berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Surat Cinta Bunda Jelang UKK

Hari Ahad kemarin, saya menengok dua putri remaja yang kini sedang menuntut ilmu di suatu boarding daerah Subang, Jawa Barat. Oleh karena menjelang UAS, saya minta kakak Adnin (klas 7) untuk membawa buku catatan bahasa Inggris, karena ada yang ingin saya jelaskan. Pertemuan terakhir sebelumnya, dia mengeluh masih bingung dengan macam-macam tenses. Errr, memang harus pakai formula khusus untuk cepat mengenalinya.

Saya lihat, selain buku, dia membawa amplop isi surat dari kami (ayah, bunda, dan kakaknya).
“Lho, kok suratnya dibawa-bawa? Buat apa?”
“Iya suratnya kan suruh dikumpulin ke Bunda asrama. Tapi aku mau copy dulu. Ntar yang kukasih bunda copiannya aja”
“Lho, kok malah copiannya yang dikasih?”
“Soalnya ibu buatnya niat banget. Teman-temanku surat dari ayah ibunya ada yang pakai kertas dari buku, ada yang malah kertas kecil. Ibu kan pakai kertas concorde bagus, berwarna ungu lagi. Jadi aku mau simpan aslinya.”
Dan saya pun ketawa 😀

Surat. Salah satu sarana untuk menyambung rasa antara ayah ibu dan buah hatinya, yang terpisahkan jarak karena mereka sedang berada di kawah ‘candradimuka’. Ayah ibu akan terbetot-betot hatinya menerima sepucuk surat dari anaknya. Pun anaknya yang sedang di asrama, akan tersenyum cerah saat mendapatkan semangat dan harapan melalui sepucuk surat orangtua. Bahkan sewaktu-waktu, saat rasa sedang membiru, surat-surat lama pun bisa menjadi sarana pelipur lara atau pemompa semangat yang mujarab. Peran ini tak bisa tergantikan oleh gadget atau media elektronik secanggih apapun. Karena bukan hanya soal substansi penyampaian, tapi juga soal tulisan tangan, atau kemasannya yang sangat pribadi. Lihatlah kelakuan Adnin, hanya karena jenis kertas saja dia berkeras menyimpan versi asli suratnya 😀

Dan kali ini, saya ingin menyampaikan pesan sebagai seorang ibu, kepada buah hatiku di boarding sana: kak Adnin dan kak Hurin. Juga untuk anak-anak lainnya, yang sebentar lagi akan menempuh UKK, didahului Ujian Quran selama sepekan.

********——————————-************

surat01

Anak-anakku sayang…
Yakinlah nak, bahwa semua orangtua, ingin anaknya bahagia. Tak ada orangtua yang berharap anaknya sengsara. Tak ada. Maka, jika kini engkau jauh di sana merasa, kegiatan seabreg tak ada hentinya, sehingga badan terasa lelah luar biasa. Waktu tidur jauh berkurang, bahkan mungkin waktu untuk belajar mandiri pun justru mata terpejam tak mampu menahan kantuk yang datang. Sedang target hafalan pun harus tetap dikerjakan, meski bingung kapan harus menambah hafalan. Sedang makananpun kalian tak bisa memilih, pengin makan ini atau itu. Tapi kembali berputar-putar antaraa sayur rainbow (orek wortel labu), sate (sayur tempe) atau masih sukur jika ketemu ayam goreng atau telur mata sapi. Bosan? Mungkin. Capek? Tentu. Tapi itu bukanlah kesengsaraan nak. Sama sekali bukan. Itu adalah tempaan. Agar kalian semua kuat,  mandiri dan bertanggung jawab. Hal yang tampak sebagai ‘penderitaan’, suatu saat akan menjadi kenangan manis tentang langkah-langkah perjuangan. Percayalah…

Anak-anakku sayang, ….
Ayah ibu tak pernah menuntut bahwa kau harus mampu begini dan begitu: Untuk selalu mendapatkan nilai sempurna. Untuk menguasai semua pelajaran dengan baik. Untuk secepatnya memiliki hafalan Quran 30 juz. Tidak, bukan itu kami rela melepas kalian pergi jauh dari pandangan. Justru tak mengapa ada materi yang belum kalian pahami, tak mengapa nilaimu belum sempurna, juga tak mengapa hafalanmu bertambah sedikit-sedikit saja. Oleh sebab itulah kalian disebut pelajar, karena kalian akan terus belajar.

Yang penting, engkau mencintai apa yang kau lakukan.
Yang penting, engkau melakukannya dengan sepenuh jiwa, bukan merasa dipaksa.
Yang penting, engkau belajar dengan sepenuh cinta.
Sepenuh cinta, seperti ayah ibu mencintaimu.

Cinta pada pengetahuan, akan membuatmu terus mencari dan mencari, tanpa ada yang mengarahkanmu. Apa yang sebelumnya tak kau ketahui, suatu saat akan datang sebagai pengetahuan baru, jika kau terus mencarinya.
Apa yang sebelumnya tak mampu kau lakukan, akan menjadi hal mudah keseharian, saat engkau menyertakan cinta saat belajar menguasainya.

Akhirnya, selamat belajar dengan cinta anak-anakku, raihlah mimpi-mimpimu dengan gembira dan bahagia.
Segembira saat engkau bermain waktu kecil dulu. Segembira saat engkau tiap sore menyambut kepulangan ayah bekerja di depan pintu.

Dan… kisah di bawah ini, semoga makin menambah cintamu pada ilmu, nak.

*************———-**********

surat

UNTUKMU WAHAI PENCARI ILMU

Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.
“Habib, saya mau pulang saja.”
“Lho, kenapa?” tanya beliau.
“Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati, tidak pantas saya menuntut ilmu, saya minta izin mau pulang.”
Habib Abdullah berkata “Jangan dulu, sabar.”
“Sudah Bib, saya sudah empat tahun bersabar, sudah tidak kuat, lebih baik saya menikah saja.”
Lalu beliau berkata “Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu.” santri itu menjawab “Sudah bib, saya menghafalkan setengah mati, tidak hafal- hafal.”

Habib Abdullah kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan. Surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun.
Kemudian Habib Abdullah menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat.
Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai. Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.
“Ini surat siapa?” tanya Habib.
“Owh, itu surat ibu saya.”
“Bacalah!”
Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai.
Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih.
“Sudah kamu baca?” tanya beliau lagi.
“Sudah ya habib.” “Berapa kali?” tanya beliau.
“Satu kali ya habib.” “Tutup surat itu! Apa kata ibumu?”
“Ibu saya berkata saya disuruh mencari ilmu yang bener, bapak sudah membeli mobil baru. Adik saya sudah diterima bekerja di sini, dan lain-lain.”
Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan.
“Baca satu kali kok hafal? Katanya bebal gak hafal-hafal, sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan.” kata Habib dengan pandangan serius.
Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal.

Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan:
ﻷﻧﻚ ﻗﺮﺃﺕ ﺭﺳﺎﻟﺔ ﺃﻣﻚ ﺑﺎﻟﻔﺮﺡ ﻓﻠﻮ ﻗﺮﺃﺕ ﺭﺳﺎﻟﺔ ﻧﺒﻴﻚ ﺑﺎﻟﻔﺮﺡ
ﻟﺤﻔﻈﺖ ﺑﺎﻟﺴﺮﻋﺔ
“Sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan gembira. Ini ibumu, coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad Saw dengan bahagia dan bangga, ini adalah Nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal. ”

Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami yang dirasakan santri dalam kisah diatas. Jawabannya adalah rasa cinta. Kita tidak menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu, sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses.
Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tetapi puluhan lagu-lagu cinta hafal di luar kepala. Padahal tidak mengatur waktu khusus untuk menghapalkannya.

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻓﺘﺢ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻓﺘﻮﺡ ﭐﻟﻌﺎﺭﻓﻴﻦ ﻭﺍﺭﺯﻗﻨﺎ ﻓﻬﻢ ﺍﻟﻨﺒﻴـﻴﻦ ﻭﺇﻟﻬﺎﻡ ﭐﻟﻤﻼﺋﻜﺔ
ﺍﻟﻤﻘﺮﺑﻴﻦ ﺑﺮﺣﻤﺘﻚ ﻳﺂ ﺃﺭﺣﻢ ﺍﻟﺮﺍﺣﻤﻴﻦ

*************

Pamulang, 25 Mei 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 25, 2015 by in inspirasi, parenting, pendidikan anak and tagged , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: