berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Saling Berkaca, Merajut Tali Samarada

Gambar

“Sudah khatam belum, selama umrah ini? Ayah sudah hampir khatam” tanyanya setelah lima hari kami berada di Madinah, beranjak ke Makkah. Pertanyaan itu mengagetkanku. Pertanyaan dari suamiku sendiri.
“Lho, ada target mau khataman ya selama di sini? Duh, kadung cuma nargetin tilawah lebih dari biasa aja, asal tidak cuma satu juz per hari”, jawabku agak menyesal.
Lalu, saat di Mekkah, kulihat hari-harinya hanya diisi tilawah dan tilawah. Di masjid, maupun di kamarnya. Aku mencoba mengejarnya, tetapi rasanya sudah terlalu jauh tertinggal di belakang.

Hingga saat kami akan pulang menuju tanah air, mengalir cerita dari lisannya dengan wajah gembira, “Alhamdulillah, bisa 1,5 kali khatam lah”. Saya senang sekaligus sedih mendengarnya. Senang karena suami bisa khatam, sedih karena saya masih jauh dari khatam.

Lalu, saya mencoba menarik garis ke belakang. Suami saya, memang ‘berbeda kutub’ dengan saya. Dia tampak selalu tenang, di hampir setiap keadaan (bahkan hingga saat nyaris ketinggalan pesawat sewaktu akan umrah pun, tetap tenang). Berbeda sekali dengan saya, yang (kata orang) tampak ‘tak betah diam, banyak kegiatan’, dan (kelihatan) selalu bersemangat. Namun, saya sendiri menyaksikan, dalam ketenangannya:

  • Dia lebih rajin qiyamul lail daripada saya
  • Dia lebih rajin puasa sunnah, daripada saya
  • Dan jangan-jangan, meskipun dia tak ikut grup ODOJ, tilawahnya lebih banyak dari saya. Karena yang saya tahu, untuk target tilawah 1 juz per hari, itu tak pernah ia langgar. Ataupun jika karena terlanggar, segera dibayar. Mungkin malah lebih dari itu, tak sekedar tilawah 1 juz per hari seperti saya. Saya curiga.

Sungguh, saya banyak belajar padanya. Bahwa komitmen terhadap target-target yang tercanang, tak cukup dengan muka penuh semangat, tetapi memang harus dijalankan. Tak harus dengan lisan yang gegap gempita dan resolusi panjang; namun mampu bekerja dengan sepenuh komitmen, meski dalam diam.

Meski saya akui, untuk hal-hal tertentu, dia juga sering menyerahkan kepercayaan pada saya. Mengecek hafalan Quran anak-anak misalnya, maka dia akan berkata, “Ke ibu saja, hafalannya lebih banyak”. Atau untuk membimbing anak-anak tentang materi sejarah, bahasa, PPKN,… anak-anak biasanya diarahkan ke saya. Dalam konteks ini, saya cukup berlega hati. Karena memiliki suami yang mampu menghargai kelebihan istri, tanpa merasa terpecundangi. Pun, saya juga sangat menghargai berbagai kelebihannya, termasuk tentang ‘komitmen dalam diam’ nya itu. Dan tentu masih banyak lagi kelebihannya yang lain.

Dinamika saling menghargai dan mengapresiasi kelebihan pasangan semacam ini, semoga menjadi jalan untuk rekatnya keluarga yang samarada. Tak hanya berakhir sampai maut memisahkan, tetapi hingga dikumpulkan lagi di jannah-Nya. Semoga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 31, 2014 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: