berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Kesederhanaan Ala PNS

pns

sumber gambar: babymaskha (ig)

Bapak saya PNS di suatu departemen, dulu. Kerjaanya ngurusin jamaah haji. Istilahnya jabatannya dulu kalau nggak salah kasie garabinur haji. Hidup serba pas-pasan untuk nyekolahin & nguliahi 6 anak, hingga siang- magrib bapak nyambi bekerja sebagai pegawai adminstrasi di Universitas Muhammadiyah di kota kami. Waktu itu jam kerja PNS hanya sampai jam 13. Ibu membantu dengan berjualan kain jarik ke Kebumen pada akhir pekan tertentu. Ohya, ibu juga menerima pesanan kuliner, suatu usaha turun temurun dari mbah putri. Usaha yang lalu berkembang juga menjadi cafetaria/rumah makan yang melayani pegawai di kantor bapak.

Anak bapak yang 6 tidak terbiasa berleha-leha. Masing-masing mencari cara sendiri sejak kuliah untuk menambah uang saku, meskipun sebenarnya bapak melarang. “Ndak kepenaken wes nyekel duit” -Ntar jadi keenakan sudah pegang uang-, (jadi malas kuliah-red). Tapi mana tega, kuliah kan tidak cuma urusan SPP, tapi juga biaya indekos, makan sehari-hari, juga beli buku. Jaman kuliah, saya termasuk yang ‘mikir 1000x’ dulu untuk beli buku. Memilih untuk banyak ndekem di perpustakaan cari buku gratisan, dan mencatat poin-poin pentingnya saja. Kadang juga pinjam teman yang kaya, dengan janji hanya dipinjam 1-2 hari saja. Buku itu saya lahap cepat dari awal hingga akhir seperti baca novel karena buku pinjaman, takut keburu harus dikembalikan. Jadi saya tahu teknik speed reading, lebih banyak karena faktor kepepet gak bisa beli buku dan harus segera mengembalikan buku pinjaman 😀

Sekarang, semua anak bapak telah dewasa menuju tua. Dan saya baru tersadarkan, ternyata dari sisi profesi, kami didominasi status PNS. Dari 10 anak plus mantu, yang profesinya PNS ada 7 orang, tadinya 8 orang. Tersebar di berbagai instansi, tapi didominasi sebagai guru/dosen PNS (5 orang). Mertua saya sendiri dulu juga PNS. Semua masuk dengan jalur normal, ikut tes biasa saja. Keterima alhamdulillah nggak keterima ya sudah. Nggak ada istilah uang sogokan. Kami diajarkan dengan tegas soal begitu. Jangankan menyogok, jenis pekerjaan yang dipilih pun, Bapak Ibu sangat berhati-hati. Konon cerita, pernah ada calon mantu Bapak (yang waktu itu sudah bekerja di swasta) keterima di sebuah bank BUMN (yang menurut Bapak itu identik dengan bank ribawi). Singkat tapi tegas Bapak memberikan ultimatum, “Pilih arep tetep dadi mantuku, apa kerja ning bank iku” (Pilih, mau tetap jadi mantuku atau kerja di bank itu).

Lalu bagaimana sekarang, kehidupan para PNS di keluarga besar ini? Persis seperti bapak dan ibu, tak ada satupun dari keluarga anak mantunya yang hanya mengandalkan gaji PNS. Bukan tak percaya bahwa Allah itu Rozzak, tapi justru percaya bahwa rezeki itu sudah ada takaran-Nya, tinggal bagaimana kita mau dan mampu menjemputnya. Suami dari adik bungsu yang PNS, adalah seorang wirausaha dan pedagang. Kakak pertama adalah keluarga pedagang, dan dulu sempat menjadi PNS guru tetapi resign. Kakak kedua yang suaminya PNS dari BUMN, nyambi dengan berjualan di pasar dan home industry telur asin. Kakak ketiga yang istrinya PNS, adalah seorang konsultan teknik dan memiliki usaha CV bersama teman-temannya. Kakak kedua yang kebetulan suami istri PNS, istrinya nyambi dengan produksi jilbab instan, dan kakak nyambi jualan buku. Nah, mungkin yang nyambinya agak aneh ya keluarga saya. Nyambi dengan ngajar dan ngisi seminar kesono kemari, ehehe.

Lalu, karena nyambi-nyambi begitu, jadi melimpah ruahkah harta kami? Tidak. Pas-pasan saja, tidak berlebihan, kadang malah kekurangan. Satu hal yang perlu dicatat, nyambi-nyambi itu tiba-tiba jadi kreatif dijalankan dengan berbagai variasinya, justru karena secara matematis gaji PNS itu nggak cukup buat dijembreng sebulan. Jadi, tanpa diminta hidup sederhana, lha memang default nominal gajinya itu hanya cukup untuk hidup (dibawah) sederhana kok. Nih ya saya skrinsot daftar gaji golongan 2 dan 3 (yang umumnya lulusan SMA dan sarjana ada di posisi itu).

gaji PNSTapi, dengan gaji segitu, bukan berarti PNS tidak boleh kaya, kan? Kalau memang ada sambilan lain, apa nggak boleh? Apa PNS hanya wajib bekerja di instansinya saja dan sama sekali tidak boleh mencari peluang sumber penghasilan lain? Emang, wani nggaji piro?

Lalu, kenapa masih bertahan untuk jadi PNS padahal tahu gajinya ya segitu-gitunya? Ada banyak alasan. Antara lain semangat pengabdian. Tawaran untuk pindah ke jalur lain yang menggiurkan secara finansial, kadang datang menggoda. Tapi, kembali ke niat awal, kalau niatnya mengabdi insya Allah yang sedikit itu pun akan berkah. Alasan lainnya, berbakti pada orang tua. Apa pasal? Ya karena bapak ibu kami sangat menginginkan anak-anaknya menjadi PNS, sebagaimana bapak. Dapat memenuhi keinginan itu dengan cara yang wajar dan kualifikasi yang memadai, tentu adalah sebuah kepuasan batin tersendiri. Alasan ketiga, sejak dulu saya mikir: jika kita yang memiliki semangat pengabdian dan ingin menebar kebaikan ini pada malas jadi PNS, terus nanti formasi PNS yang kosong itu justru diisi oleh orang-orang yang bermental korup, tidak semangat bekerja, ‘asal jadi PNS’, apa nggak cilaka tiga belas? Padahal PNS itu aparatur negara. Ibaratnya papan catur, kalau pion-pionnya pada macet, bagaimana akan bekerja?

Jadi, kalau sekarang ini ada himbauan yang terasa lucu-lucu bagi PNS untuk hidup sederhana, ayuk mari duduk bareng lagi. Semestinya esensi tentang kesederhanaan itu yang perlu ditangkap dan diresapi dalam-dalam, bukan tentang teknis bagaimana hidup sederhana yang tentu jadi lucu untuk diterapkan sama dan seragam. Sekali-kali mungkin pak Mentri perlu digaji dengan standar gaji golongan 1, biar menghayati betul betapa sederhananya kehidupan mereka 🙂

Iklan

4 comments on “Kesederhanaan Ala PNS

  1. ismi
    Desember 2, 2014

    kok mirip banget dg klg bsr saya yah Bu,kurang lebihnya yah sama spt yg sdh Ibu paparkan diartikel ini

    • muktiberbagi
      Desember 2, 2014

      Ohya? Mungkin memang crita2 keluarga pns mirip yaa

  2. Presiden Direktur :P
    Desember 2, 2014

    Mungkin dikiranya gaji segitu kita bisa berfoya-foya mbak,,tanpa sambilan,,, Lucu banget,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 2, 2014 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: