berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Forgiven Not Forgotten: Tak Cukup Berucap ‘Saya Minta Maaf’

disney

Kemarin pagi saya sedang menemani anak saya, Hibban, yang hari itu bangun kesiangan dan segan untuk berangkat ke TK-nya. Kami menonton televisi di ruang tengah, dengan saluran favoritnya yaitu Disney Junior. Saat itu sedang diputar kartun Daniel Tiger’s Neighborhood. Diceritakan, Daniel dan Pangeran Rabu sedang bermain membuat kue pie dari pasir basah. Oleh karena ingin membuat kue pie yang indah, mereka menggunakan mahkota milik Pangeran Selasa yang saat itu sedang tergeletak. Ide ini ternyata fatal, karena mahkota tersebut menjadi sangat kotor. Saat Pangeran Selasa datang, dia tampak tak suka. Ada dialog yang sangat menarik setelah itu, yang kurang lebih begini:

Daniel, “Kami minta maaf atas kecerobohan kami.”
Pangeran Rabu (PR), “Iya, saya juga minta maaf.”
Pangeran Selasa (PS), “Oke saya maafkan.”
PR, “Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita main bersama membuat pie?”
PS, “Tidak, aku tidak mau.”
Daniel, “Kenapa?”
PS, “Aku masih marah
PR, “Karena mahkotamu sekarang kotor? Kalau begitu, apa yang dapat kami lakukan untukmu?”

Adegan selanjutnya adalah mereka bernyanyi lagu sederhana, “Saying sorry it’s the first step. And then how can I help?”
PS, “Emm,..bagaimana kalau kalian bersihkan mahkotaku?”
Daniel dan PR segera membersihkan mahkota tersebut, dan setelah itu baru mereka bermain bersama.

Pesan sederhana di film kartun itu sangat menggelitik dan menyindir saya sendiri. Karena, kadang kita yang sudah dewasa pun lupa untuk melakukan sesuatu bagi orang yang sudah kita cederai setelah kita minta maaf. Seolah dengan sudah dimaafkan, berarti beres sudah. Tak melihat lagi bahwa dia yang sudah memaafkan pun sedang bersusah payah mengikhlaskan hatinya, dan dia perlu dibantu untuk itu. Terlebih karena jelas-jelas kitalah yang telah membuat luka hatinya. Ternyata, setelah minta maaf tak berarti beres, tetapi perlu dilanjutkan dengan, “Apa yang dapat kulakukan untukmu?”

Sehingga, jangan sampai meskipun seseorang sudah memaafkan, tapi sebetulnya masih ada ganjalan dan sulit melupakan. Sampai fenomena ini menjadi lagu yang diciptakan oleh salah satu grup musik ternama, the corrs, dengan lagunya forgiven not forgotten. Tentu kita tidak ingin begitu. Baik sebagai orang yang melakukan kesalahan, maupun sebagai orang yang dicederai.

Saya teringat pada salah satu episose sejarah, tentang luka hati yang dirasakan Rasulullah saat perang Uhud, dimana salah satu paman kesayangannya yang begitu gigih membela beliau sebelumnya, Hamzah, syahid terbunuh. Hamzah dibunuh oleh Wahsyi, seorang budak hitam yang dijanjikan akan merdeka oleh tuannya, jika mampu membunuh Hamzah. Perjalanan takdir lalu membawa Wahsyi ke dalam pelukan Islam. Sebagai seorang muslim, tentu dia rindu sekali ingin bertemu Rasulullah. Namun, syahidnya pamanda Hamzah bagi Rasul telah menoreh luka sangat dalam, apalagi dengan dilihatnya Wahsyi, si pembunuh. Sehingga saat Wahsyi ingin mendekati beliau, Rasul berkata, “‘Apakah engkau bisa menjauhkan wajah dan dirimu dari penglihatanku?”

Bukan berarti Rasul tak memaafkan Wahsyi. Tapi luka itu begitu dalam. Wahsyi mengingatkannya tentang Hamzah yang terbunuh, dan jasadnya yang dirusak serta diambil jantungnya oleh Hindun. Hingga secara spontan usai perang Uhud Rasul pernah berucap akan membalas dengan cara yang sama terhadap 30 orang kafir Quraisy  Tetapi lalu Allah menegaskan bahwa Rasullullah SAW adalah rahmatan lil ‘alamin, sehingga beliau tidak pernah melaksanakan ancamannya tersebut. Sungguh luka itu begtu dalam, hingga melihat Wahsyi sekilas pun bertahun kemudian, luka itu menguak kembali, perih.

hamzah01

Di sisi lain, andai kita menjadi seorang Wahsyi, alangkah sedihnya. Keislamannya tak mampu membuatnya untuk bisa berdekat-dekat dengan Rasul yang dicintainya. Ia tentu sangat sedih, tapi ia juga memahami luka yang dirasakan Rasul. Ia hanya mampu memandang Rasul dari kejauhan, sama sekali tak berani mendekat, hingga Rasul wafat. Hingga pada saat kepemimpinan dipegang oleh Abu Bakar, muncullah beberapa nabi palsu, antara lain Musailamah. Wahsyi termasuk diantara salah satu sahabat yang dikirim Abu bakar untuk menumpas Musailamah dan gerombolannya. Dia melihat hal ini sebagai kesempatan untuk menebus kesalahannya yang sangat fatal di masa lalu: membunuh Hamzah. Dengan tombak yang sama untuk membunuh Hamzah dulu, dia gunakan tombak itu untuk membunuh Musailamah. Paling tidak, apa yang telah dilakukannya itu mampu membebaskan rasa tersiksanya sendiri, oleh kesalahannya yang begitu fatal sehingga tak bisa berdekat-dekat dengan Rasulullah.

wahsyi

Dari Wahsyi, kita juga belajar, bahwa seseorang tak cukup untuk hanya mengatakan minta maaf saat melakukan kesalahan. Tapi perlu melakukan sesuatu. Meski Wahsyi menemukan momen itu agak terlambat, justru setelah Rasul wafat. Tapi, tentu semua kisah ini mengandung hikmah. Paling tidak, supaya kita juga berhati-hati, jangan sampai membuat orang lain terpaksa memaafkan, padahal di hatinya masih ada luka yang dalam. Lebih jauh lagi, tentu sebisa mungkin tidak menciderai hati orang lain, meski pun ini sangat sulit.

Jadi, marilah kita camkan bersama, “Saying sorry it’s the first step. And then how can I help?”

PS:
Ohya, tambahan info. Film kartun Daniel ini diputar tiap hari di saluran Disney Junior tiap jam 07.30. Tapi bagi yang tidak memiliki TV kabel, jangan berkecil hati, kita bisa melihat  nilai-nilai (values) yang bisa diambil dari tiap episode disini, namun sayang sementara ini untuk video streamingnya baru bisa diputar closed user di amrik. Sedang nilai-nilai khusus dari episode saying im sorry bisa dilihat disini.

Iklan

8 comments on “Forgiven Not Forgotten: Tak Cukup Berucap ‘Saya Minta Maaf’

  1. sririni
    Januari 8, 2015

    Sepakat sekaliii …. Ini yg jadi sebab, betapa sering kita minta maaf tapi hubungan kita tdk pernah membaik

  2. tia putri
    Juli 22, 2016

    Tapi bagaimana jika kasusnya di balik mba? Kita sudah meminta maaf juga sudah memberikan hadiah, bantuan, bla bla intinya sudah lebih dari sekedar maaf tapi org yg kita mintai maaf ttp gak ikhlas atau malah makin jauh?
    Kalau sudah begitu solusi terbaiknya apa?
    Kalau dari sisi dosa atau tdk gimana ya? Apa qt yg salah ttp dosa meski sudah meminta maaf plus plus?

    • muktiberbagi
      Juli 22, 2016

      Kalau yg begitu pasrahkan pada Allah aja. Minta Allah yg bukakan pintu hatinya

  3. tia putri
    Juli 22, 2016

    Yayaya mmg semua2 pada akhirnya harus dipasrahkan ya Mba,
    Bahkan klo dibalas dg hal2 yg kurang baik. Benar2 membutuhkan jiwa yg lapang, tahan banting dan dewasa klo gitu.

    • muktiberbagi
      Juli 22, 2016

      Iya. Makasih yaa sudah mampir

      • tia putri
        Juli 22, 2016

        Sama2 mba, kebetulan tulisannya eye catching utk urun komen. Hihi

      • muktiberbagi
        Juli 22, 2016

        Hihi makasih. Emang kalau sudah soal perasaan itu lbh sulit manage nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 7, 2015 by in agama, inspirasi, parenting and tagged , , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: