berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

“Hanya Kecurangan yang Dapat Mengalahkan…” (Tinjauan Pendidikan Anak dalam Islam)

Hanya kecurangan yang bisa mengalahkan kita“.
Kalimat ini cukup santer didengar akhir-akhir ini. Kalimat yang membuat saya mengerungkan dahi, lama sekali.

Saya bukan pengamat politik, hanya seorang ibu dengan 4 anak. Maka saya tidak akan meninjau kalimat itu dari ranah politik, tapi dari sisi pendidikan anak, khususnya penanaman aqidah pada anak. Miris mendengar kalimat seperti ini, karena kata hanya pada kalimat itu adalah kalimah nafi (penidakan) terhadap semua hal, kecuali yang disebut setelahnya (kecurangan). Kalimat semacam ini, jika diucapkan oleh orang Islam, sudah menggelincirkan aqidahnya, jatuh pada syirik. Kalimat yang seolah mengeNOLkan peran Allah sebagai pembuat keputusan bagi seluruh manusia di muka bumi. Jika diucapkan oleh seorang pejabat atau calon pejabat, tentu lebih berbahaya. Yang bersangkutan mestinya harus segera diingatkan, diajak untuk beristighfar dan meralat ucapannya.

Ini memang seolah sepele. Tetapi memang (upaya) penggelinciran aqidah sering dimulai dari hal-hal yang (tampak) sepele. Tengoklah lagu-lagu cinta di sekitar kita: Hanya kamu yang kucintai, Only You in My Mind,… dan banyak lagu lain yang kadang enteng dinyanyikan tapi sebetulnya itu menggerus keimanan. Jujur, saya sendiri, dalam suatu kesempatan pernah bergaya romantis-romantisan mengaplod lagu How do I live without You ke wall fesbuk suami. Beruntung ada sahabat baik yang langsung mengingatkan, “Mbak, kalau kata ustadz, itu sudah mengarah ke penyimpangan aqidah”. Astaghfirullah, buru-buru lagu itu saya delete, dan menyadari kalau syairnya memang berbahaya bagi aqidah saya.

Maka, jika ada kalimat “Hanya dokter A yang bisa mengobati penyakit saya“, “Saya kalau sesak napas sembuhnya cuma sama obat X, yang lain gak mempan“, ini juga ucapan yang tak jauh beda dengan “hanya kecurangan..” di atas. Ucapan yang menggelincirkan aqidah, tanpa disadari banyak orang.

ibu dan anakkkk

Saya lalu teringat embahnya anak-anak, jika akan memberikan obat selalu berkata, “Gusti Allah sing marekke, tapi iki usahane menungso. Obat iki diombe mugia mari kersaning Gusti
(Gusti Allah yang menyembuhkan. Tapi ini usaha manusia, obat ini diminum ya, semoga sembuh dengan izin Allah). Bukan minum obat lalu sembuh, tetapi obat hanya sebatas upaya manusia, dan faktor kesembuhan tetap hak Allah.
Kok ribet banget sih, mesti diucapkan segala? Begitulah pendidikan, sering harus dimulai dari ucapan dalam kehidupan sehari-hari, ditegaskan, diulang-ulang, hingga akhirnya membumi (terinternalisasi) dalam jiwa anak.

Kita tentu juga ingat kisah Umar bin Khattab saat membujuk (dalam rangka menguji), salah seorang anak gembala agar berlaku curang, Umar berkata, “Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu!”.
”Aku hanya seorang budak,” jawab si gembala.
“Kambing itu amat banyak. Apakah majikanmu tahu jumlahnya? Apakah dia suka memeriksa dan menghitungnya?”bujuk Umar lagi.
“Tidak, majikanku tidak tahu berapa ekor jumlah kambingnya. Dia tidak tahu berapa kambing yang mati dan berapa yang lahir. Dia tidak pernah memeriksa dan menghitungnya.”
Umar terus mencoba membujuk, “Kalau begitu jika hilang satu ekor kambing, majikanmu tidak akan tahu. Atau katakan saja nanti pada tuanmu, anak kambing itu dimakan serigala.”
Dengan mantab anak itu berkata, “Fa ainal-Lah?” (lalu dimanakah Allah)”
Mendengar jawaban anak gembala itu, Umar langsung menangis terharu.

Begitulah. Pendidikan anak, terutama tentang penanaman aqidah harus dimulai sejak dini, sehingga akan terbentuk fikroh (pemikiran) yang benar seperti anak gembala itu, yang telah dididik oleh orang tuanya dengan benar. Maka, kembali pada awal tulisan ini, kalimat-kalimat “hanya kecurangan yang dapat mengalahkan kita” mestinya tidak akan diucapkan oleh orang yang memahami aqidah dengan benar, jika dia Islam. Atau, mungkin dia sedang khilaf dan perlu segera diingatkan.

Iklan

6 comments on ““Hanya Kecurangan yang Dapat Mengalahkan…” (Tinjauan Pendidikan Anak dalam Islam)

  1. arreto
    Juli 13, 2014

    Original. Senang bisa membaca tulisan dahsyat macam ini. Semoga nilai kebaikannya tersebar luas. 🙂

    • muktiberbagi
      Juli 14, 2014

      terima kasih. ini hanya refeksi kegelisahan seorang ibu 🙂

  2. Arif Dermawan
    Juli 14, 2014

    Ijin copy untuk share ya mbak semoga berkah terima kasih, Arif D

  3. momtraveler
    Juli 14, 2014

    aku pun mengerutkan dahi cukup lama..bahkan mikir ini maksudnya apa sih? sombong sekali, menggiring opini kita jadi berpikir yg macem2 😦

    • muktiberbagi
      Juli 14, 2014

      iya mak, gimana pola berpikirnya ya? semoga segera menyadari bahwa kalimat seperti itu sangat banyak dampak negatifnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 12, 2014 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: