berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Mengurai Makna dari Pohon di Halaman Asrama

pohon asrama

Lihatlah pohon itu nak, yang berdiri di tengah halaman asramamu. Tinggi gagah menjulang, tak mudah dihempas angin kencang. Daunnya yang merah hijau tampak cantik, indah dipandang. Rerantingnya yang rindang, menaungi kau dan teman-temanmu dari sengatan matahari yang memayahkan.
Tapi lihatlah nak, di bawahnya banyak sekali daunnya yang kering rontok berjatuhan. Menjadi sampah, namun tak sekedar sampah, karena masih dapat diolah. Menjadi pupuk hijau yang berguna bagi tanaman lain.

Artinya apa, nak?
Untuk mencapai cita-cita yang tinggi dan tampak indah, itu tak mudah. Butuh perjuangan panjang nan berkelanjutan. Pohon itu dulu juga kecil dan ringkih, tapi dia berusaha dengan segala daya untuk tetap hidup, meski kemarau dan hujan silih bergantian. Sendirian, tanpa teman di halaman nan luas ini. Engkau pun mungkin demikian. Merasa jauh dari ayah ibu, tak tahu harus mengadu pada siapa jika rasa hati membiru. Namun, itulah pembelajaran, agar kau kuat dan bertambah kuat, layaknya pohon itu.

Daun pohon itu dulu juga kecil dan jarang. Namun lihatlah sekarang, daunnya lebar, lebat dan indah dipandang. Karena dia terus berjuang nak, tidak mau dikalahkan oleh keadaan. Daunya yang telah kering, gugur berjatuhan. Karena dia tahu nak, bahwa agar disenangi orang lain, kita harus mampu mengikis sikap-sifat negatif yang membuat orang lain tak nyaman. Dan tentu itu tak mudah, sama seperti yang dirasakan pohon itu. Sakit rasanya, andai kita bayangkan, ada bagian dari tubuh kita yang harus kita kikis, kita rapikan. Apalagi harus berkelanjutan. Ah, ibu masih ingat saat kau memotong kuku dan sedikit mengenai dagingmu, kau menangis kesakitan. Tergores sedikit saja tubuh kita, sakit sekali rasanya. Namun, pohon itu dengan sadar mau melakukannya, karena dia tahu jika itu telah dia lakukan, dia akan mendapatkan daun-daun indah yang masih segar dan baru, sebagai gantinya.

Maka, ayah ibu percaya nak, kau juga akan mampu belajar dan menjalani hidup seperti dia. Tak mudah melepaskan hal-hal yang sudah menjadi bagian dari diri kita, selama bertahun-tahun sebelumnya. Di asrama, banyak hal yang mungkin kini lepas dari genggaman: kemudahan fasilitas, keluwesan dalam mengatur jadwal keseharian, kemudahan bertemu ayah bunda dan saudara, keinginan menu makanan yang disuka, …, kini tak selalu ada di sisi. Tapi, yakinlah nak, bahwa ini bagian dari proses belajar yang memang perlu kau alami, agar kelak kau menjadi manusia yang mandiri.

Pun, semoga rela kau melepaskan kemanjaan, egoisme, kemalasan, dan berbagai sifat yang kurang mendukung lainnya. Biarlah ia berguguran, dan kau akan bermetamorfosis menjadi manusia yang menyenangkan, yang kehadirannya dinanti banyak orang.
Jika dalam proses ‘pengguguran daun’ ini terasa pedih, penuh dengan tangisan dalam kesendirian,…bertahanlah nak, bersabarlah. Bayangkan hal yang indah-indah yang akan kau dapatkan, setelah ini.

Lalu, kau lihat kan, nak. Dedaunnya yang gugur pun masih bisa diolah menjadi pupuk hijau, tak hanya menjadi sampah. Begitulah, bahwa apa yang telah dengan segala daya dan pedih terasa harus kau lepaskan perlahan mulai hari-hari ini, takkan pernah ada yang sia-sia nak. Ia akan menjadi kekayaan ilmu, menjadi pembelajaran bagi orang sekitar. Bukankah kita bisa belajar dari banyak hal yang orang lain alami, hatta itu suatu kesalahan? Tidak ada yang sia-sia nak, tidak ada πŸ™‚

Maka, anakku nduk cah ayu… Kini, jika tetiba engkau rindu pada ayah dan ibu, tataplah pohon yang ada di tengah halaman itu. Atau duduklah di bawahnya. Rasakan keteduhannya yang kini mampu memayungimu dari sengatan matahari. Sambil lirih lantunkanlah doa dari lisanmu, agar kita semua dimudahkan menjalani proses belajar yang tiada henti ini.
Dan disini, di saat yang sama, ayah dan ibu juga senantiasa berdoa. Doa yang sama, untukmu ❀

——-
*Asrama Putri Al-Falah SMPIT AS-Syifa Boarding School, Subang. 24 Agustus 2014

Iklan

8 comments on “Mengurai Makna dari Pohon di Halaman Asrama

  1. Ihda Husnayain
    Agustus 27, 2014

    Subhanallah.. tulisan yang keren πŸ™‚ saya jadi ingat kurang lebih 6 tahun lalu ketika prtama kali saya menginjakkan kaki di asrama itu, saya lihat pohon itu dulu hanyalah seperti sebuah ranting rampuh,, semua yang melihatnya mgkin tidak yakin pohon itu masih hidup atau tidak. tapi ternyata, subhanallah sekali, dari yang tidak apa2, menjadi sangat luar biasa, kakak titip pohon itu, semoga selalu dijaga oleh generasi2 sebelumnya. karena kelak pohon itu juga akan menjadi saksi atas kesuksesanmu belajar di sana πŸ™‚ salam semangat.

    • muktiberbagi
      Agustus 27, 2014

      iya. pohon yang menjadi saksi. ihda alumnus asipa? angkatan berapa?

  2. Endah Priyanti
    September 1, 2014

    Subhanalloh. Gerimis membacanya. Karena anak kami, Silmi juga sedang memasuki dunia boarding di SMPIT Asy Syifa tahun ini. Semoga anak2 kita tetap sehat dan semangat menjalaninya dan kelak akan menuai manfaat sebesarnya atas sebab tersebut. Sungguh, karena kami jauh, maka kami sangatlah jarang bisa menjenguk ananda tercintaahhh. Dan ide mbak untuk mengirim surat via email (pada artikel lainnya) menjadi pencerah buat saya. Insya Alloh akan saya lakukan. Makasih ya mbak. Mohon ijin untuk men share artikel ini ke Fb nya saya dan Silmi, Suatu saat dia bisa membacanya.

    • muktiberbagi
      September 1, 2014

      Silakan bunda silmi. Untuk anak2 kita semua πŸ™‚

  3. wpismine
    September 11, 2014

    Waah… seneng deh jalan2 di blog bunda Mukti… banyak ilmu… lalu nglihat foto asrama pi as syifa jadi inget dulu waktu masih ngajar disana πŸ™‚

    • muktiberbagi
      September 11, 2014

      Monggo monggo silakan. Sekarang ngajar dimana?

  4. wpismine
    September 11, 2014

    Ihda husnayain angkatan pertama bunda….. ANGKASA…. angkatan paling luar biasa ! πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 25, 2014 by in parenting and tagged .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: