berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Gadis Kecil Penjual Bunga

image

Menunggu kakak datang menjemput di Simpang Dago Bandung, aku ketemu dengan dua gadis kecil ini. “Bu beli bunga, Bu” kata salah satunya malu-malu.

Aku sedang tak ingin bunga dan tak terlalu suka bunga. Tapi bertemu anak-anak kecil dan mau jualan di tempat makan ramai begini, itu menarik. Mereka tidak mengemis, juga tidak mengamen, tapi jualan.

Kutanya namanya, yang satu bernama Bella dan satu lagi Raya. Mereka masih kelas 3 SD di SDN Cisitu 1. Saat kutanya mereka apakah apa mamanya masih ada, ternyata masih. Apak mereka ternyata juga penjual bunga di tempat lain, dan mungkin apak lah yang mengajarkan dua anak ini untuk jualan.
“Bunganya bikin sendiri?”
“Nggak. Dari boss”
Segera aku paham bahwa yang dimaksud boss adalah boss apaknya.

Lincah gaya mereka. Tak malu atau canggung. Meski awalnya mereka tak mau difoto. Untuk mencairkan suasana, kutraktir mereka berdua makan es krim cone karena kebetulan di samping kami berbincang ada resto McD.
“Terima kasih Bu” kata mereka malu-malu.

image

Kutanya ranking berapa di kelasnya, Bella menjawab  2, sedang Raya ranking 5. Mereka berbeda kelas meski sama-sama kelas 3. Alhamdulillah, mereka tetap berprestasi meskipun harus berjualan setiap hari.

“Bella punya kakak nggak?”
“Punya, Bu”
“Kakaknya jualan bunga juga?”
“Nggak Bu, kalau kakak saya kadang laundry, kadang jual makanan”
Subhanallah, sungguh keluarga yang ulet dalam mencari penghasilan.

Kutanya dapat berapa biasanya dengan jualan bunga, Bella menjawab, “Kalau lagi rame ya bisa limapuluh ribu. Pas malam minggu biasanya. Tapi kalau hari biasa paling sepuluh ribu”.
Ah, sepuluh ribu? Itu artinya hanya satu tangkai bunga yang laku. Padahal mereka berjualan dari lepas ashar hingga sekitar jam 22 malam. Allahu…

Saya yakin, jikalau ada cukup uang, tentu tak tega mama dan apak mereka meminta mereka untuk ikut berjualan bunga. Anak-anak yang seharusnya masih dapat menikmati cerianya bermain bersama teman dan keluarga, namun karena keterpaksaan kondisi, harus ikut bekerja menambah penghasilan keluarga. Dengan harapan tak muluk-muluk tapi sangat sederhana: agar tetap bisa makan nasi setiap hari. Agar adik bayi yang sedang sakit dapat segera diobati.

Sayang, obrolan kami tak bisa berlangsung lama. Langkah-langkah kecil kaki mereka selalu bergegas berlari, begitu melihat ada pengunjung baru datang ke restoran itu. Tak peduli dengan gerimis yang turun menyapa di sore hari itu. Sigap mereka berlari, menawarkan barangkali ada pengunjung yang tertarik dengan tangkai bunga kering atau buket bunga asli yang mereka bawa.

Sungguh, melihat dua gadis kecil ini, sungguh aku belajar lagi. Tentang upaya menjemput rizki tanpa mengenal lelah.  Karena rezeki sudah tertakar, tak akan pernah tertukar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 22, 2014 by in inspirasi, masa kecil, Neguneg and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: