berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Menit yang Melambat

fahrin so soon

“Ibu, nafas adek tinggal satu-satu. Lama-lama bisa berhenti. Kita akan mencoba pernafasan buatan, bagaimana?” tanya dokter meminta persetujuanku.
Aku termangu, tak tahu harus berkata apa.
“Begini Pak, Bu. Jika resusitasi atau pernafasan buatan ini dilakukan, semoga bisa membantu agar adek bisa bernafas lagi. Tapi juga ada resikonya. Kemungkinan besar pita suara adek akan rusak karena ada alat yang harus kami masukkan ke rongga mulutnya”
Refleks kubekap mulutku sendiri. Innalillahi,… kenapa jadi begini? Oalah nduk, suaramu yang ceria, akan hilang begitu saja? Kami masih termangu, sehingga dokter itu betanya lagi, ”Bagaimana, apakah Bapak Ibu setuju?”
Tak ada pilihan lain, semoga resusitasi itu mampu menolong nyawanya. Kami mengangguk lemah, tanpa suara.

Lalu dokter menutup tirai, kami tak lagi diperkenankan melihat dek Fahrin. Tak lama kemudian, kudengar jeritan keras, “Aaaaaa…..”, lalu senyap.
Aku terkesiap. Ingin berlari kembali di balik tirai itu. Pasti alat yang menyakitkan itu sedang dipasangkan di tubuhnya, melalui kerongkongannya. Rabbi.. lindungi dia, lindungi dia…

Adzan maghrib berkumandang. Sambil cemas menunggu apa yang terjadi di balik tirai itu, kubawa langkah kaki menuju masjid rumah sakit, yang kebetulan terletak di belakang IGD. Demikian pula suamiku. Sujudku lama senja itu, sepenuh harap memohon agar Allah memberikan kesempatan pada Fahrin untuk mampu bernafas normal lagi, lalu bermain bersama lagi denganku seperti biasa.

Kembali ke ruang IGD, tirai telah dibuka. Dokter dan timnya berupaya melakukan pernafasan buatan berkali-kali. Menghentak-hentakkan dada Fahrin yang kecil dengan alat yang mirip setrikaan itu, dan nanar kutatap layar monitor. Garis di sana makin datar…. makin datar…..
Komat kamit aku berdoa, sambil menggenggam jemari kecilnya yang makin dingin. Ya Allah… sembuhkanlah.. sembuhkanlah. Hingga dokter itu lalu berkata, “Pak, Bu…. Silahkan kalau mau menalqinkan adek”.

Masya Allah! Apakah sudah tak ada harapan lagi buatmu, nduk?
Tanpa menunggu lebih lama, aku dan suami mendekati tubuh Fahrin yang mungil. Kudekati sisi telinga kirinya, sementara suami mendekati sisi telinga kanannya. Dengan bergetar menahan gemuruh di dada, kuucapkan kalimat tauhid sambil mengusap-usap kepalanya, “Laa ilaaha illal-Lah, Muhammadan Rasuulullah”, berulang-ulang.

Beberapa saat kemudian, dokter berkata, “Sudah tak ada reaksi Bu, apakah alat ini akan dicoba lagi?”
“Sekali lagi, Pak”, jawab suamiku pelan.
Aku hanya mampu tertegun, sambil tetap berusaha mentalqinkan kalimat-kalimat tauhid di telinganya. Hingga kulihat dokter menarik alat kecil itu dari dadanya, lalu mengusap wajah Fahrin dari atas ke bawah, sambil berucap lirih, ”Innaliilahi wa inna ilaihi roji’un. Maaf Pak, Bu… adek sudah gak ada”.

Mendadak pandanganku kabur. Tubuhku limbung, yang segera ditopang oleh perawat di sampingku. “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un” ucapku lirih.
Rasanya tak percaya. Bukankah sore tadi dia masih ceria? Bahkan sempat menari riang di atas sofa ruang tengah sambil mengikuti irama sebuah lagu anak-anak dari tivi di depannya? Bukankah dia anak yang berani, hingga saat nafasnya sudah mulai tersengal pun, dia masih terus bercakap-cakap dengan kami di ruang IGD ini?
“Ibu, di sini saja, Ayah juga, Aku takut” katanya, sambil memegang erat tanganku.
“Iya sayang, ibu di sini,” jawabku sambil meraba sekujur kakinya yang mulai dingin. Allahu, apa yang sebenarnya terjadi? Ibu akan selalu mendampingimu, nak….

Salah seorang dokter perempuan, memapahku menuju kursi terdekat, menyilahkan aku duduk. Sambil terus menatap tak percaya tim dokter yang sedang melepaskan berbagai peralatan di tubuh Fahrin, aku mulai menghubungi kakak kandung, dan salah satu teman kantor. Sedang suami kudengar menelpon pak RT, juga adik kandungnya dan salah satu teman kantornya.

Tak ada tangisan, juga air mata. Rasanya masih seperti mimpi. Betulkah Fahrinku sudah tiada? Bukankah kami baru saja bersuka cita piknik sekeluarga ke Yogyakarta, dan kembali ke rumah sore itu? Bukankah tadi menjelang maghrib dia masih biasa saja, bahkan pamit untuk tidur, sebelum kami berinisiatif untuk membawanya ke IGD terdekat karena tiba-tiba dia terbangun dan bibirnya membiru? Masih kuingat ucapannya saat terbangun sore itu, “Ibu, kakiku kenapa? Berat sekali. Aku takuuut”
Aku raba kakinya, memang dingin, kupikir masuk angin. Saat itu, tentu saja aku tak tahu, bahwa itu tanda-tanda ajalnya sudah dekat.

Beberapa tetangga yang mendapat kabar duka langsung datang menyusul, juga teman kantorku yang tinggalnya cukup dekat. Beberapa pertanyaan mereka ajukan, tapi aku hanya memandang dokter itu, berharap dia yang akan memberikan penjelasan. Karena sesungguhnya aku sendiri juga tak tahu, mengapa Fahrin tiba-tiba tiada? Pertanyaan yang sebenarnya juga terus mengusik pikiranku, “mengapaaa?”, tetapi segera kuhalau agar tak jatuh pada penyesalan berkepanjangan.

hurin fahrinI felt so weak and I just couldn’t help asking: “Why?”
But I got through all the pain when I truly accepted

Kulihat suami banyak diam, seperti juga aku. Kami mencoba saling menguatkan hati dengan bergenggaman tangan. Tak ingin bicara apa-apa, karena khawatir jika bicara malah perasaanku justru tak terkendali dan menangis sejadi-jadinya.

Setelah surat kematian dari rumah sakit kami terima, dibantu salah seorang tetangga, kupapah dan kupangku tubuh kecil yang kini kaku itu, memasuki mobil. Bukan mobil ambulance, tapi mobil kami yang sore tadi kami bawa ke sini untuk membawa Fahrin. Tetap disupiri sendiri oleh suamiku, seperti halnya saat berangkat tadi. Ya, dunia memang terasa tiba-tiba gelap, tapi kami harus kuat, … harus kuat.

Di depan rumah, kulihat sudah ada tenda dan banyak kursi. Alhamdulillah, pak RT dan warga sangat sigap setelah mendengar berita duka ini. Salah seorang pembantuku dan beberapa ibu tetangga yang anaknya teman sepermainan Fahrin, menyambutku dan jenazah Fahrin dengan tangisan histeris. Mereka tak menyangka, karena tadi kami berpamitan ke rumah sakit dengan biasa saja.

Jenazah Fahrin segera diurus tetangga dan saudara yang sudah banyak berkumpul selepas isya itu. Aku masuk kamarku, menunaikan sholat isya. Juga memenangkan diri, membasahi sajadah dengan air mata. Ya Rabb… mudahkan aku untuk ikhlas dengan ini semua. Mudahkan hatiku menerima kehilangan ini. Fahrin milikmu ya Rabb, dan aku hanya dititipi,. Tapi 3,5 tahun berjalan, tentu telah tumbuh cinta yang hangat di antara kami. Ampuni aku ya Rabb, jika masih ada air mata yang terus saja mengalir tanpa henti, di sajadah ini.

Keluar dari kamar, salah seorang tetangga yang juga karibku, mendekat, “Saatnya dimandikan, Bu”
“Ya, saya lihat saja ya… ”, jawabku pelan
“Kamu yang harus mandiin, Ning. ini kesempatan terakhirmu untuk memandikan. Nanti nyesel kalau nggak mandiin sendiri. Kamu kuat, insya Allah”, kakak sepupuku, yang dulu juga pernah kehilangan putri kecilnya, menyela.
Bismillah, maka jasad kecil itu perlahan kupangku, kukucurkan pelan-pelan air di sekujur tubuhnya, dan kusabuni. Kususuri rambutnya yang ikal dengan jemariku. Satu-satunya anakku yang berambut ikal. Lalu, kuciumi pipinya, untuk terakhir kalinya.

———-

Kini, tepat empat tahun berlalu. Namun Masha Allah, wangi tubuhnya yang kumandikan malam itu, masih terasa. Semoga memandikannya sendiri dengan tanganku, adalah bagian dari terapi, di saat seperti ini, saat rindu padanya mendesak-desak di dada.


every time I close my eyes I see you in front of me

I still can hear your voice calling out my name
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
you went so soon….

Allahumajma’naa fi jannatik.
Ya Rabb, kumpulkanlah kami (keluarga ini) dalam surgaMu

————-
*appreciate for maher zain with his song ’so soon
Pamulang, 31 Oktober 2014
mengenang senja itu, 31 Oktober 2010

fahrin angel

Dan, ini sedikit kenangan ayng sempat terabadikan, di H-1, hari terakhir saat kami sekeluarga pergi ke Yogyakarta 

Iklan

18 comments on “Menit yang Melambat

  1. Aristo
    Oktober 31, 2014

    Semoga Fahrin memang Allah panggil duluan untuk membukakan pintu surga bagi keluarganya. *Jadi ikut haru setengah ngiri*

  2. muktiberbagi
    Oktober 31, 2014

    amiiiiin. terima kasih doanya mas aristo 🙂

  3. rizka
    Desember 6, 2014

    Setiap membaca kisah kesakitan dan kehilangan anak, nangis membacanya. InsyaALLAH kepergian Fahrin membukakan pintu surga

  4. Rini Pujiastuti
    Desember 29, 2014

    kesedihanku 7x keguguran ternyata lebih ringan dari kehilangan buah hati yg sdh 3,5th. sampe sesek dadaku……..

  5. riana
    Februari 27, 2015

    Al Fatihah… peluuukkk jauh.. anak saya yang sulung sedikit di atas Fahrin umurnya sekarang.. trimakasih banyak karena tulisan ini sudah mengingatkan saya untuk lebih sabar pada anak… untuk terus berusaha jadi orang tua yang baik..

  6. Isnaini S Ibiz
    Agustus 26, 2016

    Dek Fahrin seumuran dengan anak saya yang pertama. Saya baru baca saja sudah nangis duluan, mbak… Ah, saya sampe nggak bisa komen lagi. 😥

  7. inne
    Agustus 26, 2016

    Ya Allah mbak… semoga Fahrin menjadi pembuka pintu surga mbak dan suami… amin.

  8. Ika Agustina Puspitasari
    Agustus 26, 2016

    Terimakasih sudah berbagi kisah ini. Hal ini telah mengingatkan saya untuk lebih bersabar dgn buah hati yg masih bisa saya peluk setiap hari. Semoga kepergian adek fahrin juga menjadi pembuka pintu surga bagi kedua orang tuanya. Aamin.

  9. Izzah Annisa
    Agustus 26, 2016

    Ya Allah, Fahrin…. Allahummaghfirlaha warhamha waafihi wa’fuanha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 30, 2014 by in inspirasi, parenting, pendidikan anak and tagged , , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: