berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Berprasangka Baik Padamu, Buk Susi

Kemarin, saya mendapatkan berita yang sangat melegakan hati. Tentang salah satu anggota kabinet kerja yang sedang berusaha menghentikan atau setidaknya mengurangi dulu kebiasaan kurang baiknya. Yess, ibu Susi namanya, yang beberapa waktu lalu sempat saya kirim surat ke beliau, memberikan masukan tentang kebiasaan merokoknya. Surat dari seorang ibu kepada ibu lain, yang saya beri judul: Surat Cinta Buat Ibu Mentriku. Surat yang lalu menuai beragam komentar, dari yang mendukung sampai yang memaki-maki. Untungnya sih jauh lebih banyak yang mendukung. Terbukti dengan banyaknya like dan share yang saya amati di dinding fesbuk saya, waktu surat ini saya tautkan. Jumlah share sampai 885 kali dan likers sebanyak 1131 orang itu bagi saya menunjukkan ‘kesamaan aspirasi’ tentang perlunya memberi masukan secara baik-baik pada beliau, masukan yang disampaikan dengan lembut, dari hati, tidak menghakimi. Sedang komentar yang bejibun jumlahnya di laman fesbuk saya (223 komentar) malah belum bisa dibuat kesimpulan apapun. Karena sebagiannya mendukung, sebagiannya lagi membully, sebagiannya lagi ngalor ngidul nggak jelas. Begitu pun dengan banyaknya jumlah pembaca untuk surat cinta itu di blog aslinya yang dalam waktu 5 hari saja sejak tayang sudah mencapai 76.500-an pembaca, dan menuai komentar 274 kali. Sama sekali tidak menunjukkan bahwa itu dukungan, karena bisa jadi mereka membaca karena ingin mendukung merasa terwakili, bisa juga karena hanya penasaran, bisa juga karena sebel sama saya ngapain bikin surat kayak begitu segala 😀

susi3

Satu hal yang jelas, gara-gara surat ini banyak dibaca orang, tahu-tahu saya masuk sebagai daftar blacklist, eh salah, masuk BOTD, Blog of The Day. Tadinya saya juga ra mudheng blas apa itu BOTD, setelah gugling baru ngerti, dan itu saya ceritakan di blog dengan judul BOTD, Apa Pula Itu. Karunia sekaligus amanah jadinya. Harus lebih berbobot lagi untuk menulis.

Keramaian itu juga terlihat dari komentar yang masuk di blog tersebut. Komentar yang baik-baik banyak sih, tapi yang ngejeplak juga ada. Benar-benar latihan menguji kesabaran deh. Gak pernah-pernahnya dibully sebegininya di blog maupun di fesbuk, eh lha kok ini tiba-tiba ‘panen’. Tapi kata orang tua saya dulu, “Hati boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin”. Jadi ya meskipun hati panas pengin dikipas-kipas, saya mencoba berkomentar dengan datar saja, flat, menjelaskan lagi dan lagi. Ini berbeda dengan komentar-komentar yang ada di fesbuk, yang secara otomatis orang yang pernah komentar akan mendapatkan notifikasi. Nah, biasanya tanpa saya minta pun orang-orang ini (teman-teman saya) bantu menjawab satu-persatu komentar yang ‘nyleneh’, jadi saya tidak keteteran. Akan halnya di blog, yang dapat notif kan cuma saya. Matik akuu, harus sabar menjawab komentar satu-persatu. Sapa suruh nulis surat, yak 😛

Eh rupanya gaya saya mengomentari itu juga ada yang mengamati, sampai salah seorang komentator nulis begini: “Well said.. bagus sekali tulisannya. Dan sabar sekali mbak satu ini menjelaskan poin opininya ke komentar-komentar yang masuk.. Terima kasih kontribusinya untuk Indonesia yang lebih baik mbak
Wes, pokoknya dari postingan surat itu saya belajar banyak hal. Tentang kesabaran, tentang manajemen perbedaan pendapat, dan banyak hal lain.

Nah, kemarin, saya dikejutkan dengan berita gembira di salah satu mass media online, bahwa bu Susi akan mulai menghentikan kebiasaan merokoknya, setidaknya bertahap mengurangi dulu sedikit demi sedikit. Berita itu saya baca di Republika Online. Alhamdulillah…, saya senang banget selesai baca berita itu. Mungkin dengan banyak masukan yang masuk ke beliau, pikiran dan nuraninya terbuka. Jika kita berprasangka baik, memberikan masukan dengan baik (dari berbagai pihak), plus didoakan baik-baik, insya Allah juga akan diterima dengan baik. Apa yang disampaikan dari hati, semoga juga bisa sampai ke hati. Dan, meskipun banyak yang menghujat saya tentang merokoknya beliau, di surat kemarin saya terus-terang berharap lebih, dengan menulis: (tak hanya berhenti merokok di depan umum), sukur-sukur ibu mau berhenti merokok dan minum wine” *halah GR bingits saya ini, emang yakin surat saya dibaca beliau?*
Saya yakin, yang memberi masukan ke beliau cukup banyak. Tentu saya berharap upaya awal dari beliau ini terus berkesinambungan. Keep istiqomah for stop smoking ya, buk susi.

Nah, bagi saya sendiri juga ada pembelajaran lain. Lha wong bu Susinya aja merespon positif gitu lho, lha kok banyak komentar yang mbela sambil ngotot agar beliau apa adanya seperti dulu? Malah membandingkan dengan (mantan) pejabat lain yang berjilbab tapi korup. Halah, mengapa dibandingin segala to? Korupsi itu masalah integritas, merokok (di depan umum) pun juga ‘PR” attitude apalagi seorang pejabat publik. Ada juga yang menanggapi bahwa saya pilih kasih. Kenapa mentri-mentri lain atau anggota DPR yang bermasalah tidak saya surati, agar adil? Teman yang berkomentar begini biasanya malah saya ajak, “Saya kan di sini cuma bikin surat dari ibu untuk ibu. Nah, kalau ada masalah dengan pejabat-pejabat yang lain, ayo kita bagi tugas aja. Kan kita sama-sama warga negara yang peduli. Jadi, mas/mbak bisa pilih deh mau kirim surat ke siapa. Untuk kebaikan bersama. Ayo mbak/mas, saya yakin Anda bisa!”
Nah, biasanya setelah itu, jadi agak beda responnya. Ada yang minta maaf baik-baik, ada juga yang mlipir nggak jawab lagi 😀

Mengamati aneka komentar yang masuk, saya bingung juga. Kenapa banyak orang yang justru ingin “biarkan seperti itu saja” seolah-olah kondisi sebelumnya sudah ideal. Masukan yang dicreate dengan santun pun tetap dianggap ancaman, ikut campur urusan orang, atau menggurui. “Kamu aja belum sempurna”, ada beberapa komentar bernada seperti itu. Iya betul banget, justru karena saya tidak sempurna, dan setiap orang tidak sempurna, maka butuh mekanisme saling menasehati kan ya? Jika pun ada berbagai banyak kelebihan, bukan berarti kekurangannya didiamkan. Kalau bisa diperbaiki melalui masukan orang lain atau self evaluation, kenapa tidak? Tapi tidak semua orang mampu self evaluation. Kita seringkali butuh cermin untuk mengetahui siapa kita sebenarnya, dan cermin itu dipegang oleh orang lain. Memang sih, yang namanya kritik itu, dibungkus sebagus apapun, tetap nggak enak saat awal diterima. Bagus sekali analogi yang disampaikan oleh salah seorang komentar pembaca di blog saya, “Bagiku kritik ibarat sambel. Kalau ditelan mentah-mentah, memang bikin pedes lidah dan bibir, tapi kalo kita bisa cara menikmatinya ya bisa bikin makan jd nikmat. Tetap semangat bu. Terus sampaikan pesan kebenaran dengan kesabaran”.

Jadi ada dua sisi yang harus diperhatikan rupanya ya. Menyampaikan kebenaran dengan kesabaran (dan itu syusyahnya minta ampun ternyatah), dan menerima kritik dengan seni tersendiri. Semoga kita bisa menjalankan keduanya dengan baik 🙂

*lagi dedlen disertasi tapi gatel pengin nulis*

Iklan

5 comments on “Berprasangka Baik Padamu, Buk Susi

  1. budiutomo63
    November 4, 2014

    Reblogged this on buditomdotcom.

  2. Aristo
    November 4, 2014

    Kalo berita di Republika Oline itu benar, saya ikut bersyukur. Kali ini saya kalah berlomba dengan Bu Menteri (gak papa). Insyaallah saya segera menyusul. Minimal sekarang sudah malu ngrokok di depan Bu Muktia farid. Heeehaa

    • muktiberbagi
      November 4, 2014

      Waduh, jangan mau kalah mas. Perlombaan belum selesai, baru dimulai. Garis finishnya belum kelihatan kok. Ayo ayo semangaaat! 😀
      *sambil ngibasin rumbai2 kayak pompom girl*

  3. An Maharani Bluepen
    November 5, 2014

    Alhamdulillah… lanjutkan menulis, ya, Bu.. tetap mencerahkan pembaca 🙂 Saya senang mampir ke sini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 4, 2014 by in inspirasi, Neguneg and tagged , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: