berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Nonton di Bioskop, Islami Nggak Sih?

RTJ01

Bioskop, bagi banyak orang sering diidentikkan dengan tempat berkumpulnya orang-orang yang maniak mencari tontonan film. Suasana bioskop juga identik dengan remang-remang sehingga banyak digunakan untuk pacaran, atau suasana yang ditingkahi dengan segerombolan remaja yang asyik ketawa-ketiwi sambil ngemil dan colak-colek. Bayangan semacam itu tak sepenuhnya salah, karena memang tumbuh dari hasil pengamatan banyak orang. Apalagi jika yang terbayang di kepala adalah bioskop jaman dulu, yang juga identik dengan kepulan asap rokok (karena tidak ber-AC).

Namun, dengan anggapan tentang bioskop yang memang begitulah adanya, Bapak Ibu saya sejak dulu justru menjadikan bioskop sebagai salah satu sarana menambah wawasan bagi putra-putrinya, baik wawasan umum maupun keIslaman. Saya mengenal film The Message, Al-Kautsar, Nakalnya Anak-anak, Ira Maya Sopha, dan lain-lain lewat acara menonton bersama yang Bapak Ibu agendakan untuk seluruh anggota keluarga, puluhan tahun yang lalu saat saya masih anak SD. Juga film-film generasi berikutnya seperti Walisanga, Sunan Kalijaga, Tjut Nyak Dien dan lain-lain, itu saya tonton karena diajak Bapak Ibu. Padahal, saya juga tahu Bapak Ibu bukan termasuk orangtua yang berlebih dari sisi keuangan, malah cenderung prihatin untuk memenuhi kebutuhan. Namun untuk mengajak anak-anaknya nonton di bioskop, sebisa mungkin bapak ibu mengajak kami menonton di kelas satu, dereten belakang. Semata-mata demi kenyamanan. Upaya penghematan tetap terasa dengan dimintanya kami untuk membawa bekal jajanan, tidak membeli di toko sekitar bioskop, dan sengaja jalan kaki rame-rame dari rumah sekitar 500 meter menuju ke gedung bioskop. Kendaraan yang bapak punya hanya motor, satu saja, sedang anaknya ada 6. Jadi agak merepotkan jika harus mengandalkan kendaraan.

Sayangnya, film-film bagus tak selamanya meraja. Lalu masa kejayaan film-film layar lebar perlahan memudar. Film-film bioskop didominasi film horor yang membuat jantung berdebar. Bioskop di berbagai kota pun banyak yang gulung tikar. Dulu yang rutin tiap tahun ada FFI, lama-lama menghilang. Hiburan beralih ke sinetron, yang dulu juga sempat mengalami masa kejayaan dengan dipilihnya sinetron-sinetron bermutu di FSI. Tapi itu pun tak lama.

Beberapa tahun belakangan, film layar lebar mulai menggeliat dengan banyak dibangunnya bioskop jaringan 21 atau XXI di berbagai kota. Bergairah lagi industri perfilman, dengan berbagai orientasi dan tujuan. Geliat ini juga disambut oleh para penyeru kebaikan, yang mencoba mengangkat novel-novel Islami yang bagus menjadi film layar lebar. Lalu tercatatlah Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan seterusnya, hingga film Assalamualaikum Beijing yang saat ini sedang tayang. Sambutan khalayak luas cukup bagus, meski jumlah penonton belum bisa menyaingi fiml best seller.
Namun, meski sudah banyak film-film yang sangat layak tonton semacam ini, masih banyak orang yang tetap enggan untuk menonton di bioskop. Ada beberapa alasan yang sering diungkapkan.

Beberapa orang memilih menunggu versi DVD-nya, karena tak nyaman dengan suasana bioskop. Padahal kita perlu tahu bahwa jumlah penonton itu akan menentukan apakah film tersebut akan diputar lebih lama atau cukup tiga hari saja. Pemilik jaringan cineplex tentu juga nggak mau rugi memasang berlama-lama film yang nggak laku ditonton. Jika sudah begini, maka akan timbul efek jera. Tiap ada film bagus, kok yang nonton seuprit. Akhirnya produser pun males bikin film bagus, karena hampir selalu jadi proyek rugi. Nah, jika sudah begini, ya siap-siap aja lagi film kita akan dikuasai film horor dan mistik nggak jelas; dari misteri malam jumat kliwon, suster ngesot, sampai arwah bangkit dari kubur. Dari Nyi Loro Kidul penguasa laut selatan sampai penunggu gunung kawi. Sejarah berulang. Semoga tidak, ya.

Ohya, untuk saat ini sebetulnya perjuangan menembus box office cukup di angka 500.000 ribu penonton, dan alangkah indahnya kalau film-film dakwah bisa tembus angka ini di bioskop-bioskop ternama. Caranya, ya dengan datang nonton ke bioskop, jangan nunggu versi DVD atau resensinya doang. Jika kita merasa jengah dengan suasana bioskop yang campur baur seperti itu, mungkin ini justru celah kita utuk berdakwah lebih banyak. Nonton jangan sendirian atau dengan keluarga saja, tapi bisa sekaligus ajak keluarga besar atau tetangga kiri kanan. Jika keuangan mepet, ya paling tidak menyediakan tumpangan. Kalau perlu, rombongan ibu-ibu masjlis taklim diajak semua, biayanya bisa patungan atau subsidi silang. Ibu-ibu yang mampu bisa membayarkan ibu-ibu yang kurang mampu. Nah, kapasitas seat di bioskop cineplex yang tidak terlalu banyak itu akhirnya akan didominasi oleh rombongan kita, jadi suasananya tentu lebih kondusif. Yang mau pacaran mikir-mikir, yang mau cental-centil juga tahu diri.

Langkah selanjutnya, kesan tentang nonton film rame-rame ini kan bisa diangkat jadi tema pancingan untuk kajian ibu-ibu majlis taklim pekan berikutnya. Dijamin bakalan seru dah untuk dibahas! Tentu dengan mengaitkan pada dalil-dalil yang sesuai. Gimana, ustadzah? 🙂

Alasan dari beberapa orang yang lain, merasa film tersebut belum ideal, dilihat dari sisi pemerannya dalam kehidupan kesehariannya. Meski di film tampak Islami, di keseharian jangankan soal komitmen berjilbab, kadang malah merokok pun masih menjadi kebiasaan seorang aktris perempuan. Terhadap alasan tersebut, saya sering berpikir: Apakah harus, seorang pemain film memiliki karakter yang selaras dengan lakon yang diperankannya? Memang sih, kita akan merasa lebih nyaman saat tahu bahwa pemeran film tersebut juga menjalankan syariat Islam dalam kesehariannya, antara lain dengan jilbab (bagi yang muslimah). Tetapi, pada film-film nasional yang mengangkat tema dakwah, selayaknya kita juga bersikap adil. Masih ingat film Omar yang begitu disanjung-sanjung kalangan kader dakwah sebagai film (serial televisi) yang sangat baik dan memberikan suasana ruhy tersendiri? Lalu siapa pemeran Umar Bin Khattab di film itu? Dia Samer Ismail, aktor muda dari Suriah, yang kesehariannya jelas tak berperilaku seperti Umar bn Khattab. Atau kalau mau lebih jauh lagi, kembali pada film The Message yang melegenda. Di film tersebut Hamzah diperankan dengan sangat baik oleh Anthony Quinn, yang kehidupannya di dunia nyata terkenal sebagai superplayboy. Nggak percaya? Ya silahkan cari sendiri biografinya 😀

omarhamzah

Lalu, apa terus kita memilih untuk tidak menonton film The Message dan film Omar? Nyatanya tidak. Jadi, mari kita berbuat adil. Justru malah bisa jadi dengan dilibatkannya aktris-aktor yang belum menerapkan syariat seperti yang diharapkan itu, keterlibatannya di film tersebut menjadi pintu hidayah bagi mereka untuk mengenal Islam lebih jauh. Siapa tahu dengan membaca skenario, menghayati perannya, berinteraksi dengan penulis novelnya, dll, lalu akan dia temukan Islam yang indah. Who knows?

Di sisi lain, ini juga menjadi PR bagi para penggiat dakwah untuk lebih banyak orang lagi yang menekuni seni peran dan sinematografi sehingga kebutuhan pemeran, kameraman dll juga nanti dapat dipenuhi dari lingkungan internal, sebisa mungkin. Itu langkah selanjutnya, setelah kita memiliki bekal ilmu yang cukup. Tentu tidak bisa radikal dengan memasang nama ustadz/ustadzah ternama jadi pemain film, menggantikan aktris-aktor profesional. Memangnya terus siapa saja nanti yang mau nonton? Mau bikin pengajian atau bikin film?

Sudah, gitu aja. Saya nggak berani bahas soal nonton bioskop ini dari sisi fiqh, karena memang nggak punya ilmunya. Ini cuma uneg-uneg seorang ibu rumah tangga biasa. Semoga berguna 🙂

Iklan

14 comments on “Nonton di Bioskop, Islami Nggak Sih?

  1. jampang
    Januari 5, 2015

    saya lebih suka nonton di rumah. pernah ngitung berapa kali ke bioskop seumur hidup, sepertinya nggak lebih dari 10 kali

  2. nuharnz
    Januari 5, 2015

    Wah makasih infonya, smoga bermanfaat. Cuman mau kasih tambahan aja nih, menurut saya menonton dibioskop bisa jadi media yang bagus untuk dakwah, tapi perlu diingat bahwa menonton terlalu banyak bisa berarti membiasakan diri konsumtif. Thx.

    Btw, minta waktu sedikit, check blog saya yaa

    • muktiberbagi
      Januari 5, 2015

      Makasih ya sdh mampir. Nanti kalo pas depan kompi saya lihat insya Allah. Kalau alasan konsumtif ya berlaku utk semua hal yg spend of money gak cuma nonton di bioskop tentunya 🙂

  3. Idha Nisa
    Januari 6, 2015

    Reblogged this on Belum Ada Judul and commented:
    Mungkin setiap orang memerlukan bahan bacaan atau tontonan yang dapat membangkitkan semangatnya untuk bangkit dan berbuat suatu kebaikan. Mengajak kepada kebaikan dan memotivasi manusia agar melakukan kebaikan adalah dakwah.

  4. Ping-balik: Nonton di Bioskop, Islami Nggak Sih? | IAKAH.COM

  5. Wandy
    Januari 7, 2015

    Bagaimana dgn pendapat ini?

    ————————————

    Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

    Apakah boleh para dai menonton film yang islami di gedung bioskop?

    Sekian. Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

    Moh. Ridwan di Jakarta

    Jawaban

    “Gedung bioskop dalam kondisi sekarang ini difungsikan sebagai sarana hiburan yang pada umumnya tidak islami, penuh maksiat, dan mengundang fitnah serta opini umum dari umat Islam yang hanif yang memandang negatif terhadap bioskop. Pertimbangan ini mengacu pada diktum kaidah ushul fiqh, yang mengatakan ‘al adah muhakkamah’ kebiasaan atau kondisi umum dapat dijadikan acuan hukum.

    Menonton film di bioskop dengan kondisi seperti di atas mudharatnya lebih pasti daripada manfaatnya, ini sesuai dengan diktum kaidah fiqh yang menyatakan, ‘menolak kerusakan lebih didahulukan dari mengambil manfaat’.

    Pentingnya memperhatikan fiqh aulawiyat yaitu: pertimbangan fiqh prioritas kewajiban dan amal, yang sebenarnya masih banyak kewajiban dan amal yang lebih penting dan mendesak daripada menonton film di bioskop, yaitu kegiatan dan kewajiban yang lain di bidang ibadah, dakwah, tarbiyah, ekonomi, sosial, dan sebagainya.

    Perlunya sikap iffah tawaru‘ dan memelihara muruah (memelihara kehormatan dan kesucian diri ) khususnya bagi seorang da’i dengan menjauhi tempat-tempat atau hal-hal yang syubhat yang pada umumnya dapat menundang fitnah meskipun keberadaannya di tempat ini dengan niat baik dan melakukan kebaikan. dengan meningat Firman Allah:

    “Sesungguhnya berntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. ” (QS Al Mu’ninun 1-3)

    ” ….dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tiada berfaidah, mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya. ” (QS Al Furqan 72)

    Hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

    “Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, sedangkan antara keduanya terdapat perkara-perkara yang SYUBHAT (samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga dirinya dari hal-hal yang syubhat itu maka sungguh dia telah menyucikan agamanya dan membersihkan dirinya. Dan barangsiapa yang terjerumus pada hal-hal yang syubhat berarti ia telah terjerumus pada yang haram….” (HR Al Bukhari dan Muslim)

    Dengan demikian menonton film di gedung bioskop dgn kondisi dan konsideran seperti di atas hukumnya haram.

    Adapun jalan keluar atau alternatif lain dalam masalah ini dalam kondisi sekarang ini, perlu memperhatikan dan iltizam dengan urutan alternatif sebagai berikut:

    a. Dapat menunggu waktu lain yang masih panjang untuk kesempatan menonton film islami dengn kondisi yang bersih. Misalnya menunggu keluarnya film islami itu dalam bentuk DVD, penayangan di TV, dan sebagainya.

    b. Dapat menggunakan tempat lain selain gedung bioskop seperti TIM/Taman Ismail Marzuki, untuk menyaksikan film islami tersebut dengan tetap memperhatikan shibghah Islam.

    c. Atau alternatif terakhir menonton film tersebut dengan syarat semua gedung film yang dipakai tersebut hanya boleh memutar dan memasang poster film Islam selama hari-hari pemutarannya. Akibatnya opini umum terhadap gedung bioskop pada hari-hari itu menjadi tidak negatif dan tetap memperhatikan adab Islam ketika menontonnya.

    Fatwa-fatwa DSP PKS, terbitan Robbani Press hal. 157-160, fatwa no. 39

  6. Wandy
    Januari 7, 2015

    Alhamdulillah saya sdh baca. Seperti yg disebutkan dlm fatwa diatas bhw fatwa itu ditujukan untuk orang yang ingin memelihara kehormatan dan kesucian diri-nya di mata Allah, jadi ya ngga akan berpengaruhnya banyak bagi sebagian orang :). So, monggo saja bagi yg mau nonton.. Tugas kita sebagai muslim hanya saling mengingatkan saja.

    • muktiberbagi
      Januari 7, 2015

      alhamdulillah. Bukan berarti komentar anda bahwa yg menonton berarti tdk menjaga kesucian diri kan? Kena semua tuh tar kang aher, pak cah, bu wiwik dll 😉

  7. Diyan Sudihardjo
    Maret 11, 2015

    Reblogged this on si sepatu yang sebelah sini and commented:
    Hei, wacana yang sangat menarik dan menggelitik.

  8. MudPearl
    April 15, 2015

    Nice share
    Saling nasihat menasihati lebih mantab, drpada saling menghujat

    Andhikaokoj.wordpress.com

  9. Vixalexa
    Maret 8, 2016

    Makasih sudah mengingatkan, jadi lebih tambah wawasan 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 5, 2015 by in inspirasi and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: