berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Sungguh Aku Bangga Padamu, Pak

bapak01

Hari ini, 12 November 2104 adalah hari ayah nasional. Tiba-tiba saja berkelebat dalam benakku tentang sosok seorang laki-laki yang kukagumi. Laki-laki tua yang justru kuberikan luka. Pedih rasanya mengingat itu, dan tulisan ini semoga mampu mengobatinya. Tulisan lama, yang kutulis sepekan setelah bapak tiada, dan kurombak ulang seperlunya.

&&&&&———-&&&&&

Terangnya hidup di dunia
Karena sinar kasihmu papa
Biar duka menyelimuti kita
Kau selalu hadirkan bahagia

Apapun keadaanmu
Bagiku kau bagaikan raja
Pelindungku dari semua badai
Siang malam kau hangatkan aku

Bila Tuhan ijinkan aku bicara
Ku bersaksi tak akan pernah menyesal
Punya dia yang terhebat
Hanyalah dia

Bila Tuhan ijinkan aku meminta
Hanya ada satu pintaku yang suci
Ku bernafas hanya untuk dia bahagia
Oh papa
Papa

Lagu berjudul PAPA yang dinyanyikan oleh Kiki, salah satu finalis idola cilik RCTI itu, sungguh membetot-betot hatiku. Terbayang Kiki, dalam kisah hidupnya yang nyata, memiliki seorang ayah bernama Martin, yang wajahnya tak lagi berupa karena kecelakaan luka bakar hebat yang menderanya, waktu kerja. Membaca artikel2 tentang Martin saat berjuang melawan maut, juga melawan rasa tidak diterima, takut kehilangan keluarga yang dicintainya hingga berniat bunuh diri,… sampai perjalanan waktu membuatnya bangga saat anak lelakinya menjadi penyanyi, sungguh membuatku haru.

Ah, ini mengingatkan tentang kisah bapak almarhum. Beliau juga mengalami kecelakaan hebat hingga gegar otak berat dan kaki cacat, tahun 1992, meskipun tak separah Martin. Beliau juga perlu berjuang keras untuk hidupnya, yang tak lagi seperti semula, pasca kecelakaan tersebut. Memori jangka pendeknya banyak yang hilang, hingga hampir setahun sulit bagi orang lain untuk berkomunikasi dengan bapak. Belum lagi rasa tak berguna, sebagai lelaki cacat, yang terbatas geraknya.

Allahu….. meski peristiwa naas itu terjadi hampir 23 tahun lalu, masih terasa bau darah yang anyir di kamar rumah sakit itu, saat aku menjenguknya, dan tak kuasa menahan tangis melihat beliau yang koma, diam membisu tak bersuara. Masih dapat kurasa saat kuraba tangannya yang dingin bersimbah luka. Masih terbayang saat kuusap luka dan darahnya dengan lap basah, meski dia tak juga mampu bersuara, tetap koma. Lalu, haru biru hatiku, saat dia mulai mampu mengigau, maka namaku lah yang disebutnya.

Duhai Bapak, aku tahu, keputusanku waktu itu sangat mengagetkanmu, juga mengecewakanmu. Keputusan yang memang sulit dimengerti, saat bayanganmu tentang masa depanku yang cemerlang sudah berada dalam genggaman tangan.
Siapa orang tua yang tak bangga, anaknya selalu berprestasi sejak kecil dan termasuk berperingkat 10 besar di sekolah kedinasan ternama? Siapa orang tua yang tak berharap besar, kala membayangkan anaknya sudah punya pekerjaan jelas pasca kuliah, bahkan berikatan dinas? Lalu, siapa orang tua yang tak kaget alang-kepalang, saat si anak yang digadang-gadang itu, memutuskan untuk pindah kuliah, yang lebih sesuai dengan panggilan hatinya? Sungguh, saat kau sebut namaku dalam igau-mu, hatiku teriris pilu. Karena, baru sepekan sebelumnya kukabarkan berita yang membuatmu tertunduk lesu. Ya, anak yang kau banggakan ini memilih jalan yang sulit kau pahami 😦

Aku tahu, bagaimana kecewamu, bagaimana sedihmu, hingga kau berkata, “Ibarat memanjat pohon kelapa, kau sudah memanjat tinggi, hampir mencapai puncaknya, dan tinggal memetik buahnya sebentar lagi. Tiba-tiba sekarang kau jatuh dari pohon itu, naak. Kau dari kecil selalu dapat ranking tertinggi. Kuliah juga begitu, saat banyak orang lain untuk diterima saja di sekolah itu sulit sekali.Tapi sekarang….”

Bapaaak, sungguh, ingin kupeluk kedua kakimu, waktu itu. Sendu melingkupi diriku. Tak ada ucapan keras, atau marah dari lisanmu. Dan itu membuatku makin tergugu.
Maafkan aku pak….

Separuh jiwaku tak kuasa membayangkan kekuatiran tentang peristiwa ini akan terjadi. Dan akhirnya itu benar-benar kualami, melihat sendiri kekecewaan teramat sangat dari orang yang kusayang dan hormati. Tapi, separuh jiwaku bertekad aku tak akan lari dari keputusanku sendiri. Maka, saat kau sebut namamu di tengah koma-mu, aku tahu, itulah ekspresi bawah sadarmu, paaak. Kau yang terus memikirkan nasib anakmu ini.
Rabbii, andai ada cara lain untuk membahagiakanmu. Jika saja ada pilihan lain, waktu itu 😦

Bahkan, waktu itu bayangan buruk dan rasa bersalah benar-benar menghantuiku, “Jangan-jangan bapak mengalami kecelakaan karena tak fokus mengendarai motornya, memikirkan masalahku, hingga tak menyadari ada mobil mengebut dari sisi kanannya. Astaghfirulah, ampuni aku ya Rabb. Ini salahku…
Sungguh, rasanya aku tak akan dapat berhenti menyalahkan diri sendiri. Apalagi jika sampai ajal memanggilmu, rasanya seumur-umur aku akan menyalahkan diriku. Ya Rabb, ampuni khilafku…:(

Maka, dalam masa-masa menungguimu yang terus koma berhari-hari, sering aku menyelinap, ke mushola rumah sakit. Pecah tangisku di sana, terbata-bata berdoa, semoga nyawamu diselamatkan-Nya.
Lalu, butuh waktu hampir 3 bulan bagimu dirawat secara intensif di rumah sakit itu, sebelum dinyatakan bisa diteruskan dengan berobat jalan. Telah kuyu dan pias kulihat wajah ibu, yang setia menungguimu.

Bapak, sungguh sejak itu, aku bertekad, akan kuobati luka kecewamu, akan kusembuhkan luka hatimu. Akan kutekuni perjalananku menuntut ilmu, meski bukan di perguruan tinggi idola.

Aku tak punya muka lagi dan sangat malu untuk meminta kiriman uang, seperti sebelumnya. Tidak, aku harus mandiri! Aku akan berusaha keras menghidupi diriku sendiri di belantara ibukota ini, sambil berjanji untuk menyelesaikan kuliahku, dengan biaya sendiri. Akan kutunjukkan bahwa aku tetap mampu berprestasi, meski tak lagi berada di sekolah kedinasan itu.

Tahun demi tahun berlalu. Tibalah saatnya lulus kuliah S1. Sungguh, haru melingkupi diriku lagi, melihat kau dan ibu tersenyum cerah berbangga hati, melihatku mendapat penghargaan dari rektor di gedung semegah JHCC, sebagai wisudawan terbaik, tahun 1997. Menitik air mataku, menyadari bahwa baru 4,5 tahun kemudian, baru dapat sedikit kuhapus luka hatimu. Sedikit, ya, masih sedikit, karena aku masih harus membuktikan banyak hal, padamu, juga pada ibu.

Lalu saat kujalani prosesi wisuda S2-ku, kembali aku terkenang dirimu. Engkau yang pernah dengan nada khawatir bertanya, saat tahu aku akan kuliah S2, “Nduk, apa kamu siap resikonya? Kamu belum menikah. Apa kamu nggak khawatir, nanti laki-laki takut mau ndeketin, kalau sekolahmu terlalu tinggi?” Ya, waktu itu, di usiaku yang 26 tahun akuk belum menikah, sedang teman-teman perempuan ku yang Bapak kenal, rata-rata sudah menikah. Dan tanya itu kujawab dengan santai, “Nggak kuatir lah Pak. Jodoh kan sudah ada taqdirnya. Lagian kalau gara-gara kuliah S2-ku terus jadi mundur, berarti nggak cocok jadi suami saya. Nggak berjiwa besar laki-laki yang model begitu, Pak“. Bapak terdiam dan tak lagi menanggapi. Maka, ijasah S2-ini untukmu Pak, kuhadiri acara wisuda S2 itu dengan suami dan dua putriku. Sayang, ibu tak lagi bersama kita, waktu itu.

Kini, saat aku mulai disibukkan dengan disertasi untuk meraih gelar doktorku, kembali ingatanku melayang padamu. Bapak, aku akan berusaha secepat mungkin lulus, untukmu.

Entahlah, apakah kini, aku sudah dapat menjadi anak kebanggaanmu, seperti dulu sebelum kuambil keputusan mengagetkan itu? Namun, aku sungguh bangga padamu, pak. Seperti Kiki, yang bangga pada papanya, dalam senandung merdunya:

Bila Tuhan ijinkan aku bicara
Ku bersaksi tak akan pernah menyesal
Punya dia yang terhebat
Hanyalah dia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 12, 2014 by in Curahan Hati, inspirasi, masa kecil and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: