berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Balada Beras Jatah dan Krupuk Berkecap

krupukkecap

Pagi tadi aku menuang kecap kemasan ke dalam wadah plastik. Mendadak ingatanku terbang ke jaman kecil dulu. Hampir tiap pagi kami, enam kakak beradik, sarapan dengan kerupuk dan kecap. Kadang, kerupuk diganti tempe goreng dari dagangan gorengan Mbak Ratmi yang lewat di depan rumah. Jika mbak Ratmi lewat, aku biasanya minta bonus dibelikan limpang limpung (ubi goreng) atau talas ke Bapak.

Sebagai variasi jika bosan berlauk krupuk kecap, kadang ibu memintaku membeli gudeg Mbok Harjo di kampung sebelah, Brengkelan namanya. Tugas itu kulakukan sejak kelas 4 SD. Pagi masih gelap, jalanan masih nggak kelihatan, aku berjalan membawa rantang. Seringkali sampai di rumah Mbok Harjo juga gudegnya belum mateng, Tapi biar mendapat antrian pertama, ya sudahlah kutunggu saja. Rumah biliknya yang gelap, makin gelap dengan penerangan lampu seadanya dan asap tebal dari dua luweng (tungku bata) yang menyala. Asap itu juga membuat udara di sekitar ruangan jadi bules, sering membuat mataku berair menahan perih.

Begitu gudeg sudah dibungkus, aku harus cepat-cepat pulang, karena ada empat kakak dan satu adik yang menanti dengan piring kosong di tangan. Kami semua diharuskan makan sebelum berangkat sekolah, karena perjalanan ke sekolah lumayan bertenaga. Jaman dulu mana ada antar jemput. Aku harus berjalan satu kilo menuju SD-ku. Sedang kakak-kakak yang SMP naik sepeda ke sekolahnya yang berjarak dua kiloan, sementara yang SMA naik angkot karena jaraknya jauh. Angkotnya juga nggak lewat depan rumah, harus berjalan setengah kilo dulu baru ketemu jalan yang dilewati angkot.

Tentang krupuk dan kecap atau gudeg, jangan tanya gizi, lah ya. Kayaknya waktu itu yang kepikir asal perut gak kukuruyuk aja. Alhamdulillah aku bersaudara hingga kini sehat-sehat saja tuh. malah setu legi ‪#‎eh‬.
Jangan tanya juga nasinya enak apa nggak. Nasi waktu itu sedikit pera dan apek, maklum dimasak dari beras IR yang didapat dari pembagian jatah sebagai PNS. Beras jatah ini harganya jatuh di pasaran. Kalau ditukar beras bagus, bakal nggak cukup buat sebulan. Beras kualitas nggak jelas, yang membuat ibuku terpaksa sebelum memasaknya harus napeni (membersihkan beras dengan tampah dari bambu) dulu, karena beras itu banyak kutu dan batu! Kadang, saat aku ada di dekat ibu, aku turut pula diminta menyeleksi batu-batu kecil yang iseng bersembunyi diantara kuningnya (bukan putih) beras.

Kadang, kata ibu, kalau saatnya pembagian raport dan nama-nama kami dipanggil lebih dulu sebagai juara umum, setelahnya sering ada orang tua lain yang bertanya, “Bu, putra-putrane disukani nopo to kok sami pinter-pinter?” (Bu, anak-anaknya diberi makan apa to kok pada pinter-pinter). Ibu bingung menjawab, “Nopo nggih? Namung beras jatah” (Apa ya, cuma beras jatah).
Andai aku berada disitu, mungkin kutambahkan jawaban, “Plus krupuk kalih kecap” 😀

Maka beruntunglah anak-anak sekarang yang tumbuh di keluarga yang mampu memenuhi asupan gizinya dengan baik. Tapi herannya, kok malah kadang pada susah makan ya?

Ini membuatku berpikir, melimpahnya fasilitas memang seringkali membuat kurangnya daya juang. Sedang keprihatinan, mau tak mau membuat orang lebih giat untuk bisa survive. Untuk pendidikan anak jaman sekarang atau untuk kita sendiri, barangkali kita memang perlu sesekali kita merekayasa keprihatinan, agar mampu melejitkan daya juang.

Maka, beberapa hari lalu, sepenggal fragmen percakapan ini sedang mencoba mengaplikasikannya.
“Bu, jamku ilang”, lapor anak yang ada di asrama.
“Oh gitu ya? Ya sudah, kumpulin duit dulu buat beli jam lagi”
“Lho kok gitu?”
“Iya. Maaf ibu nggak akan belikan yang baru. Kecuali kamu mau pakai jam lama yang ada di rumah. Atau kumpulkan uang dulu, sampai kira2 setengahnya, baru ibu genepin. Atau… ya nunggu semesteran, nanti kita lihat prestasimu”

Sebagai ibu, sebetulnya nggak tega, hua huaaa. Tapi, memang kadang kondisi harus dibuat sedemikian rupa, agar anak-anak kita tak merasa, “Apa yang gua mau, pasti dikasih, pasti ada

Berkaca dari masa lalu, kenyang dengan beras jatah dan krupuk bandung hampir tiap hari, membuat hidup jadi lebih hidup ^_^

~berangkat dari keprihatinan, melejitkan daya juang, menggapai mimpi masa depan~

Iklan

6 comments on “Balada Beras Jatah dan Krupuk Berkecap

  1. jampang
    Oktober 17, 2014

    pernah ngerasain makan nasi sama garam dikepel2 gitu.

    cuma lupa… apa karena nggak ada lauk lain atau saya doyan makan menu itu 😀

    • muktiberbagi
      Oktober 17, 2014

      Ohya itu juga enyak. apalagi campurin jlantah bekas nggoreng teri hihihi

  2. ida nur laila
    Oktober 17, 2014

    Duuh malah mbrebes mili terharu. Sama saja kok nasib kita hehe. Dan itulah perjalanan hidup yang mengantarkan kita saat ini.

    • muktiberbagi
      Oktober 17, 2014

      Hehe iya mba ida. Eh bahkan toples biru tempat nyimpan krupuknya masih ada lho sampai skarang. Superawet, tupperware lewat 😀

  3. rei marda
    Januari 13, 2015

    Jenengan ki piawai..uneguneg dadi wacanan
    njupuk beras jatah..budal speda ditumpaki..baline dituntun amarga raiso mbocengi beras..lumayan 3-4km

    • muktiberbagi
      Januari 13, 2015

      Eh niki sinten ya? Pakdhe roeli kah? Kok rei marda namanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 17, 2014 by in inspirasi, keluarga, masa kecil and tagged , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: