punya cara untuk memberikan kesempatan makhluk-Nya senantiasa beribadah. Memang tak sholat 5 waktu, juga tilawah (bagi yang meyakini). Tapi justru itulah ibadahnya, karena taqwa selalu ada di dua sisi: menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Jadi saat kita berkomitmen untuk menjauhi larangan-Nya, insya Allah itu adalah ibadah mulia yang pahalanya tak kurang dari ‘melaksanakan perintahNya’.
Di sisi lain, Allah lebih tahu bagaimana kondisi seorang ibu pasca melahirkan. Saat ratusan syaraf terputus karena lahirnya jabang bayi, kondisi perdarahan tiba-tiba juga mengancam jiwa, maka Alllah berikan waktu ‘memulihkan kondisi’ sekira 40 hari, dan itu tetap dinilai ibadah! Duhai, betapa sayangnya Allah pada kita semua.

Semoga setelah ini, tak ada lagi wajah kecewa saat ramadhan tiba lalu tidak bisa ikut puasa, atau tilawah terhenti karena haid (bagi yg meyakini). Tak ada lagi yang kecewa karena tak bisa sholat tarawih, sholat ied atau shaum arofah, dst. Semoga.

Iklan

2 comments on “Jika Ibadah Ramadhan Terjeda Karena ‘Tamu Istimewa’

  1. oesdannur
    Juli 1, 2015

    Mantap ustazah….

  2. titialfakhairia
    Juli 1, 2015

    Masha Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 1, 2015 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: