berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Belajar Kalimat Afirmasi Positif dari Balita

IMG-20140921-WA0006

Selama sakit HFMD (hand, foot & mouth disease) atau kadang disebut flu singapore selama 3 pekan ini, Hibban sempat kena ‘siklus’ mual-muntah yang kedua, Selasa dan Rabu kemarin. Pada serangan yang kedua (lk 2 hari itu), sungguh saya tak tega melihatnya. Bocah yang biasanya tak bisa diam itu hanya nglentruk, tiduran njingkrung saja, dengan krukuban selimut. Bergerak sedikit, perutnya mual katanya. Bulak balik juga minta perutnya dibalurin ramuan tradisional bawang lanang-asem-minyak kayuputih. Ada gayung biru di dekatnya yang akan segera dia ambil jika dia berasa mau muntah. Syukurnya ya masih tertib, muntahnya tidak berceceran kemana-mana meski harus berkali-kali dalam sehari. Tapi teteup, nggak tega melihatnya.

Namun, selepas isya hari Rabu, saya lihat wajahnya tampak mulai cerah. Waktu saya bertanya, “Gimana Ban, perutnya sudah nggak…”
Dia menyetop, “Jangan diterusin Bu. Perutku udah enak. Pokoknya jangan disebut lagi yaa..”.
Bahkan ketika ayahnya pulang kantor (agak telat), saat ayahnya bertanya kondisi terakhirnya pada saya, Hibban kembali mengingatkan, “Ingat Bu, aku sudah baikan. Jangan disebut yaa, jangan disebut” sambil senyum-senyum tangan kirinya menunjuk ke perutnya sedang telunjuk tangan kanannya dia letakkan depan mulut menandakan larangan. Melihat tingkahnya, saya tertawa.

Rupanya dia paham kekuatan kata-kata. Dan dia paham untuk merasa lebih baik, kata-kata yang negatif lebih baik tidak diverbalkan. Sebutkan saja kata-kata yang positif. Padahal sih, saya lihat kondisinya belum fit betul. Namun, tampaknya dia sedang berusaha memotivasi diri sendiri agar lebih cepat sembuh. Memang kebayang, kalau saya bertanya, “Gimana rasanya masih mual nggak? Masih pengin muntah nggak?”… kadang yang tadinya nggak mual malah jadi mual lagi. Karena begitu pula yang kadang saya rasakan, sejak seusia dia juga. Jadi lebih baik bertanya dengan, “Gimana, sudah lebih sehat kan? Perutnya sudah nyaman? Mau makan lagi?”

Dari anak umur 5 tahun ini, kita bisa belajar. Anak kecil saja tahu kekuatan kata-kata. Bahwa dia akan mampu memotivasi dirinya dengan kalimat positif. Bahwa kata-kata negatif selayaknya tak perlu diungkapkan, jika memang tidak sangat perlu, karena hanya akan menambah berat penderitaan atau beban. Jika sakit lalu pergi ke dokter, tentu perlu bercerita dengan detil keluhan yang dirasakan, supaya diagnosa yang ditegakkan tepat sehingga obat yang diberikan mujarab (dan kekuatan utama adalah doa, karena kita yakin bahwa segala penyakit dan kesembuhan datang dari-Nya). Sedang di depan orang yang tak berkompeten untuk membantu meringankan beban, ya nggak perlu cerita panjang lebar. Itu juga kiranya berlaku saat berkunjung ke sosial media. Kalimat positif akan kita rasakan lebih enak untuk dibaca dan diresapi (bahkan oleh kita sendiri yang menulisnya) daripada kalimat keluh kesah, kesedihan, apalagi sumpah serapah dan caci maki. Memang, kadang ingin juga kita berbagi luka. Tak apa, jika dalam luka itu tetap ada hikmah yang bisa diambil. Sedang bercerita dengan sederet keluh kesah tanpa solusi, rasanya lebih baik kita hindari. Salah-salah bisa kena delik aduan, jika itu menyangkut nama baik orang lain.

Dunia pendidikan juga mengenal kalimat afirmasi ini. Lebih nyaman bagi kita memberikan  (kalimat) motivasi dan penguatan, daripada harus memberikan peringatan dan hukuman. Meskipun kadang dalam suasana tertentu, peringatan dan hukuman tetap diperlukan. Rasul pun saat mengenalkan Islam juga mengutamakan kabar gembira (targhib) dulu, baru setelah merasa cukup mantap dapat dikuatkan dengan ancaman atau tarhib, agar perilaku manusia terpagari, dan agar keadilan juga tetap berlaku.

Dari Hibban, saya dan semoga Anda belajar. Dan hari ini, meski masih ada bintik-bintik merah di kakinya dan sudah genap 3 pekan dia tak sekolah, tapi dia tampak jauh lebih ceria. Semoga daya tahannya makin bagus sehingga virus-virus itu keok melawannya. Saya cuma tertawa saat Hibban mulai membuat daftar makanan yang diinginkan setelah mulai merasa enak makan, “Aku mau manggis, susu coklat, bronis… Kalau cocacola boleh nggak bu?”
Eits.. yang terakhir itu, NO WAY 😀

Iklan

3 comments on “Belajar Kalimat Afirmasi Positif dari Balita

  1. Ika Koentjoro
    Maret 27, 2015

    Kadang kalau emosi sudah sampai ubun-ubun lebih enak menghukum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 27, 2015 by in inspirasi, keluarga and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: